Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Akses Listrik di Asia-Pasifik Hampir Merata, tapi Transisi Energi Bersih Terhambat

Kompas.com, 5 September 2025, 21:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kawasan Asia-Pasifik diprediksi akan mencapai akses listrik yang merata pada tahun 2030, sebuah pencapaian besar dalam pembangunan berkelanjutan global.

Namun, Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (ESCAP) memperingatkan bahwa kemajuan pada target energi penting lainnya berjalan sangat lambat.

Menurut Laporan Tren Regional ESCAP tentang Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan, yang diterbitkan pada 3 September 2025, elektrifikasi di kawasan ini memang hampir selesai.

Laporan ini juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan energi terbarukan terlalu lamban, perbaikan efisiensi energi mandek, dan isu penggunaan alat masak bersih masih terabaikan.

Melansir Down to Earth, Rabu (3/9/2025) tingkat elektrifikasi di kawasan Asia Pasifik naik menjadi 98,6 persen pada tahun 2023, menyisakan sekitar 50 juta orang tanpa akses listrik.

Akses di perkotaan bahkan sudah hampir merata, sedangkan cakupan di pedesaan telah mencapai 97,4 persen.

Baca juga: Pemakaian AI Melesat, Pertanian Asia Pasifik Bakal Lebih Adaptif Iklim

Meskipun demikian, laporan tersebut menekankan bahwa jutaan rumah tangga yang sudah terhubung ke jaringan listrik masih mengalami pasokan yang tidak andal, seringnya pemadaman, dan keterbatasan biaya.

Badan PBB itu mengingatkan bahwa indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 7 hanya menghitung sambungan listrik, bukan mengukur ketersediaan, keandalan, atau biayanya.

Kesenjangan ini, menurut laporan, sangat penting untuk memastikan akses listrik benar-benar memberikan manfaat sosial-ekonomi.

Kawasan Asia Pasifik juga telah menjadi pusat global dalam ekspansi energi terbarukan. Kapasitas listrik terbarukan yang terpasang meningkat dari 568 gigawatt (GW) pada tahun 2013 menjadi 1.785 GW pada tahun 2023.

Kapasitas per kapita juga naik tiga kali lipat, dari 151 watt menjadi 451 watt. Sebagian besar pertumbuhan ini didorong oleh penurunan biaya panel surya (PV) dan angin.

Namun, energi terbarukan masih menjadi bagian yang sangat kecil dari keseluruhan bauran energi. Kontribusinya terhadap total pasokan energi di kawasan ini hanya naik sedikit, menjadi 16,3 persen pada 2022, dan energi terbarukan modern hanya mencakup 11,2 persen dari total konsumsi energi akhir.

Laporan juga menyoroti mengenai akses terhadap bahan bakar dan teknologi memasak bersih masih belum memadai.

Meskipun cakupannya telah meningkat dari 38 persen pada tahun 2000 menjadi 78,9 persen pada tahun 2023, hampir satu miliar orang di kawasan ini masih bergantung pada bahan bakar yang berpolusi, seperti biomassa, arang, dan minyak tanah.

Laporan ini menggarisbawahi dampak serius dari kesenjangan ini terhadap kesehatan dan kehidupan sosial.

Polusi udara dalam ruangan yang dihasilkan oleh bahan bakar konvensional menjadi salah satu pemicu utama kematian dini, di mana perempuan dan anak-anak adalah kelompok yang paling terdampak.

Baca juga: Ekonomi 11 Negara Asia-Pasifik Rentan Terdampak Perubahan Iklim, Mana Saja?

Perempuan dan anak perempuan juga terbebani oleh tugas mengumpulkan bahan bakar dan memasak dalam waktu lama dengan kompor yang tidak efisien, hal ini menghambat mereka dalam memperoleh pendidikan dan peluang ekonomi.

Lebih lanjut untuk mengatasi permasalahan ini, ESCAP mendesak pemerintah untuk menciptakan kondisi yang mendukung investasi energi terbarukan dan efisiensi. Caranya adalah melalui kebijakan yang jelas, insentif finansial, dan mobilisasi pendanaan iklim.

Laporan itu juga menyerukan adanya perencanaan energi jangka panjang yang terintegrasi dan selaras dengan target iklim, serta modernisasi jaringan listrik, sistem penyimpanan, dan solusi di luar jaringan.

Laporan tersebut juga menekankan pentingnya menjadikan transisi energi ini adil dan inklusif.

Caranya adalah dengan memastikan perempuan, pemuda, dan kelompok marginal terlibat melalui pelatihan dan kesempatan kepemimpinan. Termasuk juga memprioritaskan kerja sama regional, berbagi pengetahuan, dan juga penyelarasan strategi nasional dengan target iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau