Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WHO: Panas Ekstrem akibat Perubahan Iklim Bikin Pekerja Stres

Kompas.com, 22 Agustus 2025, 23:16 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengungkapkan bahwa suhu panas esktrem akibat perubahan iklim memicu peningkatan stres para pekerja.

Seiring dengan terjadinya gelombang panas, makin banyak pekerja khususnya di sektor pertanian, konstruksi, dan perikanan merasakan dampak kesehatan dari kenaikan suhu.

Asisten Direktur Jenderal WHO untuk Promosi Kesehatan Pencegahan Penyakit, Jeremy Farrar, mengatakan peningkatan gelombang panas juga berdampak pada anak-anak, lansia, dan masyarakat berpenghasilan rendah di negara berkembang.

“Tekanan panas telah membahayakan kesehatan dan mata pencaharian miliaran pekerja, terutama di komunitas yang paling rentan,” ungkap Farrar dalam keterangannya, Jumat (22/8/2025).

Baca juga: Gelombang Panas Ekstrem Ungkap Kerentanan Jaringan Listrik di Eropa

WMO mencatat, 2024 menjadi tahun terpanas yang pernah ada. Suhu siang hari di atas 40 derajat celsius bahkan di atas 50 derajat makin sering terjadi. Pihaknya menilai, kondisi tersebut menegaskan perlunya mitigasi dampak tekanan panas terhadap pekerja di seluruh dunia.

"Tekanan panas akibat kerja telah menjadi tantangan sosial global, yang tidak lagi terbatas pada negara-negara yang terletak dekat khatulistiwa seperti yang disorot oleh gelombang panas baru-baru ini di Eropa," jelas Wakil Sekretaris Jenderal WMO, Ko Barrett.

"Perlindungan pekerja dari panas ekstrem bukan hanya keharusan kesehatan, tetapi juga kebutuhan ekonomi," imbuh dia.

Dalam laporan berjudul Perubahan Iklim dan Tekanan Panas di Tempat Kerja, peneliti menemukan produktivitas pekerja turun 2–3 persen untuk setiap suhu di atas 20 derajat celsius.

Risiko kesehatannya mencakup dehidrasi, disfungsi ginjal, dan gangguan neurologis. WHO dan WMO lantas menyusun panduan serta teknis terkait perlindungan jiwa, mengurangi ketimpangan, dan membentuk pekerja yang lebih tangguh.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyatakan, lebih dari 2,4 miliar pekerja terpapar panas berlebih secara global. Akibatnya, lebih dari 22,85 juta orang mengalami cedera setiap tahun.

"Bersama WHO dan WMO, kami menyerukan tindakan segera dan terkoordinasi untuk melindungi kesehatan, keselamatan, dan martabat lebih dari 2,4 miliar pekerja yang terpapar panas berlebih di seluruh dunia," sebut Kepala Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan Kerja ILO, Joaquim Pintado Nunes.

Baca juga: Rekor Iklim 2024, dari Suhu Panas Ekstrem hingga Amukan Badai

Rekomendasi WHO

WHO dan WMO mengusulkan penerapan rencana mengatasi suhu panas di tempat kerja berdasarkan industri dan wilayah. Kedua, mengembangkan kebijakan kesehatan di tempat kerja.

Selain itu, memberi perhatian khusus kepada pekerja paruh baya dan lebih tua, individu dengan kondisi kesehatan kronis, dan mereka yang tidak bugar karena lebih rentan terhadap dampak stres akibat cuaca panas.

Terakhir, meningkatkan kesadaran profesional kesehatan, pengusaha, dan pekerja untuk mengenali serra menangani gejala stres akibat panas dengan tepat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau