Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia di Tengah Krisis Iklim: Mitra Strategis Dunia dan Pemasok Produk Hijau

Kompas.com, 2 Oktober 2025, 20:49 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Penulis

KOMPAS.com - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan posisi Indonesia kian penting di mata dunia sebagai mitra strategis menghadapi krisis iklim.

Hal ini terlihat dari semakin banyaknya negara yang ingin mempererat hubungan dengan Indonesia, salah satunya Swiss yang delegasinya ia temui beberapa waktu lalu.

"Mereka berharap bahwa Indonesia menjadi mitra strategis bagi negara-negara seperti Swiss. Mereka merasakan bahwa global climate change telah menyebabkan mereka harus bekerja sama. Mereka harus ikut melestarikan Indonesia, karena kelestarian Indonesia ternyata berpengaruh kepada negaranya," terang Rachmat dalam pembukaan Lestari Awards 2025 pada Kamis (2/10/2025) malam.

Menurutnya, perubahan iklim tidak hanya berdampak di negara tropis, tetapi juga negara di belahan bumi utara yang masuk wilayah subtropis.

Kembali mencontohkan Swiss, ia mengatakan, "Suhu yang meningkat juga membuat perubahan dalam proses pertanian di Swiss. Apalagi Swiss adalah negara yang juga mengandalkan pertanian. Begitu pertanian berubah, maka industri lainnya juga berubah."

Baca juga: Lestari Summit 2025: Resiliensi Jadi Jalan Menuju Indonesia Emas 2045

Di wilayah subtropis, perubahan iklim pun memunculkan tantangan baru, seperti nyamuk Aedes yang membuat wilayah belahan bumi utara pun terancam dengue. 

Indonesia, lanjut Rachmat, kini berada di garis depan dalam menghadapi triple planetary crisis. Data BNPB menunjukkan, lebih dari 5.000 bencana terjadi hampir setiap tahun, dengan 2.300 di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi yang terkait langsung dengan perubahan iklim. 

"Dan kalau diperas lagi datanya, bencana terbesar justru di Bogor, yang jaraknya hanya kurang lebih 60 kilometer dari Jakarta," katanya.

Rachmat mengingatkan bahwa tantangan krisis iklim juga terkait dengan pasar global. Mulai 2026, mekanisme carbon border adjustment akan berlaku, sehingga Indonesia harus mempercepat transformasi agar produk seperti semen, baja, pupuk, hingga listrik memenuhi standar hijau.

“Setiap produk yang berlabel lestari akan mendapat harga premium. Indonesia punya peluang besar,” jelasnya.

Ia menekankan, transformasi menuju ekonomi hijau, biru, dan sirkular hanya bisa dicapai melalui kolaborasi pemerintah, swasta, dan masyarakat. Target net zero emission 2060 menjadi arah utama pembangunan jangka panjang Indonesia.

"Lestari Awards akan semakin kokoh jika menjadi wahana inspiratif yang mampu menunjukkan semangat kolektif, memperkuat kolaborasi realitas sektoral, dan mempercepat transformasi menuju kebangunan hijau yang makin inklusif," pungkasnya.

Baca juga: Melejit 40 Persen, 126 Peserta Berebut Trofi dari Tusuk Sate di Lestari Award 2025

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
Pemerintah
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
LSM/Figur
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
LSM/Figur
Peringkat Kesehatan Laut Indonesia Naik, tapi Nelayan Kecil Masih Belum Sejahtera
Peringkat Kesehatan Laut Indonesia Naik, tapi Nelayan Kecil Masih Belum Sejahtera
LSM/Figur
Kebijakan Pencegahan Kanker Serviks di Indonesia Dinilai Belum Menyeluruh
Kebijakan Pencegahan Kanker Serviks di Indonesia Dinilai Belum Menyeluruh
LSM/Figur
Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi
Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi
Pemerintah
Di Tengah Krisis Ekologis, Riset Ungkap Peran Sekolah Bentuk Perilaku Ramah Lingkungan Siswa
Di Tengah Krisis Ekologis, Riset Ungkap Peran Sekolah Bentuk Perilaku Ramah Lingkungan Siswa
LSM/Figur
Deforestasi Skala Kecil Jadi Ancaman Serius Iklim Dunia, Mengapa?
Deforestasi Skala Kecil Jadi Ancaman Serius Iklim Dunia, Mengapa?
Pemerintah
Desa Terdampak Banjir Sumatera Disebut Lebih Banyak dari yang Dilaporkan
Desa Terdampak Banjir Sumatera Disebut Lebih Banyak dari yang Dilaporkan
Pemerintah
Generasi Baby Boomer Dinilai Efektif Dorong Keberlanjutan Perusahaan
Generasi Baby Boomer Dinilai Efektif Dorong Keberlanjutan Perusahaan
Pemerintah
Korea Selatan dan China Perluas Kerja Sama Terkait Krisis Iklim
Korea Selatan dan China Perluas Kerja Sama Terkait Krisis Iklim
Pemerintah
Banjir Sumatera, United Tractors Salurkan Bantuan untuk Pemulihan Pasca-bencana
Banjir Sumatera, United Tractors Salurkan Bantuan untuk Pemulihan Pasca-bencana
Swasta
Sharing Desa Bakti BCA, Nicholas Saputra Ingatkan Jaga Alam dan Budaya untuk Pengalaman Berkualitas
Sharing Desa Bakti BCA, Nicholas Saputra Ingatkan Jaga Alam dan Budaya untuk Pengalaman Berkualitas
Swasta
AS Mundur dari 66 Organisasi PBB dan Non-PBB, Ini Daftarnya
AS Mundur dari 66 Organisasi PBB dan Non-PBB, Ini Daftarnya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau