JAKARTA, KOMPAS.com - Center of Economic and Law Studies (Celios) menungkapkan bahwa sektor perikanan Indonesia bakal terkena imbas kebijakan tarif impor yang diputuskan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, mengatakan nilai ekspor sektor perikanan dan kelautan menyumbang 1,2 miliar dolar AS per tahunnya.
“Jadi begitu terkena tarif yang lebih tinggi tentu ini bisa menurunkan juga potensi ekspor ke AS. Jadi memang harus cari diversifikasi pasar ekspor ke negara lain,” ujar Bhima saat dihubungi, Jumat (4/4/2025).
Pemerintah, lanjut dia, bisa mencoba ekspor udabg ataupun ikan ke pasar Timur Tengah dan negara sesama BRICS yakni Brazil, Rusia, India, China, serfa Afrika Satan.
“Itu yang paling potensial untuk produk udang dan perikanan,” imbuh Bhima.
Di sisi lain, ia juga mengusulkan agar udang dan ikan bisa diserap lebih banyak di pasar domestik. Artinya, diperlukan permintaan dan konsumsi yang besar dari masyarakat.
“Sehingga bisa shifting dari ekspor ke domestik. Kedua, biar enggak terlalu berdampak secara berkelanjutan harus punya market intelligence,” kata Bhima.
“Ini tugas KBRI sama atase perdagangan memfasilitasi potensi calon buyer di negara alternatif. Tetapi, kalau ditanya apakah ini akan terdampak dalam jangka pendek iya jawabannya,” tambah dia.
Adapun Amerika Serikat menjadi pasar utama bagi produk perikanan Indonesia dengan nilai ekspor mencapai 1,38 miliar dolar AS atau 32,6 persen dari total ekspor perikanan pada Januari-September 2024.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, ekspor perikanan ke China juga meningkat sebesar 7,8 persen lalu ke negara ASEAN naik 18,7 persen.
Baca juga: Pentingnya Transisi Teknologi EBT di Sektor Perikanan dan Kelautan
Peningkatan terbesar terlihat pada ekspor ke Uni Eropa yang tumbuh 23,3 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebagai informasi, Trump menaikkan tarif impor untuk produk Indonesia hingga 32 persen. Kebijakan ini bagian dari tarif timbal balik atau reciprocal tariff yang diberlakukan bagi negara dengan surplus perdagangan terhadap AS.
"Indonesia menerapkan tarif impor 64 persen terhadap produk AS," demikian pernyataan Gedung Putih dalam data yang diumumkan Trump pada 2 April 2025.
AS berpandangan angka tersebut muncul akibat manipulasi mata uang dan hambatan perdagangan yang diterapkan Indonesia.
Baca juga: Aruna dan KKP Dukung Program Makan Bergizi Gratis lewat Tata Kelola Perikanan Berkelanjutan
Defisit perdagangan AS terhadap Indonesia mencapai 18 miliar dolar AS pada 2024. Data itu menjadi dasar keputusan Trump untuk menaikkan tarif impor produk Indonesia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya