KOMPAS.com - Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) meminta pemerintah dunia untuk tidak hanya memperluas akses makanan di sekolah tetapi juga meningkatkan kualitas gizinya.
Seruan ini dikeluarkan UNESCO setelah laporannya berjudul Education and Nutrition: Learn to Eat Well menemukan bahwa 27 persen makanan sekolah di seluruh dunia tidak disusun oleh ahli gizi, padahal itu sangat penting bagi kesehatan anak-anak.
Selain itu dari 187 negara yang dievaluasi, hanya 93 negara yang memiliki undang-undang atau panduan resmi tentang makanan yang disajikan di sekolah.
Ini berarti, lebih dari setengah negara di dunia tidak memiliki aturan yang jelas soal makanan yang diberikan kepada siswa di sekolah.
Bahkan lebih sedikit lagi negara yang memiliki peraturan khusus untuk makanan yang dijual di kantin dan mesin penjual otomatis di sekolah.
Baca juga: Fasilitas Pengompus Perlu Diperbanyak Guna Tangani Sampah Sisa Makanan
Melansir Down to Earth, Jumat (28/3/2025), laporan tersebut menghubungkan makanan sekolah yang bergizi dengan peningkatan kesehatan dan hasil belajar siswa.
Studi menunjukkan bahwa makanan sekolah meningkatkan angka pendaftaran sebesar 9 persen, kehadiran sebesar 8 persen, dan juga meningkatkan kemampuan belajar.
Namun, kurangnya regulasi terkait makanan sekolah membuat meningkatnya masalah kesehatan di kalangan anak-anak.
Obesitas di kalangan anak-anak usia sekolah telah meningkat lebih dari dua kali lipat di sebagian besar negara sejak tahun 1990.
UNESCO merekomendasikan agar sekolah menggunakan makanan segar yang diproduksi secara lokal.
Ini untuk mendukung petani lokal, meningkatkan kualitas gizi makanan, dan mengurangi jejak karbon dari transportasi makanan.
UNESCO juga menyarankan agar sekolah memasukkan pendidikan tentang makanan dalam kurikulum.
Ini bertujuan untuk mengajarkan siswa tentang pentingnya nutrisi, kebiasaan makan sehat, dan cara membuat pilihan makanan yang baik.
Koki berbintang Michelin, Daniel Humm, yang ditunjuk sebagai Duta Besar Niat Baik UNESCO mengungkapkan betapa pentingnya menciptakan lingkungan makan yang sehat di sekolah-sekolah.
“Sekolah harus menjadi tempat untuk menumbuhkan kebiasaan sehat, bukan merusaknya,” katanya.
Baca juga: Dosen UNS Usul 4 Langkah Tangani Sampah Sisa Makanan dari Program MBG
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya