Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah

Kompas.com, 11 Maret 2026, 15:09 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pola produksi pangan yang dikonsumsi manusia sehari-hari merupakan kontributor utama alih fungsi kawasan hutan jadi lahan pertanian atau deforestasi di Indonesia.

Pola produksi pangan itu disebut menyumbang emisi gas rumah kaca di Indonesia lebih tinggi daripada sektor energi dan manufaktur.

Baca juga:

Dari polemik sistem pangan yang "destruktif", Social Business Indonesia (SOBI) ingin mengembangkan rantai pasok dan pertanian berkelanjutan melalui kemitraan dengan petani.

"Kemitraan ini kami terjemahkan dalam suatu infrastruktur fisik yang kami sebut sebagai Agroforestry Hub, di mana Hub ini menyediakan dukungan kepada petani dalam bentuk suplai bibit, akses kepada financing, habis itu good agriculture practices, market connectivity (konektivitas pasar), dan sistem traceability (ketertelusuran) yang memang dibutuhkan oleh pasar internasional yang sesuai dengan EUDR (European Union Deforestation Regulation) ya," ujar Director Social Business Indonesia, Matt Saragih, dalam media briefing DBS Foundation Grant 2025 di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

SOBI memiliki visi mengubah sistem pangan lama yang destruktif, mengingat cara produksi itu berisiko memperparah krisis iklim, yang pada gilirannya memperburuk bencana hidrometeorologi.

Konektivitas pasar menjadi indikator kesadaran petani dalam memahami pentingnya agroforestri jika ingin mengekspor komoditasnya ke Eropa.

"Jadi, memang kunci ketika kami ingin men-engage agar mereka mau memilih agroforestri atau mau verifikasi, mau beralih ke tata kelola yang jauh lebih baik adalah bahwa kamj harus menyiapkan market connectivity-nya yang bisa mengabsorpsi multi-komoditas yang akan mereka produksi atau yang mereka sudah produksi," tutur Matt.

Baca juga:

Selamatkan lingkungan dan Ciptakan sumber penghidupan

Dapat dana hibah dari DBS Foundation

Pendiri Parongpong Recycle and Waste Lab, Rendy Aditya Wachid (kanan) memperlihatkan produknya ke Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, dalam media briefing DBS Foundation Grant 2025 di Jakarta pada Selasa (10/3/2026).Dok. DBS Foundation Pendiri Parongpong Recycle and Waste Lab, Rendy Aditya Wachid (kanan) memperlihatkan produknya ke Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, dalam media briefing DBS Foundation Grant 2025 di Jakarta pada Selasa (10/3/2026).

SOBI termasuk social enterprise dan bisnis berdampak sosial (BFI) yang menerima DBS Foundation Grant Program 2025. Selain SOBI, ada pula Parongpong RAW Lab.

Parongpong RAW Lab meningkatkan pendapatan nelayan dengan mengolah limbah jaring ikan (ghost net) menjadi bahan bangunan bernilai tinggi dan ramah lingkungan (Prototile).

Pendiri Parongpong Recycle and Waste Lab, Rendy Aditya Wachid mengatakan, perusahaannya berfokus mengelola sampah residu yang tidak laku didaur ulang dan tidak bisa menjadi bahan kompos.

Nasib sampah jenis residu seolah berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) seumur hidup.

Bahkan, penimbunan sampah jenis residu akan menimbulkan berbagai permasalahan sosial lainnya.

Teknologi berbasis thermal yang dikembangkan Parongpong sejak 2019, yang tanpa pembakaran, dapat menyelematkan lingkungan sekaligus menjadi sumber penghidupan.

"Kami bikin produk (Prototile) yang bukan hanya kualitasnya sama secara kekuatan, dia lebih enteng dan 50 persen itu mengurangi karbon. Nah, silakan kalau mau pegang, enggak apa-apa. Yang lebih ringan. Jadi itu dibuat dari sampah masker yang kita kumpulkan waktu COVID," tutur Rendy.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Pemerintah
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
Pemerintah
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
LSM/Figur
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
LSM/Figur
Asia ESG Summit Dorong Akuntabilitas Perusahaan di Dunia Nyata
Asia ESG Summit Dorong Akuntabilitas Perusahaan di Dunia Nyata
Swasta
Menteri LH Baru: Pemerintah Berhutang pada Gen Z
Menteri LH Baru: Pemerintah Berhutang pada Gen Z
Pemerintah
Ada Kesenjangan Kesadaran Hadapi Krisis Iklim antara Laki-laki dan Perempuan
Ada Kesenjangan Kesadaran Hadapi Krisis Iklim antara Laki-laki dan Perempuan
LSM/Figur
Meta Nyalakan Pusat Data di Malam Hari dengan Energi Surya dari Luar Angkasa
Meta Nyalakan Pusat Data di Malam Hari dengan Energi Surya dari Luar Angkasa
Pemerintah
Atasi Tantangan Pembangunan Nasional, PFI Dorong Perkuat Peran Filantropi
Atasi Tantangan Pembangunan Nasional, PFI Dorong Perkuat Peran Filantropi
Pemerintah
Perlu Riset Interdisipliner untuk Temukan Solusi Adaptasi Iklim
Perlu Riset Interdisipliner untuk Temukan Solusi Adaptasi Iklim
LSM/Figur
Peringatan Hari K3 dan May Day, Buruh Soroti Potensi Penyakit akibat Asbes
Peringatan Hari K3 dan May Day, Buruh Soroti Potensi Penyakit akibat Asbes
Swasta
FIF Group Kukuhkan 37 Guru SMK se-Indonesia sebagai Duta Literasi Keuangan
FIF Group Kukuhkan 37 Guru SMK se-Indonesia sebagai Duta Literasi Keuangan
Pemerintah
Teknologi AI-IoT Bantu Mitigasi Banjir Rob di Pantura Jateng, Peran Perempuan Jadi Kunci
Teknologi AI-IoT Bantu Mitigasi Banjir Rob di Pantura Jateng, Peran Perempuan Jadi Kunci
LSM/Figur
Inggris Masukkan Sektor Aviasi dan Maritim ke Anggaran Karbon
Inggris Masukkan Sektor Aviasi dan Maritim ke Anggaran Karbon
Pemerintah
Kisah Petani Tambak Bisa Produksi Garam, Rumput Laut, Air Minum, dan Listrik Sekaligus
Kisah Petani Tambak Bisa Produksi Garam, Rumput Laut, Air Minum, dan Listrik Sekaligus
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau