KOMPAS.com - Deforestasi (penggundulan hutan) merupakan masalah yang sudah dikenal luas memengaruhi keanekaragaman hayati dan penyimpanan karbon.
Namun tak hanya itu saja, fragmentasi hutan ternyata juga berperan signifikan dalam mengurangi keanekaragaman hayati dan kemampuan penyimpanan karbon di dunia.
Fragmentasi terjadi ketika hutan yang lebih besar terpecah menjadi area-area kecil yang terisolasi. Hal ini mengurangi konektivitas dan ukuran habitat.
Fragmentasi memburuk ketika area-area ini menyusut, terbelah, memiliki bentuk yang lebih kompleks, atau semakin jauh jaraknya satu sama lain.
Kabar buruknya, studi baru yang dipublikasikan di jurnal Science mengungkapkan bahwa ternyata fragmentasi meningkat di lebih dari separuh hutan dunia, terutama di hutan tropis.
Temuan ini bertentangan dengan studi tahun 2023 yang menyatakan adanya penurunan fragmentasi selama 20 tahun terakhir.
Melansir Phys, Jumat (12/9/2025), para penulis studi baru tersebut percaya bahwa perbedaan temuan itu terletak pada metrik atau cara pengukuran yang digunakan.
Baca juga: 2025, Kemenhut Targetkan 100 Ribu Hektare Hutan Adat Resmi Diakui
Studi tahun 2023 hanya mengandalkan metrik berbasis struktur. Ini adalah metrik yang mengukur hal-hal seperti jumlah, ukuran, dan panjang tepi dari area-area hutan yang terfragmentasi.
Namun, studi lain yang berfokus pada metrik konektivitas dan agregasi menunjukkan peningkatan fragmentasi, terutama di wilayah tropis.
Para penulis menjelaskan bahwa metrik yang berfokus pada agregasi menilai seberapa padat area-area hutan tersebut berkumpul, tetapi mungkin mengabaikan luas keseluruhan.
Sementara itu, metrik yang berfokus pada konektivitas menggabungkan luas area dan konfigurasi spasial (penataan ruang), sehingga memberikan perspektif yang lebih relevan secara ekologis.
Karena setiap metrik menangkap aspek fragmentasi yang berbeda, maka memilih metrik yang memiliki makna ekologis sangat penting untuk melacak kemajuan menuju tujuan konservasi secara akurat.
Nah, untuk menggabungkan semua faktor yang relevan, tim peneliti studi baru ini kemudian menggunakan sembilan metrik fragmentasi yang dikelompokkan menjadi struktur, agregasi, dan konektivitas. Mereka juga mengembangkan indeks komposit untuk setiap kelompok metrik tersebut.
Dengan menggunakan data satelit resolusi tinggi, mereka menganalisis tutupan hutan global dari tahun 2000 hingga 2020 dan membandingkan tren di dalam maupun di luar kawasan yang dilindungi.
Metrik berbasis konektivitas menunjukkan peningkatan fragmentasi di 51-67 persen hutan global dan 58-80 persen hutan tropis dari tahun 2000 hingga 2020.
Sementara itu, metrik agregasi menunjukkan bahwa 57-83 persen hutan menjadi lebih terfragmentasi.
Sebaliknya, metrik berbasis struktur yang digunakan tim hanya menunjukkan fragmentasi sebesar 30-35 persen dalam periode yang sama.
Baca juga: Orangutan Tapanuli Tinggal 577 Ekor, Dua Koridor Hutan Perlu Diperluas
Penelitian ini juga melihat penyebab fragmentasi, yang meliputi pergeseran pertanian (37 persen secara global, 61 persen di hutan tropis), kehutanan (34 persen secara global), serta kebakaran hutan dan deforestasi untuk komoditas, meskipun dalam skala yang lebih kecil.
Mereka juga menemukan bahwa area yang dilindungi mengalami 82 persen lebih sedikit fragmentasi dibandingkan area yang tidak dilindungi. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya aktivitas pertanian.
Ini mengisyaratkan bahwa sebagian besar peningkatan fragmentasi berpotensi bisa dipulihkan, karena sering kali disebabkan oleh penggunaan lahan yang bisa diubah, seperti pertanian, penebangan, atau penyebab alami seperti kebakaran hutan.
"Hasil ini menyoroti efektivitas dan pentingnya kawasan lindung tropis dalam membatasi fragmentasi akibat aktivitas manusia. Ini juga menggarisbawahi perlunya perluasan perlindungan di seluruh wilayah tropis secara mendesak," tulis peneliti dalam makalahnya.
Para peneliti juga mencatat beberapa kendala yang mungkin terjadi, seperti keterbatasan resolusi data satelit, kesulitan mengidentifikasi jalan kecil, sulitnya membedakan hutan alami dari agroforestri (yang bisa menyebabkan perkiraan hilangnya hutan alami terlalu rendah), serta kesulitan dalam melacak pertumbuhan kembali hutan yang tingginya kurang dari 5 meter.
Penelitian ini menekankan pula perlunya metrik fragmentasi yang lebih baik dalam studi di masa depan.
"Studi kami mengungkapkan penurunan integritas ekologis hutan yang meluas selama dua dekade terakhir, sebagian besar didorong oleh aktivitas manusia. Perbedaan mencolok di antara metrik-metrik fragmentasi menunjukkan perlunya alat yang relevan secara ekologis untuk menilai dan mengatasi perubahan ini secara akurat," terang mereka.
Baca juga: Masa Depan Pedesaan Lebih Terjamin Berkat Hutan dan Kearifan Lokal
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya