Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Terumbu Karang yang Mati Suri 3.000 Tahun dan Pulih Kembali

Kompas.com - 03/04/2025, 11:49 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Editor

KOMPAS.com - Terumbu karang memainkan peran yang sangat penting dalam keanekaragaman hayati laut. Terumbu karang juga mendukung siklus karbon laut dan bertindak sebagai penghalang alami terhadap erosi pantai serta gelombang badai.

Meskipun keberadaannya penting, pemahaman kita terhadap bagaimana terumbu karang ini merespons fluktuasi suhu, pergeseran permukaan laut, dan pengaruh manusia masih terbatas.

Terumbu karang di Teluk Eilat sempat terhenti pertumbuhannya selama 3.000 tahun akibat perubahan permukaan laut, tetapi ia bisa pulih kembali. Para ilmuwan memperingatkan bahwa ancaman lingkungan saat ini biasa saja menghambat pemulihan di masa mendatang.

“Memahami bagaimana terumbu karang merespons perubahan permukaan laut di masa lalu membantu kita memprediksi ketahanan terumbu karang di masa depan dan menginformasikan strategi konservasi,” kata Prof. Adi Torfstein dari Universitas Hebrew.

Beliau bersama rekannya Prof. Oren Levy dari Universitas Bar-Ilan, bekerja sama dengan tim peneliti internasional melakukan penelitian ilmiah terhadap pertumbuhan terumbu karang yang ada di Teluk Eilat/Aqaba di Laut Merah utara selama periode Holosen akhir.

Penelitian tersebut mengungkap bahwa terumbu karang di Teluk Eilat mengalami "penghentian" pertumbuhan yang mengejutkan selama 3.000 tahun—dari sekitar 4.400 hingga 1.000 tahun yang lalu—yang kemungkinan besar disebabkan oleh penurunan sementara permukaan laut yang mungkin dipicu oleh pendinginan global.

Baca juga: Resmi, Utang Indonesia ke AS Rp 573 Miliar Ditukar untuk Konservasi Terumbu Karang

Gangguan ini, mencerminkan peristiwa serupa yang diamati di terumbu karang di lepas pantai Meksiko, Brasil, dan Australia, yang juga menunjukkan adanya pergeseran lingkungan yang meluas selama waktu tersebut.

Analisis tambahan terhadap terumbu karang di era modern mengungkapkan perubahan signifikan dalam komposisi isotop karbon, yang mencerminkan meningkatnya pengaruh aktivitas manusia terhadap keseimbangan karbon global.

Meskipun terumbu karang mengalami jeda yang panjang, terumbu karang akhirnya bisa pulih, dengan spesies karang yang tumbuh kembali dari perairan yang lebih dalam. Hal ini merupakan sebuah bukti ketahanan alami mereka yang patut kita berikan apresiasi untuk lebih menjaga mereka ke depannya.

Namun, para peneliti juga memperingatkan bahwa tantangan modern—seperti perubahan iklim, polusi, dan pengasaman laut—menimbulkan risiko yang jauh lebih besar, yang menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan konservasi untuk melindungi ekosistem laut yang penting ini.

Hasil penelitian ilmiah tersebut telah dipublikasikan di jurnal Global Change Biology pada 12 Februari 2025 berjudul “Late Holocene “Turn-Off” of Coral Reef Growth in the Northern Red Sea and Implications for a Sea-Level Fall”

Peneliti berharap, dengan adanya temuan ini, dapat menambah wawasan penting tentang ketahanan historis ekosistem terumbu karang dan bagaimana mereka merespons perubahan lingkungan dari waktu ke waktu.

Dalam penelitian tersebut, tim peneliti yang terdiri dari Dr. Bar Feldman dari Universitas Bar-Ilan, Prof. Aldo Shemesh dari Institut Weizmann, Dr. Yonathan Shaked dari Institut Ilmu Kelautan Antar-Universitas (IUI), Prof. Mick O’Leary dari Universitas Australia Barat, dan Prof. Huang Dunwei dari Universitas Nasional Singapura, melakukan pengambilan sampel inti karang yang ekstensif hingga sepanjang tiga meter.

Sampel-sampel ini memberikan gambaran yang belum pernah ada sebelumnya tentang sejarah pertumbuhan terumbu karang selama 10.000 tahun terakhir.

“Meskipun penelitian kami menunjukkan bahwa komunitas terumbu karang dapat pulih setelah gangguan besar, krisis iklim saat ini menghadirkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang menuntut tindakan segera,” tutur Prof. Torfstein.

“Upaya konservasi untuk mengatasi ancaman modern yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, pengasaman laut, dan gangguan yang disebabkan oleh manusia, harus segera dilakukan,” pungkasnya. (Wawan Setiawan/National Geographic Indonesia)

Baca juga: Kabar Baik, Alor Terima Dana Rp 29 Miliar untuk Konservasi Terumbu Karang

 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau