Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Koral Tangguh, Mulai Tunjukan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim

Kompas.com, 2 Oktober 2025, 19:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Penelitian baru menunjukkan bahwa koral mungkin lagi tangguh dari yang diperkirakan sebelumnya.

Koral yang merupakan pondasi keanekaragaman hayati lautan diketahui menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim.

Dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Science Advances, seorang peneliti dari CU Boulder menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan bertahap pada tingkat keasaman laut selama 200 tahun terakhir, beberapa koral tampaknya mampu menyesuaikan diri dan terus menghasilkan struktur kerangka mereka yang keras dan berbatu.

"Kami menemukan bahwa koral mampu mengatur mekanisme yang mereka gunakan untuk membangun dan mempertahankan kerangka mereka meskipun lautan menjadi lebih asam," kata Jessica Hankins, penulis pertama makalah tersebut dan seorang mahasiswa Ph.D. di Department of Geological Sciences.

Baca juga: Keasaman Laut Capai Ambang Kritis, Kesehatan Laut Dunia Memburuk

"Ini adalah temuan yang mengejutkan dan memberi harapan. Meskipun demikian, kami memerlukan data yang lebih lama dan menyeluruh untuk memastikan implikasi jangka panjangnya," paparnya lagi seperti dikutip dari Phys, Rabu (1/10/2025).

Saat koral tumbuh, mereka membentuk kerangka dengan cara menyerap ion dari air laut ke dalam suatu ruang antara kerangka yang ada dan jaringan lunak di atasnya, yang disebut cairan pengapur koral (coral calcifying fluid).

Koral memiliki cara untuk mengatur kimia cairan ini agar kondisi menjadi ideal sehingga ion kalsium dan karbonat dapat bergabung membentuk kalsium karbonat, yaitu material yang membentuk kerangka koral.

Lautan menyerap kira-kira 30 persen emisi CO2 yang dihasilkan oleh kegiatan manusia. Ketika CO2 larut, ia memicu reaksi kimia di air laut yang menyebabkan permukaan air menjadi lebih korosif (asam).

Studi terdahulu mengindikasikan bahwa tingkat keasaman lautan telah naik 40 persen sejak era Revolusi Industri, dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut.

Nah, perubahan tersebut mengganggu keseimbangan senyawa karbon dalam air laut, sehingga jumlah ion karbonat, yang merupakan bahan baku bagi koral untuk membentuk kerangka mereka menurun.

Para peneliti telah memperkirakan bahwa peningkatan keasaman air laut akan menghambat pertumbuhan koral serta pemeliharaan kerangkanya, sehingga menghasilkan struktur yang rapuh dan mudah hancur.

Akan tetapi, hasil dari berbagai percobaan yang telah dilakukan sebelumnya, baik di lingkungan terkontrol maupun alami, belum memberikan kesimpulan yang pasti.

Dan kini peneliti menemukan saat kondisi lingkungan mendukung, koral cenderung mengutamakan kecepatan pertumbuhan, meskipun hasil kerangkanya menjadi agak kurang teratur di tingkat molekul.

Peneliti menemukan koral berhasil mengendalikan komposisi kimia cairan internalnya demi menjaga kelangsungan pembentukan kerangka, meskipun keasaman lautan terus meningkat. Koral-koral itu terlihat mampu melanjutkan produksi kalsium karbonat meskipun lingkungan air laut di sekitarnya kian tidak mendukung.

Baca juga: Perjanjian Laut Lepas Berlaku, Babak Baru Perlindungan Samudra Dimulai

Meskipun masih belum jelas bagaimana karang beradaptasi dengan perubahan lingkungan, Hankins mengatakan rahasianya mungkin terletak pada cairan pengapurannya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
'Long Service Award', Humanisasi di Tengah Era Transaksional
"Long Service Award", Humanisasi di Tengah Era Transaksional
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau