Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potensi AI Membantu Keberlanjutan Tak Signifikan, Studi Ungkap

Kompas.com, 27 Agustus 2025, 19:11 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber trellis

KOMPAS.com - Di banyak industri, kecerdasan buatan (AI) disebut-sebut sebagai terobosan besar.

Namun, survei terbaru terhadap para profesional di bidang keberlanjutan menunjukkan bahwa antusiasme terhadap potensi AI dalam membantu hasil keberlanjutan yang positif tidak terlalu tinggi.

Berdasarkan data dari mitra Trellis, GlobeScan, bersama ERM dan Volans, ditemukan perbedaan pandangan yang tajam di berbagai wilayah mengenai AI dan keberlanjutan.

Melansir Trellis, Jumat (15/8/2025) sebanyak 60 persen pakar di wilayah Asia-Pasifik dan 58 persen di Amerika Latin dan Karibia percaya AI dapat memberikan dampak positif pada keberlanjutan dalam lima tahun ke depan.

Namun, optimisme ini tidak terlalu tinggi di wilayah lain. Hanya 48 persen pakar di Afrika dan Timur Tengah, 41 persen di Eropa, serta 38 persen di Amerika Utara yang memiliki pandangan serupa.

Pola serupa terlihat pada para pakar keberlanjutan di wilayah Asia-Pasifik (80 persen) dan Amerika Latin dan Karibia (72 persen) yang juga menunjukkan antusiasme lebih besar terhadap R&D dan inovasi teknologi secara umum sebagai penggerak keberlanjutan.

Baca juga: Hanya 2 Persen Perusahaan Penuhi Standar AI Bertanggung Jawab

Sementara itu, pakar dari Amerika Utara (68 persen) dan Eropa (68 persen), meski juga sangat optimis, lebih berhati-hati dalam melihat potensi kemajuan keberlanjutan dalam jangka pendek.

Para pakar di Afrika dan Timur Tengah bahkan menunjukkan antusiasme yang lebih rendah terhadap AI (64 persen).

Meskipun AI semakin diakui sebagai penggerak transformatif untuk keberlanjutan, temuan-temuan ini menunjukkan bahwa adopsi dan nilai yang dirasakan dari AI sangat dipengaruhi oleh konteks regional dan pandangan masyarakat.

Namun, tingginya optimisme di wilayah Asia-Pasifik mungkin mencerminkan gabungan dari beberapa faktor, seperti misalnya Minat yang tinggi terhadap transformasi digital di banyak negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat.

Kemudian juga adanya strategi nasional yang berfokus pada pengembangan AI seperti di China, Singapura, dan Korea Selatan. Selain itu juga tingkat investasi publik dan swasta yang tinggi pada solusi berbasis teknologi.

Baca juga: Menemukan Keseimbangan antara Produktivitas dan Ketahanan Data lewat AI

Sementara itu sikap skeptis di Amerika Utara diikuti oleh Eropa sangat patut diperhatikan, mengingat kawasan ini adalah pusat global pengembangan AI.

Meskipun menjadi pemimpin inovasi, banyak pakar di Amerika Utara tetap khawatir dengan dampak AI terhadap keberlanjutan, karena adanya isu tata kelola, privasi, dan biaya lingkungan.

Hal ini menekankan pentingnya bagi perusahaan AI dan teknologi terkemuka untuk membantu menciptakan kontrak sosial yang membangun kepercayaan, menjamin akuntabilitas, dan menyelaraskan kemajuan AI dengan harapan masyarakat secara lebih luas.

Baca juga: Staf Maskapai Dunia Desak Industri Penerbangan Percepat Aksi Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau