Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebijakan Iklim Dapat Dukungan, Tapi Disinformasi Picu Keraguan

Kompas.com, 9 November 2025, 18:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Mayoritas penduduk dunia percaya pada kebijakan perubahan iklim. Survei tahun 2024 yang dipublikasikan di Nature Climate Change pernah menyebutkan bahwa 87 persen penduduk dunia mendukung kebijakan perubahan iklim.

Namun sayangnya, disinformasi pun masih marak ditemui, terutama di dunia maya, yang dapat menimbulkan skeptisisme.

Ada perbedaan yang signifikan antara misinformasi dan disinformasi.

Misinformasi adalah informasi palsu atau di luar konteks yang disajikan seseorang sebagai fakta. Di sisi lain, disinformasi sengaja dibuat palsu dan dimaksudkan untuk menipu audiensnya.

Laporan baru dari lembaga pengawas Climate Action Against Disinformation (CAAD) mengkaji disinformasi iklim menjelang COP30 dan para pelaku yang memicunya.

Baca juga: 80 Persen Penduduk Bumi Ingin Pemerintah Terapkan Kebijakan Iklim Ambisius

Laporan kemudian menemukan peningkatan besar dalam disinformasi terkait konferensi iklim PBB.

Melansir Euro News, Sabtu (8/11/2025) awal tahun ini, CAAD dan Observatory for Information Integrity (OII) menemukan peningkatan 267 persen dalam disinformasi terkait COP dari Juli hingga September.

Mereka menemukan sekitar 14.000 contoh di daring. Salah satu contoh yang relevan adalah sebuah unggahan, yang dibuat oleh kecerdasan buatan generatif, tentang seorang reporter yang berdiri di kota yang terendam banjir yang menyerupai Belem, tempat COP30 berlangsung.

Video tersebut diberi judul "KEBENARAN TENTANG COP30 DI BELÉM PADA TAHUN 2025" untuk memikat penonton. Namun, reporter, banjir, dan bahkan kota tersebut sepenuhnya fiktif.

Analisis terbaru dari OII dengan mengamati grup Telegram di Brasil juga menemukan COP30 menjadi sasaran utama bagi pembuat teori konspirasi.

OII telah mengidentifikasi lebih dari 285 penyebutan COP30 menyerang konferensi itu sendiri, Belém, dan solusi iklim secara umum.

Baca juga: Misinformasi dan Disinformasi Racuni Wacana dan Polarisasi Publik

Laporan CAAD yang baru meneliti para pelaku utama yang berkontribusi pada ekosistem disinformasi, menggagalkan aksi iklim dengan menanamkan keraguan pada audiens.

Perusahaan bahan bakar fosil untuk energi dan transportasi, serta pertanian skala besar adalah beberapa pelaku utama disinformasi iklim.

"Disinformasi dirancang untuk membuat masyarakat awam meremehkan kekuatan konsensus ilmiah tentang perubahan iklim. Disinformasi ini juga menyebabkan orang-orang meremehkan kekuatan solidaritas dalam menuntut tindakan," kata laporan itu.

Namun, perusahaan teknologi juga bersalah karena membiarkan pesan menyebar tanpa kendali. Masalah-masalah ini bukanlah hal baru dan telah mengganggu konferensi-konferensi iklim sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya, konferensi iklim tahun ini akan menampilkan Inisiatif Global untuk Integritas Informasi tentang Perubahan Iklim. Ini merupakan upaya bersama antara Pemerintah Brasil, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan UNESCO yang didedikasikan untuk memperkuat penelitian dan langkah-langkah dalam mengatasi kampanye disinformasi.

Pada KTT Pemimpin pada 6 November, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Presiden Prancis Emmanuel Macron sama-sama memperingatkan bahaya disinformasi iklim.

“Disinformasi iklim saat ini mengancam demokrasi kita, agenda Paris, dan dengan demikian keamanan kolektif kita,” kata Macron.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres juga mengecam perusahaan-perusahaan yang mengambil untung dari disinformasi tersebut.

“Terlalu banyak perusahaan yang meraup keuntungan besar dari kerusakan iklim dengan miliaran dolar dihabiskan untuk melobi, menipu publik, dan menghambat kemajuan. Terlalu banyak pemimpin yang masih terjebak oleh kepentingan yang mengakar ini,” katanya.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim: Sudah Telat Selamatkan Kopi, Cokelat, dan Anggur

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perubahan Arus Teluk di Atlantik Jadi Peringatan Dini Bagi Eropa
Perubahan Arus Teluk di Atlantik Jadi Peringatan Dini Bagi Eropa
LSM/Figur
Kenalan dengan Tanaman Baru yang Daunnya Mirip Lidah Kucing, Ditemukan di Tapanuli
Kenalan dengan Tanaman Baru yang Daunnya Mirip Lidah Kucing, Ditemukan di Tapanuli
Pemerintah
Lego Investasikan Rp 47,3 Miliar untuk Teknologi Serap Karbon
Lego Investasikan Rp 47,3 Miliar untuk Teknologi Serap Karbon
Swasta
China Targetkan Pangkas Intensitas Karbon 17 Persen pada 2030
China Targetkan Pangkas Intensitas Karbon 17 Persen pada 2030
Pemerintah
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau