Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan Temukan Cara Tanam Padi Lebih Bernutrisi dengan Pupuk Lebih Sedikit

Kompas.com, 24 September 2025, 18:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Budidaya padi yang merupakan tanaman pokok bagi lebih dari 3,5 miliar orang di seluruh dunia memerlukan biaya lingkungan, iklim, dan ekonomi yang sangat tinggi.

Namun hal ini mungkin akan segera berubah, berkat penelitian baru yang dipimpin oleh para ilmuwan dari University of Massachusetts Amherst dan Jiangnan University di China.

Mereka menunjukkan bahwa penggunaan unsur selenium dalam skala nano dapat mengurangi jumlah pupuk yang dibutuhkan untuk penanaman padi, sekaligus menjaga hasil panen, meningkatkan nutrisi, memperkaya keragaman mikroba tanah, dan menekan emisi gas rumah kaca.

Dalam sebuah makalah baru yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences, untuk pertama kalinya mereka menunjukkan bahwa penggunaan skala nano tersebut berhasil dalam kondisi nyata di lapangan.

"Revolusi Hijau secara besar-besaran meningkatkan hasil pertanian pada pertengahan abad lalu. Namun, revolusi tersebut mulai kehilangan momentum. Kita perlu mencari cara untuk memperbaikinya dan membuatnya berfungsi kembali," ungkap Baoshan Xing, salah satu penulis senior dalam penelitian ini dikutip dari Phys, Selasa (23/9/2025).

Baca juga: Tanah Terdegradasi, Iklim Memburuk: Pertanian Ramah Lingkungan Jadi Solusi

Salah satu faktor yang menjadikan Revolusi Hijau begitu revolusioner adalah penemuan pupuk sintetis yang kaya nitrogen yang dapat menjaga hasil pertanian tetap tinggi.

Namun, pupuk tersebut mahal untuk diproduksi, menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah besar, dan sebagian besar pupuk tersebut terbuang ke air.

Sebagian besar tanaman hanya menggunakan sekitar 40-60 persen dari nitrogen yang diberikan kepada mereka—ukuran yang dikenal sebagai efisiensi penggunaan nitrogen atau NUE (nitrogen use efficiency).

Efisiensi penggunaan nitrogen pada padi bahkan bisa serendah 30 persen, yang berarti 70 persen dari pupuk yang digunakan petani terbuang dan mengalir ke sungai, danau, serta lautan.

Kondisi ini menyebabkan masalah lingkungan seperti eutrofikasi, zona mati (dead zones), dan berbagai masalah lainnya. Hal ini juga berarti 70 persen dari biaya pupuk yang dikeluarkan petani menjadi sia-sia.

Selain itu, ketika nitrogen diberikan ke tanah, zat tersebut berinteraksi dengan kimia dan mikroba tanah yang sangat kompleks.

Pada akhirnya, interaksi ini menyebabkan peningkatan besar dalam jumlah gas metana, amonia, dan dinitrogen monoksida yang semuanya berkontribusi pada pemanasan global.

Lebih lanjut, proses pembuatan pupuk itu sendiri merupakan kegiatan yang menghasilkan banyak gas rumah kaca.

Tim peneliti kemudian menemukan ketika unsur yang sangat penting bagi kesehatan tumbuhan disebut selenium dalam skala nano diaplikasikan pada daun dan batang tanaman padi, maka itu bisa mengurangi dampak negatif dari pemupukan nitrogen sebesar 41 persen.

Selain itu juga dapat meningkatkan keuntungan ekonomi sebesar 38,2 persen per ton padi, dibandingkan dengan praktik konvensional.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
LSM/Figur
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Pemerintah
Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara
Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau