Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perdagangan Global Picu Kenaikan Emisi Metana yang Berbahaya

Kompas.com, 23 September 2025, 19:46 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Metana mungkin jarang jadi berita utama dibandingkan karbon dioksida, tetapi gas ini memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dalam memengaruhi krisis iklim.

Gas tersebut memanaskan planet dengan cepat, namun tidak tinggal selama berabad-abad seperti CO2. Itu mengapa, mengurangi emisi metana sekarang bisa menjadi langkah tercepat untuk meredakan pemanasan global.

Dan kini penelitian baru menunjukkan bahwa emisi metana global terus meningkat secara stabil. Parahnya, perdagangan global menyumbang hampir sepertiga dari emisi tersebut.

Yang lebih buruk lagi, peningkatan terbesar terjadi di negara-negara berkembang, terutama di Asia dan Pasifik.

"Perdagangan global bertanggung jawab atas sekitar 30 persen emisi metana," catat para peneliti.

Baca juga: Metana Jadi Berkah, Kisah Suami Istri Balikpapan Hidup dari Sampah

Saat pola perdagangan bergeser, terutama perdagangan antara negara-negara berkembang yang dikenal sebagai perdagangan Selatan-Selatan, emisi semakin meningkat di wilayah yang belum punya infrastruktur atau regulasi yang memadai untuk mengelolanya.

Peningkatan emisi metana di negara-negara berkembang, khususnya di Asia dan Pasifik juga disebabkan oleh pertumbuhan pesat di wilayah-wilayah tersebut seperti lebih banyak pabrik, pertanian, dan pembangkit energi yang semuanya menjadi pemicu naiknya emisi metana.

Melansir Earth, Sabtu (6/9/2025), laporan ini memantau emisi metana di 164 negara dan 120 sektor ekonomi dari tahun 1990 hingga 2023. Ini adalah analisis paling rinci yang pernah ada.

Hasil temuan menunjukkan bahwa meskipun negara-negara maju telah berhasil mengembangkan ekonomi mereka sambil menurunkan produksi metana, wilayah-wilayah berkembang belum mencapai kesuksesan yang sama. Emisi metana mereka justru terus meningkat.

Pertumbuhan industri di negara-negara ini sedang pesat, terutama di wilayah yang memiliki akses terbatas ke teknologi yang lebih bersih.

Ini berarti, kemajuan yang dicapai oleh negara-negara kaya dalam mengurangi emisi menjadi sia-sia karena adanya peningkatan emisi di tempat lain.

Kendati total emisi metana meningkat, ada perbaikan yang terjadi.

Antara tahun 1998 dan 2023, koefisien emisi metana rata-rata global turun hampir 67 persen.

Dengan kata lain, dibutuhkan jauh lebih sedikit metana untuk menghasilkan aktivitas ekonomi yang sama dibandingkan 25 tahun yang lalu.

Selain itu negara-negara maju telah menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk mengembangkan ekonomi sambil pada saat yang sama mengurangi emisi metana.

Baca juga: Metana Tersembunyi dari Batu Bara Australia Dongkrak Emisi Baja hingga 15 Persen

Mereka melakukannya melalui metode produksi yang lebih bersih dan penggunaan energi yang lebih cerdas.

Namun, tanpa bantuan, negara-negara berkembang tidak dapat dengan mudah mengikuti jalur tersebut.

Penelitian baru ini juga makin memperjelas satu hal bahwa mengurangi metana terutama di wilayah yang berkembang pesat dapat memberikan dampak yang cepat dan kuat terhadap suhu bumi dan kesehatan masyarakat.

Metana bukan hanya masalah lingkungan. Gas ini terkait erat dengan ekonomi, kesehatan, dan masa depan iklim kita.

Bertindak sekarang untuk menguranginya dapat memperlambat pemanasan global dengan cepat. Ini akan memberi dunia "ruang bernapas" saat strategi jangka panjang untuk menangani CO2 mulai membuahkan hasil.

Studi selengkapnya dipublikasikan di jurnal Nature Communications.

Baca juga: MethaneSAT Hilang di Angkasa, Pemantauan Emisi Metana di Ujung Tanduk

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
Pemerintah
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Pemerintah
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Pemerintah
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
LSM/Figur
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
BUMN
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
Swasta
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
Swasta
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pemerintah
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Pemerintah
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
Pemerintah
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Pemerintah
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Pemerintah
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
Pemerintah
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pemerintah
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau