Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Desak Produsen Olah Limbah Plastik Sendiri

Kompas.com, 27 Maret 2025, 11:37 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KARAWANG, KOMPAS.com - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), mendesak para produsen mengolah sendiri sampah plastik yang mereka hasilkan.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengatakan hal itu untuk menuntaskan permasalahan pengolahan sampah pada 2029.

Dia mencontohkan, 20 persen sampah di Bali dibuang ke lautan lalu mengalir ke perairan Jawa. Mayoritas sampah tersebut merupakan kemasan mi instan dan gelas plastik.

Baca juga: Tuntuan Ganti Rugi Menanti Produsen yang Tak Tangani Sampah Plastik

"Kami tentu akan mencoba pendekatan pola terbaik prinsipal. Jadi siapapun yang mencemarkan lingkungan termasuk brand-brand itu harus bertanggung jawab. Bentuk tanggung jawabnya bagaimana, nanti ada semacam tuntutan kami," ujar Hanif saat ditemui di Rest Area KM57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Rabu (26/3/2025).

Menurut dia, produsen juga bisa dikenakan sanksi pidana sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang peraturan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

"Jadi sampah-sampah yang kami tangkap kembali itu akan kami mintakan produsennya yang bertanggung jawab. Jadi ini saya tidak main-main, saya akan serius untuk mengurangi itu," ungkap Hanif.

Selain ke lautan, sampah plastik juga dibuang sembarangan ke jalanan bahkan tidak diolah sama sekali di tempat pembuangan akhir (TPA) terbuka atau open dumping.

Oleh sebab itu, pemerintah telah menghentikan semua sistem open dumping di 343 TPA di Indonesia.

"Karena TPA ini benar-benar berkonstribusi menyebabkan penyakit yang mahal sekali kita bayar. Dari air lindinya yang tidak tertangani. Tidak ada satu pun TPA yang open dumping mampu mengelola air lindinya, kemudian vektor penyakit dan mikroplastiknya," jelas Hanif.

Baca juga: Es Teh Jumbo dan Masalah Sampah Plastik di Soloraya

Ia menyampaikan bahwa saat ini presiden meminta penyelesaian masalah sampah dengan kapasitas lebih dari 1.000 ton per hari di berbagai kota besar.

Ada sekitar 34 lokasi di Indonesia yang memiliki potensi untuk mengadopsi teknologi waste to energy, yang bisa mengubah limbah menjadi sumber alternatif energi.

Target tersebut bakal direalisasikan melalui Peraturan Presiden (Perpres) terbaru yang tengah digodok kementerian terkait.

"(Terkait) Perpesnya karena Pak Presiden ingin cepat, kemarin sudah sampai ke Mensetneg. Jadi kita tunggu dulu prosesnya, intinya seperti kami sampaikan presiden secara formal sudah minta kami menyelesaikan (sampah) di 2029," tutur dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemendukbangga: Program MBG Bantu Cegah Stunting pada Anak
Kemendukbangga: Program MBG Bantu Cegah Stunting pada Anak
Pemerintah
Mengapa Anggaran Perlindungan Anak Harus Ditambah? Ini Penjelasannya
Mengapa Anggaran Perlindungan Anak Harus Ditambah? Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Banjir di Sumatera, Kemenhut Beberkan Masifnya Alih Fungsi Lahan
Banjir di Sumatera, Kemenhut Beberkan Masifnya Alih Fungsi Lahan
Pemerintah
Limbah Plastik Diprediksi Capai 280 Juta Metrik Ton Tahun 2040, Apa Dampaknya?
Limbah Plastik Diprediksi Capai 280 Juta Metrik Ton Tahun 2040, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
Koperasi Bisa Jadi Kunci Transisi Energi di Masyarakat
Koperasi Bisa Jadi Kunci Transisi Energi di Masyarakat
LSM/Figur
2025 Termasuk Tahun Paling Panas Sepanjang Sejarah, Mengapa?
2025 Termasuk Tahun Paling Panas Sepanjang Sejarah, Mengapa?
LSM/Figur
Jelajah Mangrove di Pulau Serangan Bali, Terancam Sampah dan Sedimentasi
Jelajah Mangrove di Pulau Serangan Bali, Terancam Sampah dan Sedimentasi
LSM/Figur
Guru Besar IPB Sebut Tak Tepat Kebun Sawit Penyebab Banjir Sumatera
Guru Besar IPB Sebut Tak Tepat Kebun Sawit Penyebab Banjir Sumatera
LSM/Figur
Perkuat Profesionalisme, AIIR Jadi Organisasi Profesi Investor Relations Pertama di Indonesia
Perkuat Profesionalisme, AIIR Jadi Organisasi Profesi Investor Relations Pertama di Indonesia
LSM/Figur
13 Perusahaan Dinilai Picu Banjir Sumatera, Walhi Desak Kemenhut Cabut Izinnya
13 Perusahaan Dinilai Picu Banjir Sumatera, Walhi Desak Kemenhut Cabut Izinnya
LSM/Figur
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
LSM/Figur
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Pemerintah
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
LSM/Figur
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Swasta
Menunda Net Zero Picu Gelombang Panas Ekstrem, Wilayah Dekat Khatulistiwa Paling Terdampak
Menunda Net Zero Picu Gelombang Panas Ekstrem, Wilayah Dekat Khatulistiwa Paling Terdampak
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau