Dalam proses peleburan, PT Vale juga mengimplementasikan pemanfaatan panas limbah dari gas buang dan slag di tanur listrik (electric furnace) yang berkontribusi terhadap efisiensi energi. Selain itu, penggunaan electric furnace turut mendukung pengurangan jejak karbon dalam pemrosesan nikel matte.
Menariknya, efisiensi tersebut semakin optimal karena seluruh proses kini dipantau melalui ruang kontrol yang baru diresmikan pada akhir 2024.
“Sistem digitalisasi itu memungkinkan perusahaan memonitor efektivitas peralatan secara real-time sehingga produksi bisa dimaksimalkan dengan konsumsi energi yang lebih hemat,” ujar penanggung jawab area converter PT Vale Indonesia Hamzin saat ditemui Kompas.com, Senin (22/9/2025).
Baca juga: Vale Indonesia Lakukan Reklamasi 3.791 Hektare Lahan Tambang di Sulsel
Dekarbonisasi juga diwujudkan lewat pemanfaatan tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA), yakni PLTA Larona, PLTA Balambano, dan PLTA Karebbe, untuk memasok energi hingga 365 megawatt ke pabrik pengolahan.
Blok Sorowako memang berada di kawasan yang dikelilingi tiga danau di Danau Komplek Malili, yakni Danau Matano, Danau Mahalona, dan Danau Towuti. Danau ini disokong oleh sejumlah aliran sungai, seperti Sungai Larona, Sungai Petea, dan Sungai Tominanga.
Potensi sumber daya air (SDA) yang melimpah di kawasan tersebut menjadi berkah bagi PT Vale Indonesia yang terus berkomitmen untuk memanfaatkan energi bersih dan terbarukan (EBT).
Dekarbonisasi diwujudkan PT Vale Indonesia lewat pemanfaatan tiga PLTA, yakni PLTA Larona, PLTA Balambano, dan PLTA Karebbe, untuk memasok energi hingga 365 megawatt ke pabrik pengolahan.Berkat ketiga PLTA tersebut, PT Vale mampu mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) hingga lebih dari satu juta ton CO2eq per tahun jika dibandingkan dengan pembangkit berbahan bakar batu bara.
Selain menunjang operasional, sebesar 10,7 megawatt energi listrik yang dihasilkan PLTA tersebut juga didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Luwu Timur melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Dekarbonisasi tidak hanya menyangkut efisiensi energi atau penggunaan energi terbarukan. Upaya mengurangi emisi juga mencakup pemulihan ekosistem yang mampu menyerap karbon dari atmosfer.
Di Sorowako, PT Vale membuktikan komitmen itu lewat Himalaya Hill—arboretum reklamasi yang lahir dari lahan bekas tambang yang dulunya tandus.
Sejak 2004, area seluas 31,04 hektare itu direklamasi dan ditanami secara intensif hingga akhirnya, pada 2025, menjelma menjadi hutan rimbun dengan lebih dari 80.000 pohon.
Baca juga: Menitip Asa Masa Depan Tambang Berkelanjutan Vale Indonesia di Danau Matano
Kanopi pepohonan yang terbentuk tidak hanya mengembalikan keanekaragaman hayati, tetapi juga berfungsi sebagai penyerap karbon alami (carbon sink) yang memperkuat strategi dekarbonisasi perusahaan demi memitigasi perubahan iklim.
“Pada fase awal, kami menanam pohon pionir, seperti sengon, kayu angin, dan bitti. Pohon-pohon ini menjadi perintis untuk menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk sehingga spesies endemik, seperti eboni dan damar, bisa tumbuh kembali,” ujar Manager Reclamation and Rehabilitation PT Vale Indonesia Charles Andrianto.
Kini, suhu yang semula bisa mencapai 34 derajat Celcius turun stabil di kisaran 25–26 derajat Celsius. Ekosistem pun pulih, fauna endemik Sulawesi kembali singgah, tumbuhan dasar tumbuh alami, dan siklus ekologi berjalan mandiri.
Arboretum reklamasi Himalaya Hill PT Vale IndonesiaHead of Mine Operation Sorowako PT Vale Mohamad Iqbal Al Farobi menambahkan bahwa keberadaan anakan pohon menjadi indikator penting karena menandakan ekosistem sudah mampu beregenerasi tanpa intervensi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya