Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terobosan Investigasi: Pakai AI untuk Bongkar Perdagangan Satwa Liar Global

Kompas.com, 3 Oktober 2025, 20:11 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kelompok perlindungan satwa liar kini memiliki senjata baru yang ampuh melawan para penyelundup hewan.

Kelompok Dana Internasional untuk Kesejahteraan Hewan (IFAW) baru-baru ini menggunakan kecerdasan buatan untuk mengungkap bukti tersembunyi penyelundupan hewan hidup yang salah satunya terjadi antara Afrika Tengah dan Timur Tengah.

Investigasi perdagangan satwa liar berbasis AI itu dilakukan menggunakan teknologi yang diciptakan oleh perusahaan Quantifind.

Terobosan ini menunjukkan bagaimana teknologi modern dapat membantu menyelamatkan hewan yang terancam punah dari jaringan perdagangan ilegal serta menemukan informasi penting yang terlewat oleh metode tradisional.

Baca juga: Melihat Upaya Konservasi Tanaman dan Fauna Endemik Sulawesi di Taman Kehati Sawerigading Wallacea

Melansir Happy Eco News, Senin (29/9/2025) Platform Quantifind beroperasi dengan cara yang tidak sama dengan mesin pencari konvensional.

Fitur unggulan sistem ini adalah kemampuannya mengidentifikasi berbagai variasi ejaan dan nama.

Mengapa itu penting?

Pelaku kriminal sering memakai identitas fiktif atau sengaja memvariasikan penulisan nama untuk mengelabui penegak hukum.

Teknologi AI ini mampu mendeteksi perbedaan tersebut dan menautkannya kembali pada individu yang sama, bahkan dalam kasus di mana penyelidik manusia kesulitan menemukan keterkaitannya.

Perdagangan satwa hidup secara ilegal membawa risiko besar bagi kelestarian alam maupun kesehatan masyarakat.

Hewan-hewan yang ditangkap untuk dijual sering mengalami penyiksaan selama transportasi, dan tak jarang mati sebelum sampai ke tangan pembeli. Selain itu, hewan yang selamat berpotensi membawa dan menularkan penyakit kepada manusia atau satwa lain di tempat tujuan.

Di sisi lain metode penegakan hukum tradisional kesulitan mengimbangi jaringan perdagangan ilegal modern yang beroperasi lintas negara dan menggunakan teknologi canggih untuk menyembunyikan aktivitas mereka.

Para kriminal berkomunikasi melalui pesan terenkripsi, menggunakan identitas palsu, dan terus-menerus mengubah metode mereka untuk menghindari penangkapan.

Di sinilah teknologi AI menawarkan harapan baru untuk perlindungan satwa liar.

Sistem Quantifind dapat memproses sejumlah besar informasi hanya dalam hitungan menit, sesuatu yang akan membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan bagi penyelidik manusia untuk menyelesaikannya.

Sistem ini juga dapat mendeteksi pola dan hubungan yang mungkin terlewatkan oleh manusia, terutama saat berhadapan dengan jaringan kriminal internasional yang kompleks.

Baca juga: Aturan Terlalu Ketat, Taman Nasional Sulit Dukung Konservasi Berbasis Ekonomi Lokal

Kemitraan antara IFAW dan Quantifind sendiri merupakan tren yang berkembang dalam upaya konservasi

Sementara bBagi masyarakat umum, investigasi perdagangan satwa liar berbasis AI ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat membantu melindungi satwa liar yang sangat dipedulikan oleh banyak orang.

Setiap kali penyelidik menangkap pedagang satwa liar, mereka berpotensi menyelamatkan ratusan atau ribuan hewan dari penangkapan dan penjualan ilegal.

Mereka juga membantu melestarikan spesies yang seharusnya generasi mendatang memiliki kesempatan untuk melihatnya di habitat alami mereka.

Akhirnya, keberhasilan IFAW dengan perangkat investigasi bertenaga AI dapat mendorong organisasi konservasi lain untuk mengadopsi teknologi serupa, yang berpotensi menghasilkan lebih banyak penangkapan pelaku perdagangan satwa liar di seluruh dunia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
1.500 Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane, Ahli Jelaskan Efektivitasnya
1.500 Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane, Ahli Jelaskan Efektivitasnya
LSM/Figur
Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
LSM/Figur
Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal
Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal
LSM/Figur
BKSDA Sumbar Pasang Kandang Jebak, Tangani Serangan Beruang di Talamau
BKSDA Sumbar Pasang Kandang Jebak, Tangani Serangan Beruang di Talamau
Pemerintah
Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit
Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit
Swasta
Program Hidroponik Berbasis PLTS Dukung Inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong
Program Hidroponik Berbasis PLTS Dukung Inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong
BUMN
Sukabumi Resmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House
Sukabumi Resmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House
LSM/Figur
Sinar Matahari Bisa Turunkan Keanekaragaman dan Biomassa Padang Rumput
Sinar Matahari Bisa Turunkan Keanekaragaman dan Biomassa Padang Rumput
LSM/Figur
450 Spesies Ular Terancam Punah, Studi Soroti Peran Orangtua Bentuk Persepsi Anak
450 Spesies Ular Terancam Punah, Studi Soroti Peran Orangtua Bentuk Persepsi Anak
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang Jadi Tanda Rusaknya Ekosistem Hutan
Banjir Bandang Berulang Jadi Tanda Rusaknya Ekosistem Hutan
Pemerintah
Pencairan Es Antartika Ubah Sirkulasi Laut dan Pengaturan Iklim Global
Pencairan Es Antartika Ubah Sirkulasi Laut dan Pengaturan Iklim Global
LSM/Figur
Satgas RDF Rorotan Dibentuk, Warga dan Pemprov Jakarta Sepakat Cari Sumber Bau
Satgas RDF Rorotan Dibentuk, Warga dan Pemprov Jakarta Sepakat Cari Sumber Bau
LSM/Figur
KLH Sepakati Fatwa MUI Haramkan Buang Sampah ke Sungai dan Laut
KLH Sepakati Fatwa MUI Haramkan Buang Sampah ke Sungai dan Laut
Pemerintah
Kemunculan Beruang di Talamau Resahkan Warga, BKSDA Sumbar Turun Tangan
Kemunculan Beruang di Talamau Resahkan Warga, BKSDA Sumbar Turun Tangan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau