Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 27 Maret 2025, 14:11 WIB
HTRMN,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

"Awalnya, tetangga-tetangga saya ragu. Namun, ketika panen saya tetap bagus meskipun pakai air lebih sedikit, mereka mulai bertanya-tanya dan akhirnya ikut belajar juga," ceritanya.

Dukungan Pusur Institute

Sekolah Lapang Pertanian dari Pusur Institute dan AQUA Klaten sejatinya lebih dari sekadar wadah bagi para petani untuk belajar teknik pertanian regeneratif dan berkelanjutan. Lewat program ini, mereka juga diajarkan cara-cara menjaga kualitas air. Ini mengingat, air menjadi kunci produktivitas sektor tersebut.

Stakeholders Relation Manager AQUA Klaten sekaligus Pengurus Pusur Institute Rama Zakaria menyampaikan, Sekolah Lapang Pertanian tidak hanya memberikan teori, tetapi juga kesempatan praktik langsung di lapangan.

"Petani tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung mencoba di lahan demonstrasi. Ini membantu mereka melihat sendiri hasil dari teknik pertanian ramah lingkungan," jelasnya.

Baca juga: Aqua Perkuat Sinergi dalam Implementasi Ekonomi Sirkular dan Pemanfaatan Material Daur Ulang

Melalui edukasi ini, banyak petani yang awalnya ragu beralih dari penggunaan pupuk kimia berlebihan ke pupuk organik. Mereka juga mulai menerapkan teknik pengairan yang tepat untuk menjaga kualitas air dan meningkatkan produktivitas lahan.

Selain edukasi langsung kepada petani, Pusur Institute juga menginisiasi skema Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL). Melalui skema ini, masyarakat di hulu yang menjaga lingkungan mendapat insentif dari pengguna air di hilir.

"Masyarakat di hulu yang menjaga lingkungan mendapat reward dari pengguna air di hilir. Ini menciptakan rasa tanggung jawab bersama dan memperkuat hubungan antara masyarakat," kata Rama.

Insentif tersebut tidak hanya berupa uang, tetapi juga bantuan akses air bersih dan kebutuhan pertanian. Tujuannya adalah memberikan motivasi tambahan bagi petani untuk konsisten menerapkan praktik pertanian regeneratif dan turut menjaga kualitas air di Sungai Pusur.

Baca juga: Kotoran Sapi Jadi Energi, Sungai Tak Lagi Tercemari

Rama menambahkan bahwa skema PJL tidak hanya soal insentif ekonomi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan.

"Kami berharap, generasi muda petani bisa melanjutkan praktik-praktik baik ini, sehingga Sungai Pusur tetap lestari," ujarnya.

Program Sekolah Lapang Pertanian menjadi bukti nyata bahwa edukasi yang tepat mampu membawa perubahan signifikan. Pusur Institute dan AQUA Klaten menunjukkan bahwa menjaga kelestarian air bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga swasta tetapi juga tanggung jawab bersama masyarakat.

"Kami ingin memastikan praktik pertanian di wilayah hulu, tengah, dan hilir Sungai Pusur tidak menjadi sumber pencemaran air, tetapi justru menjadi bagian dari solusi konservasi lingkungan," ujar Rama.

Baca juga: Kisah dari Daerah Resapan Air: Berkat Alpukat Martabat Terangkat

Tak sia-sia. Sebab kini, edukasi di Sekolah Lapang Pertanian sukses mengubah pola pikir petani.

"Sekarang, saya tidak hanya bertani untuk hidup tetapi juga memastikan tanah dan air tetap sehat untuk anak cucu saya," ucap Lilik 

 
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
93 Persen Habitat Paus dan Lumba-lumba di Barat Sumatera di Luar Area Lindung
93 Persen Habitat Paus dan Lumba-lumba di Barat Sumatera di Luar Area Lindung
LSM/Figur
Pemakaian Obat Kutu Hewan Bisa Berdampak pada Lingkungan
Pemakaian Obat Kutu Hewan Bisa Berdampak pada Lingkungan
Swasta
Cuaca Makin Ekstrem, Emisi Gas Rumah Kaca Perancis Melambat pada 2025
Cuaca Makin Ekstrem, Emisi Gas Rumah Kaca Perancis Melambat pada 2025
Pemerintah
El Nino dan La Nina Picu Kekeringan dan Banjir Ekstrem Bersamaan
El Nino dan La Nina Picu Kekeringan dan Banjir Ekstrem Bersamaan
LSM/Figur
Ilmuwan Usulkan Tenggelamkan Pohon di Samudera Arktik untuk Serap Karbon
Ilmuwan Usulkan Tenggelamkan Pohon di Samudera Arktik untuk Serap Karbon
LSM/Figur
KKP Perketat Pengawasan 25 Spesies Ikan dan Penyu, Cegah Penyelundupan
KKP Perketat Pengawasan 25 Spesies Ikan dan Penyu, Cegah Penyelundupan
Pemerintah
CDP Umumkan 877 Perusahaan Raih Skor A Tahun 2025, Kinerja Lingkungan Meningkat
CDP Umumkan 877 Perusahaan Raih Skor A Tahun 2025, Kinerja Lingkungan Meningkat
Swasta
Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya
Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya
Pemerintah
Survei Ungkap Pasar Karbon Sukarela Diprediksi Tumbuh Pesat
Survei Ungkap Pasar Karbon Sukarela Diprediksi Tumbuh Pesat
Swasta
Pengelolaan Sampah di Indonesia Buruk, Wamendagri Ingatkan Ancaman Kesehatan dan Krisis Iklim
Pengelolaan Sampah di Indonesia Buruk, Wamendagri Ingatkan Ancaman Kesehatan dan Krisis Iklim
Pemerintah
99 Ton Ikan Salem Ilegal Gagal Masuk Indonesia, Kerugiannya Bisa Capai Rp 4,8 Miliar
99 Ton Ikan Salem Ilegal Gagal Masuk Indonesia, Kerugiannya Bisa Capai Rp 4,8 Miliar
Pemerintah
Darurat Sampah, Pemkot Tangsel Salahkan Pedagang Kaki Lima
Darurat Sampah, Pemkot Tangsel Salahkan Pedagang Kaki Lima
Pemerintah
Sri Mulyani Masuk Dewan Gates Foundation Milik Bill Gates, Ini Jejaknya di Indonesia
Sri Mulyani Masuk Dewan Gates Foundation Milik Bill Gates, Ini Jejaknya di Indonesia
Pemerintah
Sekjen PBB: Investasi Energi Bersih Global tembus 2,2 Triliun Dollar AS
Sekjen PBB: Investasi Energi Bersih Global tembus 2,2 Triliun Dollar AS
Pemerintah
Kemandirian BUMN Jadi Fondasi Strategis Menuju ESG dan Negara Kesejahteraan
Kemandirian BUMN Jadi Fondasi Strategis Menuju ESG dan Negara Kesejahteraan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau