Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pangkas Emisi Karbon, Kemenhut Siapkan 17 Juta Bibit Gratis

Kompas.com, 9 September 2025, 09:11 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menargetkan 17 juta bibit pohon gratis untuk masyarakat dalam rangka memangkas emisi karbon. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyampaikan bibit tersebut bisa didapatkan di semua persemaian milik Kemenhut.

“Kami menargetkan sebanyak 17 juta bibit atau batang pohon akan didistribusikan atau dibagikan secara gratis kepada masyarakat di tahun 2025 ini," kata Raja Juli dalam keterangannya, Senin (8/9/2025).

Hal ini disampaikannya saat membagikan 1.000 bibit tanaman di Persemaian Rumpin, Bogor. Raja Juli menyebutkan bahwa masyarakat bisa mendapatkan bibit gratis di persemaian itu dengan menunjukkan KTP. 

"Bibit-bibit ini gratis. Setiap orang dengan modal membawa KTP dapat memperoleh maksimal 25 bibit pohon," tutur dia.

Baca juga: Industri Semen Tekan Emisi 21 Persen, Bidik Semen Hijau Nol Karbon 2050

Persemaian Rumpin bertujuan memulihkan lahan kritis sekaligus upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan fungsi hutan sebagaimana arahan presiden.

"Salah satunya yang dilakukan dengan memaksimalkan penyemaian bibit-bibit tanaman hasil hutan bukan kayu seperti mangga, alpukat, durian, dan lain sebagainya yang nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ucap Raja Juli.

Adapun Kemenhut memiliki 54 persemaian permanen (skala produksi satu juta batang) dan tujuh persemaian besar (produksi di atas lima juta batang) yang dikelola Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai serta Balai Perbenihan Tanaman Hutan.

"Seluruh persemaian ini memiliki target produksi bibit tahun 2025 sebanyak 17 juta batang, dengan sumber pendanaan dari APBN sebanyak 10 batang, dan pendanaan Folu Net Sink 2030 sebanyak tujuh juta batang," jelas dia.

Kucuran Dana

Diberitakan sebelumnya, pemerintah Norwegia mengucurkan dana 60 juta dollar AS atau Rp 960 miliar untuk program penurunan emisi hingga pengelolaan biodiversitas di Indonesia. Menurut Raja Juli, pembayaran berbasis hasil atau Result-Based Contribution (RBC) tahap keempat itu dilaksanakan atas keberhasilan Indonesia menurunkan 43,2 juta ton CO2 pada 2016-2020.

Baca juga: Tangkap dan Simpan Emisi CO2 di Bawah Tanah? Riset Ungkap Cuma Bisa Dilakukan 200 Tahun

"Pemerintahan Norwegia memiliki komitmen untuk membantu Folu Net Sink 2030, berbagai macam aktivitas, program diselenggarakan. Total bantuan dari Norwegia sekitar 216 juta USD dan investment plan keempat ini sekitar 60 juta USD," ujar Raja Juli saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (28/8/2025).

Kemenhut akan membuka layanan kehutanan yang transparan, konservasi satwa terancam punah, dan melibatkan masyarakat adat untuk perhutanan sosial.

Pendanaan juga digunakan untuk penegakan hukum kehutanan. Nantinya, Kemenhut dan Badan Pengelola Dan Lingkungan Hidup (BPDLH) menyediakan Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan Periode Ketiga.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau