Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

NTTI Pasang Pembatas, Selamatkan Laut Bunaken dari Sampah Plastik

Kompas.com, 19 Juni 2024, 13:00 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - No-Trash Triangle Initiative (NTTI) meluncurkan proyek No Trash River yang bertujuan untuk memasang 20 pembatas di seluruh Manado, Sulawesi Utara, guna mengurangi jumlah sampah plastik yang masuk ke Taman Nasional Laut Bunaken.

Proyek ini dimulai berkat pendanaan dari 3RProMar, yang dilaksanakan oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH atas nama Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan Federal Jerman (BMZ), dalam kemitraan dengan Sekretariat ASEAN.

NTTI meluncurkan proyek ini melalui pemasangan satu pembatas di muara sungai Sario. Desain pembatas ini terinspirasi oleh Plastic Fischer dan akan menghentikan aliran plastik dan memaksanya berkumpul di satu tempat.

Baca juga: Banyak Perusahaan Belum Susun Peta Jalan Pengurangan Sampah

NTTI kemudian melakukan pengumpulan sampah secara teratur, memprosesnya dengan benar dan lebih dari 20 persen kemungkinan dapat didaur ulang.

Polusi plastik di sungai adalah masalah global, dengan diperkirakan 5,8 juta ton plastik berakhir di sungai setiap tahun.

Studi menunjukkan bahwa sungai-sungai kecil di perkotaan merupakan sungai yang paling tercemar. Sungai-sungai yang mengalir melalui Manado langsung masuk ke Taman Nasional Bunaken.

Polusi plastik ini membahayakan ekosistem serta kesehatan dan mata pencaharian masyarakat. Dan proyek No Trash River dianggap sangat penting dalam melindungi lingkungan laut dari ancaman ini.

Untuk mengatasinya, NTTI akan mengambil pendekatan holistik, bekerja tidak hanya untuk menghentikan aliran plastik di sungai, tetapi menggandeng komunitas lokal, sekolah, dan melibatkan pemuda serta perwakilan masyarakat untuk bersama-sama membentuk River Gang.

Kelompok ini akan bekerja dengan teman dan keluarga untuk mendidik dan mendorong penjagaan lingkungan.

Baca juga: Sampah Plastik Idul Adha Tahun 2024 Diperkirakan Tembus 608 Ton

NTTI menyediakan infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai sehingga masyarakat memiliki fasilitas yang tepat untuk membuang sampah mereka.

Inisiatif ini telah menemukan anggota pertama dari River Gang, dengan merekrut Andre Tingkai, seorang pemuda asal dari daerah Tagulandang yang telah mulai melakukan perubahan dalam penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-harinya.

NTTI telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir dan proyek No-Trash River kemungkinan akan menciptakan lebih banyak lagi lapangan pekerjaan, berkontribusi pada model ekonomi sirkular yang sedang dibentuk oleh yayasan ini.

Saat ini sudah ada tujuh karyawan dari komunitas lokal yang bekerja di solusi pengelolaan sampah.

Dukungan dari asosiasi, dan bisnis lokal telah memungkinkan pertumbuhan ini dan juga akan menjadi dasar saat proyek No-Trash River berkembang dan tumbuh.

Inisiatif ini memiliki rencana ambisius untuk memperluas proyek dan berencana untuk memasang beberapa pembatas di sungai-sungai di seluruh Manado.

Gabungan pembatas ini akan mencegah 250 ton sampah masuk ke laut setiap tahun, membuat perbedaan besar pada lingkungan lokal.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
 Prabowo: Krisis Global Buka Peluang Percepat Pengembangan EBT Nasional
Prabowo: Krisis Global Buka Peluang Percepat Pengembangan EBT Nasional
Pemerintah
Pertamina Raih 14 PROPER Emas dan 108 Hijau, KLH Soroti Peran Inovasi Lingkungan
Pertamina Raih 14 PROPER Emas dan 108 Hijau, KLH Soroti Peran Inovasi Lingkungan
BUMN
Estonia Tawarkan Kolaborasi untuk Transisi Hijau dengan Indonesia
Estonia Tawarkan Kolaborasi untuk Transisi Hijau dengan Indonesia
Pemerintah
Prabowo Bahas Percepatan Energi Terbarukan di Tengah Gejolak Timur Tengah
Prabowo Bahas Percepatan Energi Terbarukan di Tengah Gejolak Timur Tengah
Pemerintah
Belajar dari Rwanda, Konservasi Gorila Kini Jadi Sumber Devisa
Belajar dari Rwanda, Konservasi Gorila Kini Jadi Sumber Devisa
Pemerintah
WWF Usulkan Transformasi Pembiayaan Hutan Indonesia untuk Keberlanjutan
WWF Usulkan Transformasi Pembiayaan Hutan Indonesia untuk Keberlanjutan
Pemerintah
Tekanan Rantai Pasok Global Belum Mereda, Industri Didorong Bangun Ketahanan Sistem
Tekanan Rantai Pasok Global Belum Mereda, Industri Didorong Bangun Ketahanan Sistem
Swasta
Biofoam Bonggol Jagung, Cara Siswa SMAN 1 Blora Atasi Dominasi Styrofoam
Biofoam Bonggol Jagung, Cara Siswa SMAN 1 Blora Atasi Dominasi Styrofoam
Swasta
Kesenjangan Gaji Berdasarkan Gender Makin Lebar pada Tahun 2026
Kesenjangan Gaji Berdasarkan Gender Makin Lebar pada Tahun 2026
LSM/Figur
Rekor Global 2025, Kapasitas Energi Terbarukan Tumbuh 692 GW
Rekor Global 2025, Kapasitas Energi Terbarukan Tumbuh 692 GW
Pemerintah
Kompetisi Climate Impact Innovations Challenge Dibuka, Hadiahnya Capai Rp 15 miliar
Kompetisi Climate Impact Innovations Challenge Dibuka, Hadiahnya Capai Rp 15 miliar
Swasta
Awasi Perusahaan Tambang di 14 Provinsi, KLH Tak Segan Bekukan Izin Lingkungan
Awasi Perusahaan Tambang di 14 Provinsi, KLH Tak Segan Bekukan Izin Lingkungan
Pemerintah
Fellowship Tanoto Foundation Dibuka, Bisa Dapat Pelatihan hingga Uang Saku
Fellowship Tanoto Foundation Dibuka, Bisa Dapat Pelatihan hingga Uang Saku
LSM/Figur
GASP Nilai Kebijakan Uni Eropa soal Sawit Tak Selesaikan Masalah Deforestasi
GASP Nilai Kebijakan Uni Eropa soal Sawit Tak Selesaikan Masalah Deforestasi
LSM/Figur
Program Bioetanol Berisiko Bebani Keuangan Negara dan Ancam Ketahanan Pangan
Program Bioetanol Berisiko Bebani Keuangan Negara dan Ancam Ketahanan Pangan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau