Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Orangutan Tapanuli Tinggal 577 Ekor, Dua Koridor Hutan Perlu Diperluas

Kompas.com, 9 September 2025, 19:34 WIB
Add on Google
Yunanto Wiji Utomo

Penulis

KOMPAS.com - Populasi orangutan Tapanuli, kera besar paling langka di dunia yang hanya hidup di Ekosistem Batang Toru, kini diperkirakan tinggal 577–760 individu.

Habitatnya makin terpecah karena alih fungsi lahan, membuat satwa kunci ini kian terancam dan masuk kategori sangat kritis.

Untuk mencegah kepunahan, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan bersama Konservasi Indonesia (KI) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan kajian soal kelayakan dua koridor penting: Bulu Mario dan Aek Malakkut.

Koridor ini berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan hutan-hutan terfragmentasi.

Sejak 2017, Pemkab Tapanuli Selatan sudah menetapkan empat koridor melalui Perda No. 5/2017: Hutaimbaru, Silima-lima, Bulu Mario, dan Aek Malakkut. Namun, dua koridor terakhir dianggap paling butuh penguatan karena kondisinya lebih rentan.

Kajian dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan vegetasi, topografi, penggunaan lahan, kondisi sosial-ekonomi, hingga kelembagaan lokal.

Hasil analisis menunjukkan, Bulu Mario punya tingkat kesesuaian habitat lebih tinggi daripada Aek Malakkut.

Meski begitu, keduanya sama-sama strategis untuk menghubungkan hutan, mencegah kepunahan, dan mengurangi konflik manusia-satwa.

Wakil Bupati Tapanuli Selatan, Jafar Syahbuddin Ritonga menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah pada penguatan koridor.

Baca juga: Mengenal Orangutan Tapanuli, Kerabat Dekat Manusia

“Kami berkomitmen untuk mendukung pembangunan koridor ekologis sebagai langkah penting yang berjalan selaras dengan konservasi dan pembangunan daerah,” ujarnya.

Warga sekitar juga mendukung, asalkan pengelolaan berbasis agroforestri tetap diizinkan.

Sundaland Program Director Konservasi Indonesia, Jeri Imansyah, menekankan pentingnya kerja sama lintas pihak.

“Sebagai organisasi lingkungan berbasis sains, kami berharap kajian ini mampu menghadirkan solusi konservasi yang lebih efektif di Ekosistem Batang Toru. Data dan rekomendasi yang sudah disusun diharapkan menjadi rujukan bersama dalam menyeimbangkan ekologi dan ekonomi masyarakat. Orangutan Tapanuli bukan hanya warisan alam Sumatra Utara, tetapi juga simbol keseimbangan ekosistem yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” katanya kepada Kompas.com, Selasa (9/9/2025).

Kajian ini juga merekomendasikan perluasan wilayah. Bulu Mario dari 347,3 hektare menjadi 685 hektare, serta Aek Malakkut dari 802,8 hektare menjadi 917,7 hektare. Dengan begitu, tingkat kesesuaian habitat mencapai 94,24 persen di Bulu Mario dan 87,58 persen di Aek Malakkut.

Selain memperluas koridor, penguatan tata kelola juga krusial.

Rekomendasinya, membentuk forum multipihak dengan dasar hukum dan pendanaan jelas, serta mengembangkan skema imbal jasa lingkungan melalui agroforestri dan ekowisata.

Baca juga: Kompleksnya Konservasi Orangutan Tapanuli, Fragmentasi hingga Konflik dengan Manusia

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau