KOMPAS.com – Riset terbaru menunjukkan kepemimpinan kepala sekolah memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk perilaku ramah lingkungan peserta didik, di tengah meningkatnya krisis ekologis yang ditandai oleh perubahan iklim, banjir, pencemaran, hingga degradasi ekosistem di berbagai wilayah.
Temuan tersebut mengemuka dalam riset yang mengkaji perilaku pro-lingkungan siswa tingkat sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) di Jakarta.
Studi tersebut menegaskan bahwa upaya pemulihan dan pencegahan kerusakan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari perubahan perilaku manusia secara mendasar dan berkelanjutan.
“Berdasarkan hasil kajian, kepemimpinan transformasional kepala sekolah, budaya hijau sekolah, serta motivasi intrinsik siswa terbukti memiliki pengaruh signifikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap perilaku pro-lingkungan,” ujar Bambang Kulup Karnoto dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Kamis (8/1/2026).
Sebagai informasi, kajian tersebut dilakukan Bambang melalui disertasi berjudul “Pengaruh Kepemimpinan Transformasional, Budaya Hijau, dan Motivasi Intrinsik Terhadap Perilaku Pro-Lingkungan Peserta Didik SLTA di Jakarta”.
Baca juga: Kondisi Bumi Makin Mengkhawatirkan, Pemimpin Indonesia Harus Pro-Lingkungan
Disertasi itu disusun sebagai syarat memperoleh gelar doktor pada Program Studi S3 Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.
Atas riset tersebut, Bambang dinyatakan lulus setelah menjalani ujian terbuka sidang promosi doktor yang diselenggarakan pada Kamis (8/1/2026) di Gedung Bung Hatta Lantai 5, Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.
Penelitian tersebut secara khusus mengkaji relasi antara kepemimpinan sekolah, budaya organisasi, dan faktor psikologis siswa dalam membentuk perilaku ramah lingkungan.
Dalam konteks nasional, tantangan lingkungan hidup di Indonesia masih tergolong serius. Data kebencanaan menunjukkan ribuan kejadian bencana ekologis terjadi setiap tahun dan berdampak pada aspek lingkungan, sosial, serta ekonomi.
Baca juga: Pesan Natal 2025 dari PGI dan KWI, Soroti Krisis Kemanusiaan hingga Ekologi
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa perubahan perilaku masyarakat perlu dimulai sejak dini, salah satunya melalui institusi pendidikan formal.
Lebih lanjut, Bambang menjelaskan bahwa penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei.
Sampel dipilih melalui multistage random sampling, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan path analysis untuk mengukur pengaruh langsung dan tidak langsung antarvariabel.
“Penelitian ini dilakukan terhadap 553 peserta didik SMA yang berasal dari tiga sekolah negeri di Jakarta, yaitu SMA Negeri 40 Jakarta Utara, SMK Negeri 16 Jakarta Pusat, dan MA Negeri 11 Jakarta Selatan,” ujar Bambang.
Baca juga: Mudarat Tanaman Sawit di Tanah Papua: Dari Ancaman Ekologi hingga Konflik Sosial
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh langsung dan signifikan terhadap perilaku pro-lingkungan peserta didik.
Kepala sekolah yang mampu menjadi teladan, menginspirasi, serta mendorong partisipasi aktif warga sekolah dinilai efektif dalam menumbuhkan kepedulian siswa terhadap isu lingkungan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya