JAKARTA, KOMPAS.com - Global Tiger Day atau Hari Harimau Sedunia diperingati setiap 29 Juli oleh masyarakat dunia sebagai pengingat akan pentingnya konservasi harimau.
Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Abdul Haris Mustari, menilai menjaga populasi harimau bisa dilakukan dengan mempertahankan keaslian ekosistemnya.
Ini termasuk di kawasan konservasi maupun pada habitat aslinya.
"Kedua adalah meningkatkan pengawasan patroli keamanan untuk mencegah perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar dilindungi termasuk harimau," kata Abdul saat dihubungi, Senin (28/7/2025).
Baca juga: Dampak Berlapis Karhutla, Bunuh Harimau dan Hanguskan Habitatnya
Ia pun menegaskan bahwa kerja sama aparat penegak hukum seperti Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, kepolisian, kejaksaan, dan TNI sangatlah penting.
Pasalnya, perburuan liar harimau hingga kini masih terjadi. Vonis hukuman yang ringan justru kerap dianggap sepele oleh para pelaku.
"Saya pikir semua akan mendukung kalau ada pendekatan yang baik, pasti kepolisian dengan TNI sangat-sangat mendukung upaya-upaya seperti itu," jelas Abdul.
"Kalau data mengenai populasi, data habitatnya, penyebarannya sudah lebih dari cukup teman-teman di Program Konservasi Harimau Sumatera, banyak sekali NGO yang terlibat, peneliti-peneliti data lebih dari cukup, tinggal action sebenarnya," imbuh dia.
Dia menyebut, data survei terakhir menunjukkan jumlah harimau di habitat aslinya atau in situ tak lebih dari 350 ekor. Sedangkan di luar habitatnya atau ex situ di dalam maupun luar negeri lebih dari 400 ekor.
Baca juga: Populasi Harimau Turun 10 Persen dari 2008 - 2017, Manusia Ancaman Terbesar
Status harimau termasuk critically endangered atau kritis berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN). Namun, motif ekonomi yang masih berangsur hingga kini memicu terus terjadinya perdagangan spesimen maupun bagian tubuh hewan tersebut.
"Di luar negeri, misalnya, untuk traditional chinese medicine itu kan ke Taiwan, China, Korea, dan sebagainya dengan sugesti tertentu, dianggap memiliki potensi khasiat tertentu padahal belum tentu kebenarannya," ungkap Abdul.
Kondisi itu diperparah dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membunuh harimau secara langsung, memusnahkan habitat, dan sumber makanannya.
Ketua Forum HarimauKita, Iding Achmad Haidir, menyatakan tema Global Tiger Day 2025 di Indonesia adalah Harimau Sumatra, Harimau Indonesia, Harimau Kita: Aksi Nyata Pelestarian Harimau Bersama Masyarakat, Pemerintah, dan Pelaku Usaha.
Tema ini menyerukan tak sekedar isu bio ekologi harimau, upaya konservasi harimau juga wajib menargetkan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Selain kebijakan yang pro lingkungan, partisipasi pelaku usaha penting dikuatkan.
Baca juga: Ahli IPB: Hukum yang Kurang Bertaring Sebab Harimau Sumatera Kian Terdesak
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya