KOMPAS.com - Penelitian baru menunjukkan bahwa koral mungkin lagi tangguh dari yang diperkirakan sebelumnya.
Koral yang merupakan pondasi keanekaragaman hayati lautan diketahui menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim.
Dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Science Advances, seorang peneliti dari CU Boulder menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan bertahap pada tingkat keasaman laut selama 200 tahun terakhir, beberapa koral tampaknya mampu menyesuaikan diri dan terus menghasilkan struktur kerangka mereka yang keras dan berbatu.
"Kami menemukan bahwa koral mampu mengatur mekanisme yang mereka gunakan untuk membangun dan mempertahankan kerangka mereka meskipun lautan menjadi lebih asam," kata Jessica Hankins, penulis pertama makalah tersebut dan seorang mahasiswa Ph.D. di Department of Geological Sciences.
Baca juga: Keasaman Laut Capai Ambang Kritis, Kesehatan Laut Dunia Memburuk
"Ini adalah temuan yang mengejutkan dan memberi harapan. Meskipun demikian, kami memerlukan data yang lebih lama dan menyeluruh untuk memastikan implikasi jangka panjangnya," paparnya lagi seperti dikutip dari Phys, Rabu (1/10/2025).
Saat koral tumbuh, mereka membentuk kerangka dengan cara menyerap ion dari air laut ke dalam suatu ruang antara kerangka yang ada dan jaringan lunak di atasnya, yang disebut cairan pengapur koral (coral calcifying fluid).
Koral memiliki cara untuk mengatur kimia cairan ini agar kondisi menjadi ideal sehingga ion kalsium dan karbonat dapat bergabung membentuk kalsium karbonat, yaitu material yang membentuk kerangka koral.
Lautan menyerap kira-kira 30 persen emisi CO2 yang dihasilkan oleh kegiatan manusia. Ketika CO2 larut, ia memicu reaksi kimia di air laut yang menyebabkan permukaan air menjadi lebih korosif (asam).
Studi terdahulu mengindikasikan bahwa tingkat keasaman lautan telah naik 40 persen sejak era Revolusi Industri, dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut.
Nah, perubahan tersebut mengganggu keseimbangan senyawa karbon dalam air laut, sehingga jumlah ion karbonat, yang merupakan bahan baku bagi koral untuk membentuk kerangka mereka menurun.
Para peneliti telah memperkirakan bahwa peningkatan keasaman air laut akan menghambat pertumbuhan koral serta pemeliharaan kerangkanya, sehingga menghasilkan struktur yang rapuh dan mudah hancur.
Akan tetapi, hasil dari berbagai percobaan yang telah dilakukan sebelumnya, baik di lingkungan terkontrol maupun alami, belum memberikan kesimpulan yang pasti.
Dan kini peneliti menemukan saat kondisi lingkungan mendukung, koral cenderung mengutamakan kecepatan pertumbuhan, meskipun hasil kerangkanya menjadi agak kurang teratur di tingkat molekul.
Peneliti menemukan koral berhasil mengendalikan komposisi kimia cairan internalnya demi menjaga kelangsungan pembentukan kerangka, meskipun keasaman lautan terus meningkat. Koral-koral itu terlihat mampu melanjutkan produksi kalsium karbonat meskipun lingkungan air laut di sekitarnya kian tidak mendukung.
Baca juga: Perjanjian Laut Lepas Berlaku, Babak Baru Perlindungan Samudra Dimulai
Meskipun masih belum jelas bagaimana karang beradaptasi dengan perubahan lingkungan, Hankins mengatakan rahasianya mungkin terletak pada cairan pengapurannya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya