Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ancaman Nyata, Air Tawar di Seluruh Dunia Makin Menyusut

Kompas.com, 28 Juli 2025, 18:14 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kenaikan suhu yang menyebabkan air menguap telah mendorong manusia untuk mengambil lebih banyak air tanah.

Akibatnya, pasokan air tawar untuk penduduk dunia terancam, dan permukaan laut pun ikut naik dan menciptakan tren pengeringan benua.

Temuan tersebut merupakan hasil studi Jay Famiglietti dari Arizona State University dan rekan-rekannya yang menggunakan pengukuran gravitasi dari satelit untuk memperkirakan perubahan jumlah total massa air yang tersimpan di benua.

Pengukuran tersebut mencakup semua bentuk air tawar, mulai dari sungai dan akuifer bawah tanah hingga gletser dan lapisan es.

Pengukuran kemudian menunjukkan telah terjadi penurunan air tawar yang mengkhawatirkan di banyak belahan dunia antara tahun 2002 hingga 2024.

Baca juga: Seperempat Spesies Air Tawar Terancam Punah karena Kerusakan Lingkungan

Para peneliti, seperti dikutip dari New Scientist, Jumat (25/7/2025) menemukan bahwa wilayah kering tidak hanya semakin kering tetapi juga meluas lebih dari 800.000 kilometer persegi per tahun.

Tim tersebut mengidentifikasi empat wilayah "mega-kekeringan" di mana area-area terpisah yang kehilangan air tawar kini telah terhubung, menciptakan sapuan kekeringan yang luas.

Wilayah-wilayah tersebut termasuk Kanada utara dan Rusia, di mana kehilangan air disebabkan oleh melelehnya gletser, permafrost (tanah beku abadi), dan berkurangnya salju.

Di dua wilayah lain, hilangnya air didominasi oleh penipisan air tanah, terutama akibat pemompaan untuk irigasi. Wilayah-wilayah tersebut adalah Amerika Serikat bagian Barat Daya, sebagian besar Amerika Tengah, dan wilayah yang membentang dari Eropa Barat dan Afrika Utara hingga India utara dan China.

Peneliti juga menemukan bahwa berkurangnya air tanah, yang dapat diperburuk oleh panas dan kekeringan yang mendorong orang untuk memompa lebih banyak, menyumbang 68 persen dari penurunan total penyimpanan air.

Hilangnya air tawar dari daratan ke laut sangat masif, bahkan menjadi pendorong utama kenaikan permukaan laut. Sejak 2015, jumlah air yang hilang dari benua menyebabkan permukaan laut naik lebih tinggi daripada air lelehan dari kutub, yaitu sekitar satu milimeter setiap tahun.

Para peneliti menyimpulkan bahwa semua tren ini yakni daratan yang mengering, pasokan air tawar yang berkurang, dan permukaan laut yang naik memberikan peringatan paling serius tentang dampak perubahan iklim yang pernah ada.

Baca juga: Kabul Terancam Jadi Ibu Kota Modern Pertama yang Kehabisan Air

"Yang baru dan penting dari penelitian ini adalah temuan bahwa kekeringan terjadi secara global, bukan hanya di satu-dua wilayah. Air di Bumi tidak hilang, melainkan berpindah tempat, namun perpindahannya ke arah yang salah, yaitu dari daratan ke laut," kata Manoochehr Shirzaei dari Virginia Polytechnic Institute and State University.

Lebih lanjut Benjamin Cook dari Columbia University di New York menambahkan perlu ada penelitian lebih lanjut yang lebih mendalam. Tujuannya adalah untuk memastikan seberapa besar pengaruh perubahan iklim terhadap penipisan air tanah, dan seberapa besar pengaruh faktor lain seperti pemompaan air tanah yang berlebihan.

"Dengan begitu, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas," katanya.

Studi dipublikasikan di Science Advances.

sumber https://www.newscientist.com/article/2490008-we-are-undergoing-unprecedented-loss-of-freshwater-across-the-planet/

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau