Sementara itu, metrik agregasi menunjukkan bahwa 57-83 persen hutan menjadi lebih terfragmentasi.
Sebaliknya, metrik berbasis struktur yang digunakan tim hanya menunjukkan fragmentasi sebesar 30-35 persen dalam periode yang sama.
Baca juga: Orangutan Tapanuli Tinggal 577 Ekor, Dua Koridor Hutan Perlu Diperluas
Penelitian ini juga melihat penyebab fragmentasi, yang meliputi pergeseran pertanian (37 persen secara global, 61 persen di hutan tropis), kehutanan (34 persen secara global), serta kebakaran hutan dan deforestasi untuk komoditas, meskipun dalam skala yang lebih kecil.
Mereka juga menemukan bahwa area yang dilindungi mengalami 82 persen lebih sedikit fragmentasi dibandingkan area yang tidak dilindungi. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya aktivitas pertanian.
Ini mengisyaratkan bahwa sebagian besar peningkatan fragmentasi berpotensi bisa dipulihkan, karena sering kali disebabkan oleh penggunaan lahan yang bisa diubah, seperti pertanian, penebangan, atau penyebab alami seperti kebakaran hutan.
"Hasil ini menyoroti efektivitas dan pentingnya kawasan lindung tropis dalam membatasi fragmentasi akibat aktivitas manusia. Ini juga menggarisbawahi perlunya perluasan perlindungan di seluruh wilayah tropis secara mendesak," tulis peneliti dalam makalahnya.
Para peneliti juga mencatat beberapa kendala yang mungkin terjadi, seperti keterbatasan resolusi data satelit, kesulitan mengidentifikasi jalan kecil, sulitnya membedakan hutan alami dari agroforestri (yang bisa menyebabkan perkiraan hilangnya hutan alami terlalu rendah), serta kesulitan dalam melacak pertumbuhan kembali hutan yang tingginya kurang dari 5 meter.
Penelitian ini menekankan pula perlunya metrik fragmentasi yang lebih baik dalam studi di masa depan.
"Studi kami mengungkapkan penurunan integritas ekologis hutan yang meluas selama dua dekade terakhir, sebagian besar didorong oleh aktivitas manusia. Perbedaan mencolok di antara metrik-metrik fragmentasi menunjukkan perlunya alat yang relevan secara ekologis untuk menilai dan mengatasi perubahan ini secara akurat," terang mereka.
Baca juga: Masa Depan Pedesaan Lebih Terjamin Berkat Hutan dan Kearifan Lokal
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya