Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya

Kompas.com, 23 Juni 2026, 16:02 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kecerdasan buatan (AI) sudah memengaruhi cara miliaran orang melihat dunia. Akan tetapi Badan PBB untuk Perempuan (UN Women) memperingatkan bahwa teknologi ini keliru dalam menilai perempuan.

Melansir Down to Earth, Senin (22/6/2026) UN Women menunjukkan sebuah penelitian terhadap 133 sistem AI.

Hasilnya, sebanyak 44 persen dari sistem tersebut terbukti mendiskriminasi gender perempuan, sementara 26 persen lainnya menunjukkan diskriminasi ganda, yaitu berdasarkan gender sekaligus warna kulit.

Lembaga ini mengatakan risiko bahaya ini semakin besar karena teknologi AI pembuat konten kini sudah dipakai secara luas di bidang iklan, komunikasi, dan pembuatan media.

Misalnya saja di Inggris, sebanyak 88 persen perusahaan iklan dan media sudah menggunakan teknologi AI pembuat konten dalam berbagai bentuk.

Namun, baru 51 persen dari pelaku industri pemasaran yang saat ini menggunakan bantuan manusia untuk memeriksa kembali karya kreatif yang dibuat oleh AI sebelum disebarluaskan ke publik.

Baca juga: Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja Toxic

UN Women pun menegaskan bahwa kesetaraan gender harus dimasukkan sejak awal dalam pembuatan, penggunaan, dan aturan hukum sistem AI.

Diskriminasi dan kekerasan daring terhadap perempuan

Lantas seperti apa bentuk diskriminasi gender yang terjadi? UN Women mengatakan bahwa sistem AI pintar terbukti sering menghubungkan perempuan dengan kata-kata seperti "rumah", "keluarga", dan "anak-anak".

Sebaliknya, AI lebih sering menghubungkan laki-laki dengan kata-kata seperti "bisnis", "pimpinan", "gaji", dan "karier". Dalam beberapa kasus, jawaban yang dibuat oleh AI bahkan menunjukkan sikap yang merendahkan dan membenci perempuan.

Lembaga tersebut juga memperingatkan bahwa AI membuat kekerasan online terhadap perempuan dan anak perempuan menjadi semakin parah.

Hasil survei menunjukkan hampir satu dari empat orang pejuang hak asasi manusia, aktivis, dan jurnalis perempuan pernah mengalami kekerasan online yang dibantu oleh teknologi AI.

Beberapa di antara mereka melaporkan adanya penyebaran foto pribadi tanpa izin, video palsu hasil manipulasi AI hingga gangguan seksual yang tidak diinginkan melalui pesan digital.

Keterlibatan perempuan di sektor teknologi

UN Women juga menyebutkan bahwa jumlah perempuan yang ikut membuat sistem AI masih sangat sedikit, yaitu hanya sekitar 30 persen dari total pekerja AI di seluruh dunia.

Lembaga ini memperingatkan bahwa kurangnya jumlah perempuan ini membuat orang-orang yang merancang teknologi AI tidak bisa mewakili masyarakat luas yang seharusnya mereka layani.

Baca juga: Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim

Lembaga tersebut mengatakan bahwa perempuan yang bekerja di luar sektor teknologi juga memiliki risiko dua kali lebih tinggi daripada laki-laki untuk kehilangan pekerjaan mereka akibat digantikan oleh mesin otomatis (AI).

Dampak terbesar ini kemungkinan besar akan menimpa kelompok-kelompok perempuan yang selama ini memang sudah sulit mendapatkan ruang di media dan pasar kerja.

UN Women menegaskan bahwa membuat AI yang adil dan merangkul semua kelompok bukan sekadar masalah penegakan hak asasi manusia, melainkan juga sangat menguntungkan bagi bisnis.

Lembaga ini menunjukkan riset dari Unstereotype Alliance yang membuktikan bahwa iklan yang bebas dari stereotip gender justru bisa meningkatkan penjualan, nilai merek dagang, dan kesetiaan dari pelanggan.

UN Women juga menambahkan bahwa AI sebenarnya bisa digunakan untuk mendeteksi stereotip buruk dan memperbaiki keterwakilan perempuan. Namun, hal itu hanya bisa terjadi jika perempuan dan anak perempuan diikutkan dalam pengambilan keputusan tentang bagaimana teknologi ini dibuat dan digunakan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau