KOMPAS.com - Metana mungkin jarang jadi berita utama dibandingkan karbon dioksida, tetapi gas ini memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dalam memengaruhi krisis iklim.
Gas tersebut memanaskan planet dengan cepat, namun tidak tinggal selama berabad-abad seperti CO2. Itu mengapa, mengurangi emisi metana sekarang bisa menjadi langkah tercepat untuk meredakan pemanasan global.
Dan kini penelitian baru menunjukkan bahwa emisi metana global terus meningkat secara stabil. Parahnya, perdagangan global menyumbang hampir sepertiga dari emisi tersebut.
Yang lebih buruk lagi, peningkatan terbesar terjadi di negara-negara berkembang, terutama di Asia dan Pasifik.
"Perdagangan global bertanggung jawab atas sekitar 30 persen emisi metana," catat para peneliti.
Baca juga: Metana Jadi Berkah, Kisah Suami Istri Balikpapan Hidup dari Sampah
Saat pola perdagangan bergeser, terutama perdagangan antara negara-negara berkembang yang dikenal sebagai perdagangan Selatan-Selatan, emisi semakin meningkat di wilayah yang belum punya infrastruktur atau regulasi yang memadai untuk mengelolanya.
Peningkatan emisi metana di negara-negara berkembang, khususnya di Asia dan Pasifik juga disebabkan oleh pertumbuhan pesat di wilayah-wilayah tersebut seperti lebih banyak pabrik, pertanian, dan pembangkit energi yang semuanya menjadi pemicu naiknya emisi metana.
Melansir Earth, Sabtu (6/9/2025), laporan ini memantau emisi metana di 164 negara dan 120 sektor ekonomi dari tahun 1990 hingga 2023. Ini adalah analisis paling rinci yang pernah ada.
Hasil temuan menunjukkan bahwa meskipun negara-negara maju telah berhasil mengembangkan ekonomi mereka sambil menurunkan produksi metana, wilayah-wilayah berkembang belum mencapai kesuksesan yang sama. Emisi metana mereka justru terus meningkat.
Pertumbuhan industri di negara-negara ini sedang pesat, terutama di wilayah yang memiliki akses terbatas ke teknologi yang lebih bersih.
Ini berarti, kemajuan yang dicapai oleh negara-negara kaya dalam mengurangi emisi menjadi sia-sia karena adanya peningkatan emisi di tempat lain.
Kendati total emisi metana meningkat, ada perbaikan yang terjadi.
Antara tahun 1998 dan 2023, koefisien emisi metana rata-rata global turun hampir 67 persen.
Dengan kata lain, dibutuhkan jauh lebih sedikit metana untuk menghasilkan aktivitas ekonomi yang sama dibandingkan 25 tahun yang lalu.
Selain itu negara-negara maju telah menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk mengembangkan ekonomi sambil pada saat yang sama mengurangi emisi metana.
Baca juga: Metana Tersembunyi dari Batu Bara Australia Dongkrak Emisi Baja hingga 15 Persen
Mereka melakukannya melalui metode produksi yang lebih bersih dan penggunaan energi yang lebih cerdas.
Namun, tanpa bantuan, negara-negara berkembang tidak dapat dengan mudah mengikuti jalur tersebut.
Penelitian baru ini juga makin memperjelas satu hal bahwa mengurangi metana terutama di wilayah yang berkembang pesat dapat memberikan dampak yang cepat dan kuat terhadap suhu bumi dan kesehatan masyarakat.
Metana bukan hanya masalah lingkungan. Gas ini terkait erat dengan ekonomi, kesehatan, dan masa depan iklim kita.
Bertindak sekarang untuk menguranginya dapat memperlambat pemanasan global dengan cepat. Ini akan memberi dunia "ruang bernapas" saat strategi jangka panjang untuk menangani CO2 mulai membuahkan hasil.
Studi selengkapnya dipublikasikan di jurnal Nature Communications.
Baca juga: MethaneSAT Hilang di Angkasa, Pemantauan Emisi Metana di Ujung Tanduk
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya