KOMPAS.com - Perusahaan-perusahaan di kawasan Asia Pasifik telah mengurangi staf keberlanjutan di level junior.
Hal ini terjadi karena mereka memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengerjakan fungsi-fungsi yang dapat diotomatisasi, seperti pelaporan keberlanjutan.
Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Paddy Balfour, Direktur Asia Pasifik dari perusahaan perekrutan Acre saat berbicara di konferensi ReThink di Hong Kong.
Menurutnya, banyak perusahaan telah menggunakan AI untuk mengotomatisasi beberapa tugas.
Meskipun hal ini meningkatkan efisiensi, dampaknya adalah berkurangnya prospek kerja di tingkat pemula dan kemajuan karier bagi mereka yang baru memulai.
Baca juga: Microsoft Gelontorkan 6 Miliar Dolar AS Demi Komputasi AI Berbasis Energi Terbarukan
"Kami melihat tren bahwa perusahaan lebih banyak merekrut untuk posisi senior dan lebih sedikit untuk posisi junior," katanya seperti dikutip dari Eco Business, Senin (22/9/2025).
Pengamatan yang ia sampaikan sejalan dengan studi Bloomberg. Studi tersebut menemukan bahwa lapangan kerja di tingkat pemula di berbagai sektor kini semakin terdesak oleh AI, karena para pemberi kerja menggunakan alat berbasis AI untuk mengotomatisasi tugas-tugas dasar.
Tren tersebut bisa memperparah "masalah jalur karier yang serius" di sektor keberlanjutan.
Staf di tingkat junior dan menengah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang diperlukan untuk naik karier karena tugas-tugas penting dan padat karya seperti pelaporan keberlanjutan kini diambil alih oleh AI.
Balfour pun kemudian menyebut bahwa industri dan dunia akademis perlu berbuat lebih banyak untuk memasukkan program mentorship ke dalam perusahaan.
Program-program ini akan memberikan pengalaman yang diperlukan oleh para lulusan agar mereka bisa memajukan karier mereka.
Baca juga: Potensi AI Membantu Keberlanjutan Tak Signifikan, Studi Ungkap
Lebih lanjut, seiring dengan kematangan sektor keberlanjutan, perusahaan tidak lagi terlalu fokus pada pembangunan kapasitas, melainkan lebih pada pencapaian "tujuan yang terfokus."
Hal ini menyebabkan permintaan yang lebih tinggi untuk peran-peran spesialis, seperti manajer keanekaragaman hayati. Perusahaan semakin gencar melaporkan dampak mereka terhadap alam dan iklim.
Menurut Balfour, di level eksekutif (c-suite), saat ini ada lebih banyak tekanan pada Chief Sustainability Officer (CSO) untuk membuktikan nilai komersial mereka bagi perusahaan.
Balfour menjelaskan bahwa saat ini ada berbagai isu yang harus dihadapi oleh para Chief Sustainability Officer (CSO).
Isu-isu tersebut meliputi regulasi, pasar karbon, dan pelaporan, yang semuanya membutuhkan keahlian yang beragam.
Selain itu, ia juga mengatakan bahwa topik-topik yang berkembang pesat ini menuntut ketangkasan dari para CSO.
Namun, Balfour mencatat pula bahwa agar isu keberlanjutan dapat ditanggapi lebih serius di tingkat korporat di Asia, lebih banyak profesional di bidang keberlanjutan perlu naik ke posisi senior di perusahaan.
Baca juga: Hanya 2 Persen Perusahaan Penuhi Standar AI Bertanggung Jawab
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya