Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Hutan Tropis Terbelah-belah, Biodiversitas Semakin Terancam

Kompas.com, 14 September 2025, 18:09 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Deforestasi (penggundulan hutan) merupakan masalah yang sudah dikenal luas memengaruhi keanekaragaman hayati dan penyimpanan karbon.

Namun tak hanya itu saja, fragmentasi hutan ternyata juga berperan signifikan dalam mengurangi keanekaragaman hayati dan kemampuan penyimpanan karbon di dunia.

Fragmentasi terjadi ketika hutan yang lebih besar terpecah menjadi area-area kecil yang terisolasi. Hal ini mengurangi konektivitas dan ukuran habitat.

Fragmentasi memburuk ketika area-area ini menyusut, terbelah, memiliki bentuk yang lebih kompleks, atau semakin jauh jaraknya satu sama lain.

Kabar buruknya, studi baru yang dipublikasikan di jurnal Science mengungkapkan bahwa ternyata fragmentasi meningkat di lebih dari separuh hutan dunia, terutama di hutan tropis.

Temuan ini bertentangan dengan studi tahun 2023 yang menyatakan adanya penurunan fragmentasi selama 20 tahun terakhir.

Melansir Phys, Jumat (12/9/2025), para penulis studi baru tersebut percaya bahwa perbedaan temuan itu terletak pada metrik atau cara pengukuran yang digunakan.

Baca juga: 2025, Kemenhut Targetkan 100 Ribu Hektare Hutan Adat Resmi Diakui

Studi tahun 2023 hanya mengandalkan metrik berbasis struktur. Ini adalah metrik yang mengukur hal-hal seperti jumlah, ukuran, dan panjang tepi dari area-area hutan yang terfragmentasi.

Namun, studi lain yang berfokus pada metrik konektivitas dan agregasi menunjukkan peningkatan fragmentasi, terutama di wilayah tropis.

Para penulis menjelaskan bahwa metrik yang berfokus pada agregasi menilai seberapa padat area-area hutan tersebut berkumpul, tetapi mungkin mengabaikan luas keseluruhan.

Sementara itu, metrik yang berfokus pada konektivitas menggabungkan luas area dan konfigurasi spasial (penataan ruang), sehingga memberikan perspektif yang lebih relevan secara ekologis.

Karena setiap metrik menangkap aspek fragmentasi yang berbeda, maka memilih metrik yang memiliki makna ekologis sangat penting untuk melacak kemajuan menuju tujuan konservasi secara akurat.

Nah, untuk menggabungkan semua faktor yang relevan, tim peneliti studi baru ini kemudian menggunakan sembilan metrik fragmentasi yang dikelompokkan menjadi struktur, agregasi, dan konektivitas. Mereka juga mengembangkan indeks komposit untuk setiap kelompok metrik tersebut.

Dengan menggunakan data satelit resolusi tinggi, mereka menganalisis tutupan hutan global dari tahun 2000 hingga 2020 dan membandingkan tren di dalam maupun di luar kawasan yang dilindungi.

Metrik berbasis konektivitas menunjukkan peningkatan fragmentasi di 51-67 persen hutan global dan 58-80 persen hutan tropis dari tahun 2000 hingga 2020.

Sementara itu, metrik agregasi menunjukkan bahwa 57-83 persen hutan menjadi lebih terfragmentasi.

Sebaliknya, metrik berbasis struktur yang digunakan tim hanya menunjukkan fragmentasi sebesar 30-35 persen dalam periode yang sama.

Baca juga: Orangutan Tapanuli Tinggal 577 Ekor, Dua Koridor Hutan Perlu Diperluas

Penelitian ini juga melihat penyebab fragmentasi, yang meliputi pergeseran pertanian (37 persen secara global, 61 persen di hutan tropis), kehutanan (34 persen secara global), serta kebakaran hutan dan deforestasi untuk komoditas, meskipun dalam skala yang lebih kecil.

Mereka juga menemukan bahwa area yang dilindungi mengalami 82 persen lebih sedikit fragmentasi dibandingkan area yang tidak dilindungi. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya aktivitas pertanian.

Ini mengisyaratkan bahwa sebagian besar peningkatan fragmentasi berpotensi bisa dipulihkan, karena sering kali disebabkan oleh penggunaan lahan yang bisa diubah, seperti pertanian, penebangan, atau penyebab alami seperti kebakaran hutan.

"Hasil ini menyoroti efektivitas dan pentingnya kawasan lindung tropis dalam membatasi fragmentasi akibat aktivitas manusia. Ini juga menggarisbawahi perlunya perluasan perlindungan di seluruh wilayah tropis secara mendesak," tulis peneliti dalam makalahnya.

Para peneliti juga mencatat beberapa kendala yang mungkin terjadi, seperti keterbatasan resolusi data satelit, kesulitan mengidentifikasi jalan kecil, sulitnya membedakan hutan alami dari agroforestri (yang bisa menyebabkan perkiraan hilangnya hutan alami terlalu rendah), serta kesulitan dalam melacak pertumbuhan kembali hutan yang tingginya kurang dari 5 meter.

Penelitian ini menekankan pula perlunya metrik fragmentasi yang lebih baik dalam studi di masa depan.

"Studi kami mengungkapkan penurunan integritas ekologis hutan yang meluas selama dua dekade terakhir, sebagian besar didorong oleh aktivitas manusia. Perbedaan mencolok di antara metrik-metrik fragmentasi menunjukkan perlunya alat yang relevan secara ekologis untuk menilai dan mengatasi perubahan ini secara akurat," terang mereka.

Baca juga: Masa Depan Pedesaan Lebih Terjamin Berkat Hutan dan Kearifan Lokal

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
LSM/Figur
ITDC Olah 22 Ton Sampah organik Per Hari
ITDC Olah 22 Ton Sampah organik Per Hari
BUMN
Dunia Terancam Kekurangan Beras Akibat Perang Timur Tengah dan El Niño
Dunia Terancam Kekurangan Beras Akibat Perang Timur Tengah dan El Niño
Pemerintah
Ini Alasan Pemprov Jakarta Belum Menindak Penjual Siomai-Bakso dari Daging Ikan Sapu-Sapu
Ini Alasan Pemprov Jakarta Belum Menindak Penjual Siomai-Bakso dari Daging Ikan Sapu-Sapu
Pemerintah
BPS Sebut Angka Pengangguran Turun 0,08 Persen dibanding Tahun Lalu
BPS Sebut Angka Pengangguran Turun 0,08 Persen dibanding Tahun Lalu
Pemerintah
Pendidikan Berkualitas untuk Semua, GNI Perkuat PAUD Inklusi di Kulon Progo
Pendidikan Berkualitas untuk Semua, GNI Perkuat PAUD Inklusi di Kulon Progo
LSM/Figur
Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang
Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang
LSM/Figur
IMO Pertahankan Target Net-Zero Sektor Pelayaran Meski Hadapi Penolakan
IMO Pertahankan Target Net-Zero Sektor Pelayaran Meski Hadapi Penolakan
Pemerintah
Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah
Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah
LSM/Figur
Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi
Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi
Pemerintah
Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
LSM/Figur
Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2
Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2
LSM/Figur
IUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak
IUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak
Pemerintah
Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035
Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau