Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peluang Berhasil Kecil, Hati-hati Buka Lahan Baru untuk Food Estate

Kompas.com, 16 Januari 2025, 17:30 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Food Estate atau Lumbung Pangan yang dicanangkan pemerintah dinilai memiliki tingkat keberhasilan kecil.

Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori menjelaskan, konsep Food Estate telah ada sejak ada sejak lama dan sejarahnya selalu bermasalah.

Pemerintah Orde Baru memiliki program serupa bernama "Lahan Sejuta Hektar" yang dilakukan dengan membuka 1 juta hektar lahan gambut di Kalimantan Tengah.

Pada era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, ada Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFFE) yang pada 2010 ditargetkan membuka 1,2 juta hektar di Merauke, Papua.

"Presiden Jokowi juga melanjutkan di Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur dan lain-lain. Tetapi, semua itu belum ada yang disebut berhasil," terang Khudori.

"Tingkat keberhasilannya kecil. Kenapa, karena Food Estate belum direncanakan dan dilakukan dengan benar," jelasnya saat dihubungi Kompas.com, Kamis (16/1/2025).

Sementara dampaknya untuk pangan belum terasa, dampak lingkungannya justru langsung bisa dituai.

Khudori menyatakan, program tersebut merusak lahan, menyebabkan satwa kehilangan hutan hingga memicu bencana alam. 

Baca juga: Food Estate dan Orang Asli Papua

"Hewan besar dan renik yang semula memiliki tempat hidup di hutan, kehilangan rumah atau tempat hidup. Ketika hutan tidak ada, mereka bisa masuk ke ladang, persawahan, bahkan ke kampung," ungkap Khudori.

Masalah lain yang ditimbulkan yakni menyebarnya hama atau penyebaran penyakit dari hutan. Keseimbangan lingkungan akhirnya ikut terdampak.

"Hutan yang biasanya menjadi penangkap air kala hujan, kini mengalir jadi limpasan permukaan. Banjir, longsor adalah dampak berikutnya," tutur dia.

Khudori berpandangan, pembukaan lahan yang sebelumnya telah dilakukan harus menjadi prioritas.

Dia meminta agar pemerintah tak terburu-buru membuka hutan untuk lahan lumbung pangan.

"Membuka lahan baru dari hutan, misalnya, itu mudah. Kerahkan alat-alat berat, pohon bisa ditumbangkan dan lahan jadi terbuka. Tetapi bagaimana membuat lahan pertanian dari lahan bukaan baru itu jadi lahan produktif berkelanjutan tanpa ada masalah hama atau penyakit?" tanya Khudori.

Salah satu proyek food estate terbesar di Indonesia adalah di Kalimantan Tengah, yang direncanakan mencakup sekitar 1,2 juta hektare lahan. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan, terutama beras, jagung, dan kedelai dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Baca juga: Food Estate Berisiko Gagal Jika Tak Perhatikan Sosial Budaya Masyarakat

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
SMKN 3 Tenggarong Dapat Hibah Alat Berat dan Fasilitas K3 dari United Tractors
SMKN 3 Tenggarong Dapat Hibah Alat Berat dan Fasilitas K3 dari United Tractors
Swasta
SPPG Palmerah Punya Greenhouse, Tanam Hidroponik hingga Budidaya Ikan untuk MBG
SPPG Palmerah Punya Greenhouse, Tanam Hidroponik hingga Budidaya Ikan untuk MBG
Pemerintah
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
LSM/Figur
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
LSM/Figur
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
LSM/Figur
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
LSM/Figur
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Pemerintah
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
LSM/Figur
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
LSM/Figur
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas 'Waste to Energy' Danantara
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas "Waste to Energy" Danantara
Pemerintah
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
LSM/Figur
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
LSM/Figur
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau