Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Vale Indonesia Lakukan Reklamasi 3.791 Hektare Lahan Tambang di Sulsel

Kompas.com - 29/04/2025, 13:19 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Vale Indonesia Tbk menyatakan telah mereklamasi lahan tambang seluas 3.791 hektare di Sorowako, Sulawesi Selatan yang setara dengan 65 persen dari total lahan dibuka pada 2024.

Direktur Vale Indonesia, Febriany Eddy, mengakui pihaknya menjalankan langkah konkret untuk menjaga kelestarian lingkungan. Perusahaan fokus pada reklamasi area tambang, serta melakukan reforestasi hingga ke luar area konsesi.

“Vale Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai perusahaan tambang yang peduli pada masa depan lingkungan dan generasi mendatang. Operasional tambang tidak akan dapat memberikan nilai tambah, jika tidak memperhatikan linkungan,” ujar Febriany dalam keterangannya, Selasa (29/4/2025).

Baca juga: Reklamasi: Permintaan Maaf yang Nyata kepada Alam

Dia menjelaskan, fasilitas pengolahan nikel Vale di Sorowako tetap menjaga kelestarian Danau Matano yang terletak sekitar 7 kilometer (km) dari lokasi operasional. Pasalnya, Danau Matano merupakan sumber energi utama operasional perusahaan.

Danau tersebut mengalirkan air bertekanan tinggi tiga pembangkit listrik tenaga air yakni PLTA Larona, PLTA Balambano, dan PLTA Karebbe dengan total kapasitas 365 megawatt (MW). Kapasitas 10,7 MW di antaranya dihibahkan ke PLN sebagai kontribusi energi untuk masyarakat.

Badan Usaha Milik Negara ini, menjernihkan air limpasan dari polutan seperti total suspended solids, dan kromium heksavalen agar layak dikembalikan ke alam melalui fasilitas pengolahan air limbah seperti pakalangkai wastewater treatment dan lamella gravity settler (LGS).

Baca juga: Perempuan, Tambang, dan Masa Depan Berkelanjutan

Sementara itu, Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin mengatakan keberadaan Vale Indonesia tidak hanya memberikan nilai tambah ekonomi tetapi berperan menjaga lingkungan serta keanekaragaman hayati.

"Ini adalah komitmen kami sebagai perusahaan milik negara. Kami ingin kehadiran kami tidak hanya membawa nilai tambah ekonomi, tetapi juga memastikan kelestarian lingkungan untuk diwariskan kepada generasi mendatang," papar Maroef.

Menurut dia, Vale merupakan contoh perusahaan tambang Indonesia yang mampu menjalankan reklamasi dan reforestasi secara konsisten. Perusahaan itu menanam 40 persen pohon lokal, termasuk spesies endemik seperti eboni, dengen, kaloju, bitti, uru, dan agathis.

Baca juga: Pohon Sagu, Tanaman Alternatif Reklamasi Lahan Bekas Tambang di Bangka

Tercatat ada lebih dari 80.000 pohon kayu hitam jenis eboni, yang menjadikannya salah satu konservasi kayu hitam terbesar di dunia. Selain flora, perlindungan terhadap fauna pun dilakukan.

Salah satunya adalah pelestarian Cethosia myrnia, kupu-kupu bidadari yang merupakan spesies endemik Sulawesi. Lainnya, rehabilitasi lahan dilakukan di daerah aliran sungai (DAS) di 27 lokasi Sulawesi dan lima wilayah Jawa-Bali.

"Melalui program-program ini, kami ingin menyampaikan pesan sederhana bahwa mineral Indonesia harus memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat, tanpa harus mengorbankan alam dan masa depan generasi mendatang," jelas Maroef.

Baca juga: Tambang Laut Dalam Rusak Lingkungan, 40 Tahun Belum Pulih

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aliansi Perbankan Net Zero Hentikan Kegiatan Sementara
Aliansi Perbankan Net Zero Hentikan Kegiatan Sementara
Swasta
Paparan Logam dan Sulfat dalam Polusi Udara Berpotensi Tingkatkan Risiko Asma
Paparan Logam dan Sulfat dalam Polusi Udara Berpotensi Tingkatkan Risiko Asma
LSM/Figur
Tata Kelola Mangrove Perlu Terintegrasi dengan Tambak
Tata Kelola Mangrove Perlu Terintegrasi dengan Tambak
LSM/Figur
Krisis Iklim Makin Parah,  WALHI Desak Revisi UU Kehutanan Berparadigma Keadilan Ekologis
Krisis Iklim Makin Parah, WALHI Desak Revisi UU Kehutanan Berparadigma Keadilan Ekologis
LSM/Figur
Pesimis Kualitas Udara Jakarta Membaik, Menteri LH Ungkap Sumber Masalahnya
Pesimis Kualitas Udara Jakarta Membaik, Menteri LH Ungkap Sumber Masalahnya
Pemerintah
Badak di Kalimantan Timur Sisa Dua, Kemenhut Siapkan Induk Pengganti
Badak di Kalimantan Timur Sisa Dua, Kemenhut Siapkan Induk Pengganti
Pemerintah
Sudah Saatnya Penyelenggara Event Lebih Sustainable
Sudah Saatnya Penyelenggara Event Lebih Sustainable
Swasta
Studi Jawab Polemik Dampak Kebisingan Turbin Angin pada Manusia
Studi Jawab Polemik Dampak Kebisingan Turbin Angin pada Manusia
LSM/Figur
Produksi Daging Sapi di Brasil Picu Kenaikan Emisi Metana
Produksi Daging Sapi di Brasil Picu Kenaikan Emisi Metana
Pemerintah
Menteri LH: Banyak Produsen AMDK Pakai Air Tanah, Konservasi Cuma Mantra
Menteri LH: Banyak Produsen AMDK Pakai Air Tanah, Konservasi Cuma Mantra
Pemerintah
Laut Asam Melemahkan Gigi Hiu, Ancaman Baru bagi Predator Puncak
Laut Asam Melemahkan Gigi Hiu, Ancaman Baru bagi Predator Puncak
Pemerintah
'Circularity Tour', Aqua Libatkan Pelari Maybank Marathon dalam Aksi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular
"Circularity Tour", Aqua Libatkan Pelari Maybank Marathon dalam Aksi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan
Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan
Pemerintah
Hampir 80 Persen Hiu Paus di Lokasi Wisata Luka Akibat Ulah Manusia
Hampir 80 Persen Hiu Paus di Lokasi Wisata Luka Akibat Ulah Manusia
Pemerintah
Penelitian Lebih dari Satu Dekade Ungkap Populasi Hiu Paus di Papua
Penelitian Lebih dari Satu Dekade Ungkap Populasi Hiu Paus di Papua
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau