Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Picu Gangguan Tikus di Kota-Kota Besar Dunia

Kompas.com, 25 Agustus 2025, 16:14 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Jakarta, Kompas.com - Rentetan hujan deras yang mengguyur Korea Selatan selama musim panas menyebabkan lebih banyak tikus di jalanan.

Saat saluran pembuangan meluap dan habitat bawah tanah terendam, hewan pengerat telah berpindah ke atas tanah, yang memicu lonjakan keluhan masyarakat.

Kantor distrik di Gangnam dan Gangdong melaporkan bahwa papan publik telah dipenuhi dengan laporan penampakan dan permintaan pembasmian.

Pemerintah setempat meresponnya dengan memasang perangkap tikus berteknologi tinggi dan memperluas patroli disinfeksi untuk mengendalikan infestasi.

Namun, langkah-langkah tersebut hanya mengobati gejalanya, tanpa mengatasi penyebabnya, karena faktor utama pendorong peningkatan populasi hewan pengerat adalah perubahan iklim.

Suhu lebih hangat memungkinkan tikus yang bertahan hidup di musim dingin semakin banyak. Waktu reproduksi tikus dalam setahun bertambah lama. Tikus yang biasanya berhenti berkembang biak saat cuaca dingin, kini bereproduksi lebih sering, bahkan di bulan-bulan saat mereka biasanya tidak aktif.

Musim gugur yang lalu, suhu rata-rata nasional mencapai 16,8 derajat Celsius, 2,7 derajat di atas suhu normal musiman.

“Musim dingin yang lebih hangat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup tikus dan memperpanjang siklus perkembangbiakannya, yang mempercepat pertumbuhan populasi,” ujar profesor kesehatan dan keselamatan lingkungan dari Universitas Eulji, Yang Young-chul, dilansir dari Korea Herald sebagaimana dikutip Senin (25/8/2025).

Pemerintah Kota Seoul telah meminta warga untuk melaporkan ke kantor distrik atau pusat kesehatan jika menemukan tikus, karena peristiwa cuaca ekstrem lebih parah dan banjir perkotaan semakin sering terjadi.

Dilansir dari Korea Times, faktor utama lain yang meningkatkan populasi tikus adalah infrastruktur yang menua. Sebagian besar pipa drainase dan pembuangan limbah Seoul—lebih dari 3.300 kilometer, atau 30 persen, dari jaringan—berusia lebih dari 50 tahun. Sebanyak 55 persen pipa lainnya berusia lebih dari tiga dekade.

Pipa-pipa yang lebih tua dan lebih rapuh ini mudah dirusak oleh tikus, sehingga tikus dapat masuk dan menciptakan koloni besar yang dapat menyebar dengan cepat ke seluruh kota.

Serangan tikus di kota-kota besar lain

Serangan tikus kemungkinan akan menjadi ciri kehidupan kota yang semakin persisten. Pola peningkatan populasi hewan pengerat juga teramati secara global.

Berdasarkan jurnal Science Advances, sebanyak 13 dari 16 kota besar di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Jepang, melaporkan peningkatan populasi hewan pengerat.

Jumlah tikus telah meningkat empat kali lipat di Washington selama dekade terakhir. Peningkatan populasi tikus menjadi permasalahan pelik di lingkungan perkotaan yang padat penduduk karena kekurangan predator alami hewan pengerat ini.

Apalagi, upaya otoritas kesehatan untuk memasang umpan beracun terkadang tertunda atau terhalang kekhawatiran warga, yang semakin mempersulit pengendalian populasi tikus.

Di sisi lain, tikus juga membawa berbagai penyakit seperti demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS) dan leptospirosis.

HFRS yang ditularkan melalui kontak dengan urine atau kotoran tikus, menyebabkan demam tinggi dan gagal ginjal, serta memiliki tingkat kematian hingga 15 persen. Sedangkan Leptospirosis juga dapat menyebabkan demam dan nyeri otot.

HFRS dan Leptospirosis dapat berakibat fatal serta belum tersedia vaksin untuk kedua penyakit ini, sehingga pencegahan sangatlah penting.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
LSM/Figur
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Pemerintah
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Pemerintah
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Pemerintah
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Pemerintah
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
Pemerintah
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Swasta
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau