Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Survei FTSE Russell: Risiko Iklim Jadi Kekhawatiran Mayoritas Investor

Kompas.com, 5 Desember 2025, 20:28 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - FTSE Russell, salah satu penyedia indeks global terkemuka merilis laporan tahunan ke delapan mereka yang merangkum pandangan dan tren investasi dari 415 manajer dana besar di seluruh dunia.

Survei tersebut menemukan bahwa 73 persen pemilik aset telah memasukkan keberlanjutan ke dalam pertimbangan investasi, sebuah tingkat yang tetap stabil sejak 2023.

Namun, jumlah pemilik aset yang khawatir tentang risiko iklim telah meningkat secara signifikan.

Pada tahun 2023, sebanyak 50 persen pemilik aset memandang risiko iklim sebagai "perhatian utama". Sementara saat ini, angka tersebut telah meningkat menjadi 85 persen.

Survei tersebut juga menemukan bahwa lebih dari separuh pemilik aset memprioritaskan investasi berkelanjutan untuk meningkatkan kinerja keuangan dan pendekatan terhadap manajemen risiko.

Baca juga: Survei Morgan Stanley: 80 Persen Investor Siap Tambah Alokasi Investasi Berkelanjutan

“Komitmen pemilik aset global untuk mengintegrasikan pertimbangan keberlanjutan tetap stabil. Tapi, di tengah tantangan geopolitik, kekhawatiran investor terkait iklim dan risiko keberlanjutan yang lebih luas terus meningkat, dan fokus pada kinerja keuangan tetap menjadi prioritas utama," kata Kepala Global Berkelanjutan FTSE Russell, Stephanie Maier, dikutip dari Edie, Kamis (4/12/2025).

Penelitian juga menunjukkan banyak manajer aset yang tetap berpegang pada kegiatan yang berfokus pada keberlanjutan, terlepas dari manajer aset AS yang meninggalkan ambisi dan koalisi ESG.

Tahun ini misalnya, sebuah koalisi yang terdiri dari 26 investor yang mewakili 1,2 triliun poundsterling merilis sumber daya pengelolaan iklim untuk industri manajemen aset dan mendorong rekan-rekan untuk mengadopsinya.

Selain itu, Sustainable Investment Survey dari Isio yang meninjau lebih dari 140 dana dari sekitar 65 manajer aset di Inggris, menemukan bahwa meskipun investasi berkelanjutan tetap menjadi prioritas, pendekatannya sedang berubah.

Hampir semua manajer yang disurvei (97 persen) memiliki kebijakan ESG formal dan tim keberlanjutan khusus namun tingkat komitmen di tingkat dana menjadi lebih bervariasi.

Lebih lanjut, kendati masih menunjukkan fokus pada keberlanjutan, ada pula beberapa kemunduran yang signifikan.

Baca juga: Startup Biodiversitas Tarik Investor Beragam, Namun Raih Modal Kecil

Inisiatif Net Zero Asset Managers (NZAM) menangguhkan kegiatan-kegiatan utama sebelumnya setelah beberapa perusahaan besar, termasuk BlackRock, keluar.

Jumlah penandatangan turun dari 63 persen pada tahun 2024 menjadi 57 persen pada tahun 2025. Baru-baru ini, NZAM menyatakan akan mengizinkan anggotanya untuk menetapkan target nol bersih setelah tahun 2050 jika mereka menganggapnya perlu dalam lanskap global yang terus berkembang.

Lebih banyak pula upaya yang perlu dilakukan untuk mengalihkan investasi dari bahan bakar fosil.

Pada bulan Desember 2024, penelitian mengungkapkan bahwa 25 manajer aset terbesar di Eropa dan AS telah menginvestasikan lebih dari 7,3 miliar dolar AS dalam obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan yang mengembangkan proyek bahan bakar fosil antara Januari 2023 dan Juni 2024.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau