Jakarta, Kompas.com - Rentetan hujan deras yang mengguyur Korea Selatan selama musim panas menyebabkan lebih banyak tikus di jalanan.
Saat saluran pembuangan meluap dan habitat bawah tanah terendam, hewan pengerat telah berpindah ke atas tanah, yang memicu lonjakan keluhan masyarakat.
Kantor distrik di Gangnam dan Gangdong melaporkan bahwa papan publik telah dipenuhi dengan laporan penampakan dan permintaan pembasmian.
Pemerintah setempat meresponnya dengan memasang perangkap tikus berteknologi tinggi dan memperluas patroli disinfeksi untuk mengendalikan infestasi.
Namun, langkah-langkah tersebut hanya mengobati gejalanya, tanpa mengatasi penyebabnya, karena faktor utama pendorong peningkatan populasi hewan pengerat adalah perubahan iklim.
Suhu lebih hangat memungkinkan tikus yang bertahan hidup di musim dingin semakin banyak. Waktu reproduksi tikus dalam setahun bertambah lama. Tikus yang biasanya berhenti berkembang biak saat cuaca dingin, kini bereproduksi lebih sering, bahkan di bulan-bulan saat mereka biasanya tidak aktif.
Musim gugur yang lalu, suhu rata-rata nasional mencapai 16,8 derajat Celsius, 2,7 derajat di atas suhu normal musiman.
“Musim dingin yang lebih hangat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup tikus dan memperpanjang siklus perkembangbiakannya, yang mempercepat pertumbuhan populasi,” ujar profesor kesehatan dan keselamatan lingkungan dari Universitas Eulji, Yang Young-chul, dilansir dari Korea Herald sebagaimana dikutip Senin (25/8/2025).
Pemerintah Kota Seoul telah meminta warga untuk melaporkan ke kantor distrik atau pusat kesehatan jika menemukan tikus, karena peristiwa cuaca ekstrem lebih parah dan banjir perkotaan semakin sering terjadi.
Dilansir dari Korea Times, faktor utama lain yang meningkatkan populasi tikus adalah infrastruktur yang menua. Sebagian besar pipa drainase dan pembuangan limbah Seoul—lebih dari 3.300 kilometer, atau 30 persen, dari jaringan—berusia lebih dari 50 tahun. Sebanyak 55 persen pipa lainnya berusia lebih dari tiga dekade.
Pipa-pipa yang lebih tua dan lebih rapuh ini mudah dirusak oleh tikus, sehingga tikus dapat masuk dan menciptakan koloni besar yang dapat menyebar dengan cepat ke seluruh kota.
Serangan tikus kemungkinan akan menjadi ciri kehidupan kota yang semakin persisten. Pola peningkatan populasi hewan pengerat juga teramati secara global.
Berdasarkan jurnal Science Advances, sebanyak 13 dari 16 kota besar di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Jepang, melaporkan peningkatan populasi hewan pengerat.
Jumlah tikus telah meningkat empat kali lipat di Washington selama dekade terakhir. Peningkatan populasi tikus menjadi permasalahan pelik di lingkungan perkotaan yang padat penduduk karena kekurangan predator alami hewan pengerat ini.
Apalagi, upaya otoritas kesehatan untuk memasang umpan beracun terkadang tertunda atau terhalang kekhawatiran warga, yang semakin mempersulit pengendalian populasi tikus.
Di sisi lain, tikus juga membawa berbagai penyakit seperti demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS) dan leptospirosis.
HFRS yang ditularkan melalui kontak dengan urine atau kotoran tikus, menyebabkan demam tinggi dan gagal ginjal, serta memiliki tingkat kematian hingga 15 persen. Sedangkan Leptospirosis juga dapat menyebabkan demam dan nyeri otot.
HFRS dan Leptospirosis dapat berakibat fatal serta belum tersedia vaksin untuk kedua penyakit ini, sehingga pencegahan sangatlah penting.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya