Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 1 Maret 2025, 15:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Mundurnya Amerika Serikat (AS) dari Perjanjian Paris dan upaya Presiden AS Donald Trump melawan arus transisi energi global seharusnya tak membuat Indonesia gamang.

Managing Director Energy Shift Putra Adhiguna mengatakan, peran AS dalam transisi energi global tidak signifikan.

Pasalnya, 80 persen teknologi hijau di dunia bukan disumbang oleh AS. Apa pun kebijakan presiden AS saat ini di dalam negeri, tidak berpengaruh ke dunia internasional.

Baca juga: Jadi Tenaga Baru untuk Transisi Energi, Danantara Harus Dikelola Secara Stabil

Oleh karena itu, Putra menuturkan, dengan ataupun tanpa AS, dunia tetap bergerak ke transisi hijau. Dan Indonesia tak boleh ketinggalan.

"Memang betul mereka (AS) punya banyak pendanaan, tapi pendanaan dari sumber lain pun cukup banyak," kata Putra saat dihubungi Kompas.com, Kamis (27/2/2025).

Dia mengambil contoh di China yang bergerak cepat mengadopsi energi terbarukan, terlepas dari aksi-aksi yang dilakukan AS.

Bahkan, lanjut Putra, negara-negara Timur Tengah yang kaya minyak seperti Uni Emirat Arab (UEA) juga bergerak untuk menggeser investasi mereka ke energi yang lebih hijau.

Baca juga: Danantara Bisa Percepat Transisi Energi dengan Duitnya, Asal...

"Ini menunjukkan bahwa transisi itu tengah terjadi dan pendananya pun tengah bergerak. Jadi Indonesia jangan sampai ketinggalan peluangannya," papar Putra.

Diberitakan sebelumnya, di Inggris, sektor hijau tumbuh tiga kali lipat dari laju ekonomi negara. Sektor tersebut menyediakan lapangan kerja bergaji tinggi dan meningkatkan ketahanan energi.

Menurut analisis dari Confederation of British Industry (CBI), sektor hijau atau emisi nol bersih tumbuh sebesar 10 persen pada 2024 dan menghasilkan 83 miliar poundsterling dalam nilai tambah bruto atau GVA.

Bisnis-bisnis emisi nol bersih mulai dari energi terbarukan hingga keuangan hijau mempekerjakan hampir satu juta pekerja penuh waktu. 

Laporan dari CBI tersebut ditugaskan oleh Unit Intelijen Energi dan Iklim untuk menganalisis pertumbuhan dari berbagai bidang bisnis hijau termasuk energi terbarukan, kendaraan listrik, heat pump, penyimpanan energi, keuangan hijau, serta pengelolaan dan daur ulang limbah.

Baca juga: Menakar Potensi Danantara untuk Dukung Transisi Energi

Rata-rata, pekerja dalam bisnis emisi nol bersih mendapat gaji 43.000 poundsterling atau sekitar Rp 887 juta dalam setahun, lebih tinggi 5.600 poundsterling atau sekitar Rp 115 juta dari rata-rata upah nasional.

Di samping itu, pertumbuhan ekonomi dari binsis hijau berjalan beriringan dengan aksi iklim, sebagaimana dilansir The Guardian, Senin (24/2/2025).

Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves sempat dikritik pada Januari karena menyatakan pertumbuhan ekonomi lebih penting daripada emisi nol bersih.

Akan tetapi, baru-baru ini dia menyatakan, tidak ada yang perlu dikorbankan antara pertumbuhan ekonomi dan emisi nol bersih. 

"Justru sebaliknya. Emisi nol bersih adalah peluang industri abad ke-21," kata Reeves.

Baca juga: Bauran Energi Terbarukan Masih Rendah, ASEAN Perlu Perkuat Transisi

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tingkatkan Produktivitas Lahan, IPB Latih Petani Kuasai Teknik Agroforestri
Tingkatkan Produktivitas Lahan, IPB Latih Petani Kuasai Teknik Agroforestri
Pemerintah
Desa Utak Atik di Serangan Bali Hadirkan Inovasi Lampu Nelayan hingga Teknologi Hijau
Desa Utak Atik di Serangan Bali Hadirkan Inovasi Lampu Nelayan hingga Teknologi Hijau
LSM/Figur
Pasca-Siklon Senyar, Ilmuwan Khawatir Populasi Orangutan Tapanuli Makin Terancam
Pasca-Siklon Senyar, Ilmuwan Khawatir Populasi Orangutan Tapanuli Makin Terancam
Pemerintah
Adaptasi Perubahan Iklim, Studi Temukan Beruang Kutub Kembangkan DNA Unik
Adaptasi Perubahan Iklim, Studi Temukan Beruang Kutub Kembangkan DNA Unik
Pemerintah
Permintaan Meningkat Tajam, PBB Peringatkan Potensi Krisis Air
Permintaan Meningkat Tajam, PBB Peringatkan Potensi Krisis Air
Pemerintah
Bibit Siklon Tropis Terpantau, Hujan Lebat Diprediksi Landa Sejumlah Wilayah
Bibit Siklon Tropis Terpantau, Hujan Lebat Diprediksi Landa Sejumlah Wilayah
Pemerintah
Masyarakat Adat Terdampak Ekspansi Sawit, Sulit Jalankan Tradisi hingga Alami Kekerasan
Masyarakat Adat Terdampak Ekspansi Sawit, Sulit Jalankan Tradisi hingga Alami Kekerasan
LSM/Figur
Limbah Cair Sawit dari RI Diterima sebagai Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan
Limbah Cair Sawit dari RI Diterima sebagai Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan
LSM/Figur
BRIN Catat Level Keasaman Laut Paparan Sunda 2 Kali Lebih Cepat
BRIN Catat Level Keasaman Laut Paparan Sunda 2 Kali Lebih Cepat
Pemerintah
Belajar dari Sulawesi Tengah, Membaca Peran Perempuan Ketika Bencana Menguji
Belajar dari Sulawesi Tengah, Membaca Peran Perempuan Ketika Bencana Menguji
LSM/Figur
ILO Dorong Literasi Keuangan Untuk Perkuat UMKM dan Pekerja Informal Indonesia
ILO Dorong Literasi Keuangan Untuk Perkuat UMKM dan Pekerja Informal Indonesia
Pemerintah
ULM dan Unmul Berkolaborasi Berdayakan Warga Desa Penggalaman lewat Program Kosabangsa
ULM dan Unmul Berkolaborasi Berdayakan Warga Desa Penggalaman lewat Program Kosabangsa
Pemerintah
PLTS 1 MW per Desa Bisa Buka Akses Energi Murah, tapi Berpotensi Terganjal Dana
PLTS 1 MW per Desa Bisa Buka Akses Energi Murah, tapi Berpotensi Terganjal Dana
LSM/Figur
Bulu Babi di Spanyol Terancam Punah akibat Penyakit Misterius
Bulu Babi di Spanyol Terancam Punah akibat Penyakit Misterius
LSM/Figur
Studi Iklim 2024 Direvisi, tapi Prediksi Dampak Ekonomi Global Tetap Parah
Studi Iklim 2024 Direvisi, tapi Prediksi Dampak Ekonomi Global Tetap Parah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau