Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fans Taylor Swift Pilih Piringan Hitam Bebas Plastik untuk Koleksinya

Kompas.com, 19 Februari 2025, 15:14 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Penelitian baru dari Universitas Glasgow di Skotlandia mengungkapkan bahwa penggemar Taylor Swift peduli dengan isu lingkungan.

Itu ditunjukkan dengan bagaimana cara mengoleksi musik artis favorit mereka.

Survei terhadap lebih dari 1000 Swifties--julukan bagi penggemar Taylor Swift menemukan satu dari empat penggemar ternyata bersedia mempertimbangkan piringan hitam dengan material bebas plastik sebagai alternatif piringan hitam tradisional untuk dikoleksi.

Sebagai informasi, penggemar muda (18-24 tahun) lebih tertarik pada mengoleksi piringan hitam terlepas dari kualitas audionya.

Namun, mayoritas piringan hitam diproduksi dari polivinil klorida (PVC), yang secara luas dianggap sebagai salah satu plastik yang paling merusak lingkungan.

Baca juga: Dampak Lingkungan dari Tur Eras Taylor Swift

Mengutip Phys, Rabu (19/2/2025) dalam studi ini, peneliti menanyakan berbagai pertanyaan yang terkait dengan pembelian piringan hitam, kebiasaan mendengarkan, dan sikap terhadap isu lingkungan seperti perubahan iklim.

Tujuannya adalah untuk lebih memahami bagaimana Swifties menilai koleksi piringan hitam dan untuk mengukur potensi minat dalam format kemasan album alternatif rendah plastik.

"Apa yang kami lihat adalah perubahan yang menarik dalam cara penggemar yang lebih muda berinteraksi dengan piringan hitam," ungkap Profesor Matt Brennan, Profesor Musik Populer, yang berkantor di Fakultas Seni & Humaniora Universitas Glasgow.

Temuan survei menunjukkan bahwa bagi banyak penggemar Taylor Swift, khususnya Gen Z yang berusia 18-24 tahun, piringan hitam bukan sekedar pengalaman mendengarkan tetapi lebih pada hubungan nyata dengan artis favorit mereka.

Tak hanya itu saja, satu dari empat penggemar yang ikut serta dalam penelitian mengatakan mereka terbuka dengan gagasan untuk membeli versi album (tanpa piringan hitam) dan hanya berisi sampul dan kode unduhan berukuran 30 cm demi mengurangi bahan plastik. Apalagi jika album ditawarkan dengan harga yang lebih terjangkau.

"Kami tentu tidak melihat album berukuran 30 cm dengan sampul dan kode unduhan sebagai solusi yang cocok untuk semua. Kami juga tahu bahwa musik adalah industri yang relatif rendah emisinya dibandingkan sektor lain," papar Dr. Graeme Hunt, Asosiasi Riset di James Watt School of Engineering, Universitas Glasgow.

Namun, industri musik rekaman dan musik live sering kali bergantung pada sektor serta infrastruktur yang memiliki emisi tinggi untuk menjalankan bisnis.

"Kami ingin melihat dapat mengurangi jejak karbon mereka, termasuk mempercepat transisi ke bahan album yang dapat diperbaharui," kata Hunt.

"Kami juga ingin mengetahui seperti apa masa depan pasca bahan bakar fosil pada industri musik dan peran apa yang dimainkan dalam mendorong dan mempercepat transisi tersebut," tambah Brennan.

Baca juga: Taylor Swift Beli Kredit Karbon untuk Imbangi Emisi CO2 dari Jet Pribadinya

Studi menyurvei 1.093 penggemar Taylor Swift ini dilakukan antara November 2024 dan Januari 2025.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
LSM/Figur
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
LSM/Figur
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
LSM/Figur
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Pemerintah
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Swasta
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Pemerintah
Krisis Iklim Bikin Industri Asuransi Asia Pasifik Cemas
Krisis Iklim Bikin Industri Asuransi Asia Pasifik Cemas
LSM/Figur
Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan
Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan
Swasta
Kapan Musim Kemarau 2026 di Indonesia? Ini Kata BMKG
Kapan Musim Kemarau 2026 di Indonesia? Ini Kata BMKG
Pemerintah
Artefak Bersejarah di Bawah Laut Terancam Krisis Iklim, Warisan Budaya Terancam Lenyap
Artefak Bersejarah di Bawah Laut Terancam Krisis Iklim, Warisan Budaya Terancam Lenyap
LSM/Figur
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
LSM/Figur
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Pemerintah
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Swasta
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah
Perempuan Hanya Punya 64 Persen Hak Hukum Dibanding Laki-laki
Perempuan Hanya Punya 64 Persen Hak Hukum Dibanding Laki-laki
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau