Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dulu Melindungi, Kini Mencemari: Masker Covid-19 Jadi Masalah Global

Kompas.com, 13 September 2025, 09:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebuah penelitian menemukan bahwa masker N95 dan masker pernapasan lain yang populer digunakan selama COVID-19 lebih berbahaya bagi lingkungan dibandingkan masker bedah atau jenis lainnya.

Dan kabar buruknya, semua jenis masker tersebut merusak lingkungan karena miliaran di antaranya telah dibuang dengan tidak benar.

Menurut laporan yang diterbitkan dalam jurnal Environment Pollution, pandemi COVID-19 menyebabkan peningkatan drastis dalam penggunaan masker sekali pakai.

Masker-masker ini pun telah memasuki lingkungan darat dan perairan dalam jumlah yang sangat besar.

Penelitian itu memperkirakan bahwa penggunaan masker wajah sekali pakai meningkat hampir 9.000 persen selama pandemi, yaitu dari Maret 2020 hingga Oktober 2020.

Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kebutuhan sekitar 89 juta masker wajah sekali pakai medis setiap hari.

Selain itu, 129 miliar masker wajah sekali pakai tambahan juga digunakan secara global per bulan selama pandemi.

Baca juga: Dorong Daur Ulang Plastik di Sekolah, Mesin Penukar Sampah Pertama Hadir di Sukabumi

Masker-masker ini sebagian besar terbuat dari polipropilena, tetapi polimer lain seperti polietilen, poliamida/nilon, polistiren, poliester/polietilen tereftalat, polikarbonat, polifenilen oksida, dan klorotrifluoroetilen juga merupakan jenis-jenis alat pelindung diri (APD).

Dan melansir Down to Earth, Rabu (10/9/2025) para peneliti mengatakan bahwa masker sekali pakai ini tidak dapat didaur ulang melalui metode konvensional dan banyak dibuang secara tidak benar, terutama selama pandemi COVID-19.

Mereka menemukan bahwa masker dibuang secara sembarangan di berbagai tempat, seperti di sepanjang jalan, trotoar, jalur pejalan kaki, area parkir, selokan, saluran air, taman, pantai, dan area pedesaan.

Penelitian lain menunjukkan bahwa sekitar 3,4 miliar masker sekali pakai dibuang di seluruh dunia setiap hari pada puncak pandemi.

Diperkirakan 4,3 juta ton limbah plastik terkontaminasi yang tidak dapat didaur ulang dari masker-masker ini telah dihasilkan antara September 2019 dan Oktober 2020 di 11 negara, termasuk Australia, Belgia, Kanada, Prancis, Jerman, Belanda, Selandia Baru, Spanyol, Swedia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Eksperimen yang dilakukan dengan menyimpan masker di dalam air menunjukkan pula bahwa masker Pelindung Wajah Berfilter (FFP) melepaskan 3-4 kali lebih banyak partikel mikroplastik dibandingkan masker medis dan masker sekali pakai

Baca juga: Ekonomi Global Kurang Sirkular Meski Upaya Daur Ulang Meningkat

"Pelepasan mikroplastik ke dalam air dari semua masker sekali pakai yang diuji tanpa adanya tekanan mekanis menunjukkan adanya potensi kontaminasi mikroplastik yang berasal dari proses produksi masker sekali pakai," catat studi tersebut.

Polimer lain seperti polietilena, polikarbonat, poliester/polietilena tereftalat, poliamida/nilon, polivinilklorida, dan kopolimer etilena-propilena juga teridentifikasi, tetapi dalam jumlah yang lebih kecil.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau