KOMPAS.com - Pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia saat ini seakan lepas kendali.
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengimbau para pemangku kepentingan untuk meninggalkan ego sektoral dan bekerja sesuai kewenangan masing-masing dalam menjaga keanekaragaman hayati.
"Tidak usah kita eker-ekeran (keanekaragaman hayati) ini bidang siapa. Yang perlu kita cermati bagaimana melindungi itu bersama-sama. (Jangan sampai) hutan kawasan, ini di luar kawasan hutan, ini di laut, akhirnya lepas semua dan kita semuanya diam pada saat ekosistem megafauna kita mengalami kepunahan di depan mata kita, padahal kita mempunyai semua instrumen yang bisa memperkuatnya," ucap Hanif dalam acara Peluncuran Status Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia yang disiarkan lewat akun YouTube Bappenas RI, Selasa (19/8/2025).
Ia mencontohkan hutan lindung di Provinsi Riau yang disalahgunakan sebagai lahan kelapa sawit. Hanif menyesalkan, separuh luas daratan provinsi tersebut telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Alih fungsi hutan menjadi kebun sawit di Riau berlangsung tanpa pandang bulu, mulai dari kawasan hutan hingga areal penggunaan lain (APL).
Baca juga: Menteri LH Tegaskan, Fasilitas TPS3R di Daerah Harus Setara Jumlah Sampah
"Apa yang terlintas dalam benak kita saat mendengar Riau? Kita tidak memiliki rencana induk yang jelas, kita tidak memiliki koridor untuk melaksanakan dan melindungi mega fauna yang ada di sana. Padahal, yang jelas di Riau terdapat gajah, harimau, banteng, dan orangutan. Mereka hari ini kesulitan mencari tempat untuk berlindung," ujarnya.
Selain itu, Hanif juga menyoroti minimnya perhatian terhadap konservasi pesut air tawar di Sungai Mahakam yang kini hanya tersisa 62 ekor. Populasi pesut terus menyusut seiring pesatnya aktivitas ekonomi, ditandai dengan ratusan tongkang yang hilir mudik di sungai utama. Akibatnya, pesut terpaksa menyingkir ke anak-anak sungai demi menghindari lalu lintas tongkang di habitatnya.
Menurut Hanif, para pemangku kepentingan masih mengabaikan potensi besar kekayaan keanekaragaman hayati di Indonesia.
"Pesut tadi kita ceritakan, justru yang menjadi tokoh perlindungannya adalah orang-orang dari Amerika yang tinggal di Indonesia. Kita malu, Pak. Tidak ada satupun kemudian yang kita gelisahkan pada saat badak Sumatra yang ada di Kalimantan Timur tinggal dua ekor," tutur Hanif.
Baca juga: Menteri LH Sebut Kebijakan Terkait Lingkungan Tak Bisa Sewenang-wenang
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya