Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bumi Memanas, Hasil Panen di Berbagai Benua Menurun

Kompas.com, 10 November 2025, 15:07 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth.com

KOMPAS.com - Laporan UNDP Human Climate Horizons bekerja sama dengan para ahli di Climate Impact Lab menunjukkan seiring Bumi memanas, hasil panen di berbagai benua menurun.

Tim studi memperkirakan setiap kenaikan suhu bumi sebesar 3 derajat Celcius mengurangi pasokan pangan global sekitar 120 kalori per orang per hari.

“Jika iklim menghangat 3 derajat, itu pada dasarnya seperti semua orang di planet ini tidak sarapan,” kata penulis senior Solomon Hsiang, seorang profesor ilmu sosial lingkungan di Stanford Doerr School of Sustainability.

Saat ini, lebih dari 800 juta orang sudah mengalami periode tanpa cukup makanan, bahkan sebelum dampak terburuk dari perubahan iklim sepenuhnya terjadi.

Baca juga: Setengah Emisi dari Pangan Bisa Dipangkas Lewat Praktik Berkelanjutan

Penurunan hasil panen memperbesar tekanan tersebut dengan konsekuensi lebih luas seperti hilangnya pendapatan, stabilitas, dan kesehatan.

"Hasil panen pertanian penting untuk ketahanan pangan, tetapi juga menopang mata pencaharian dan membuka jalan bagi diversifikasi dan kemakmuran ekonomi. Ancaman terhadap hasil panen pertanian merupakan ancaman bagi pembangunan manusia saat ini dan di masa depan,” ungkap Pedro Conceição, direktur Kantor Laporan Pembangunan Manusia UNDP, dikutip dari Earth, Sabtu (8/11/2025).

Jika emisi terus meningkat, penurunan panen global bisa mencapai 24 persen. Pola ini berlaku di negara-negara kaya maupun miskin. Namun jika dunia berpacu menuju emisi nol bersih, penurunan hasil panen global diproyeksikan turun sekitar 11 persen.

Analisis juga mengungkapkan banyak negara miskin di dunia yang menghadapi kerugian pertanian yang besar.

Pada akhir abad ini, pemanasan global dapat memangkas median hasil panen nasional sekitar 25 hingga 30 persen, yang paling parah berdampak pada Afrika sub-Sahara dan sebagian Asia.

Singkong yang sangat penting bagi asupan kalori jutaan rumah tangga berpenghasilan rendah juga menjadi salah satu tanaman rentan sehingga menimbulkan kekhawatiran besar.

Sistem pangan di kawasan ini juga memiliki bantalan keuangan lebih kecil dan infrastruktur yang lebih lemah. Kombinasi itu membuat mereka sangat rentan ketika guncangan hasil panen melanda, meningkatkan risiko krisis yang lebih luas.

Baca juga: Intervensi Pangan Berkelanjutan Perlu Libatkan Anak dan Remaja

Ekspor juga tak luput dari permasalahan ini. Di bawah pemanasan global, Amerika Serikat dan negara-negara penghasil gandum dan kedelai lainnya mengalami beberapa penurunan produksi terbesar yang diproyeksikan hingga 40 persen.

Penurunan tersebut dapat menyebabkan volatilitas baru ke dalam harga global, arus perdagangan, dan stabilitas politik.

Kesimpulannya pun jelas bahwa mitigasi dan adaptasi sama-sama penting. Pengurangan emisi yang signifikan secara drastis mengurangi skala kerugian.

Sementara itu investasi yang terarah termasuk sistem benih, varietas tahan panas dan kekeringan, irigasi, dan pembiayaan petani dapat semakin memperlemah dampak dari penurunan panen global.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
GEF Kucurkan Rp 74,6 Miliar untuk Lindungi Biodiversitas dari Spesies Invasif
GEF Kucurkan Rp 74,6 Miliar untuk Lindungi Biodiversitas dari Spesies Invasif
Pemerintah
Peringatan Hari Air Sedunia, Akses Air Minum Aman di Indonesia Masih Jadi Tantangan
Peringatan Hari Air Sedunia, Akses Air Minum Aman di Indonesia Masih Jadi Tantangan
Swasta
Menambang Nikel di Kota, Ini Keuntungan Daur Ulang Baterai Bekas
Menambang Nikel di Kota, Ini Keuntungan Daur Ulang Baterai Bekas
Pemerintah
Kolaborasi Beorganik dan Anteraja Hadirkan Ruang Berbagi untuk Anak-anak Rumah Yatim
Kolaborasi Beorganik dan Anteraja Hadirkan Ruang Berbagi untuk Anak-anak Rumah Yatim
Swasta
Potensi Hidrogen Hijau di Indonesia Capai 345,6 juta Ton per Tahun, Apa Tantangannya?
Potensi Hidrogen Hijau di Indonesia Capai 345,6 juta Ton per Tahun, Apa Tantangannya?
LSM/Figur
Tren Cyberbullying pada Anak Meningkat, Diperparah oleh AI
Tren Cyberbullying pada Anak Meningkat, Diperparah oleh AI
Pemerintah
Gandeng Pegadaian, Pemkot Banjarmasin Inisiasi Program Menabung Sampah Jadi Emas
Gandeng Pegadaian, Pemkot Banjarmasin Inisiasi Program Menabung Sampah Jadi Emas
Pemerintah
Kementerian ESDM Lakukan Road Test B50, Performa Dinilai Bagus
Kementerian ESDM Lakukan Road Test B50, Performa Dinilai Bagus
Pemerintah
Bantargebang Direncanakan Jadi Lokasi Fasilitas Waste to Energy
Bantargebang Direncanakan Jadi Lokasi Fasilitas Waste to Energy
Pemerintah
Virus Pandemi Bisa Menular ke Manusia Tanpa Adaptasi Awal
Virus Pandemi Bisa Menular ke Manusia Tanpa Adaptasi Awal
LSM/Figur
BRIN Kembangkan AI untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional
BRIN Kembangkan AI untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Pemerintah
Zulhas Sebut Fasilitas Waste to Energy Bakal Beroperasi 2027 di 4 Kota
Zulhas Sebut Fasilitas Waste to Energy Bakal Beroperasi 2027 di 4 Kota
Pemerintah
Investasi AI Masih Berlanjut, Ini Survei KPMG pada 100 CEO Perusahaan
Investasi AI Masih Berlanjut, Ini Survei KPMG pada 100 CEO Perusahaan
Swasta
Akademisi UGM Usulkan Perluasan Habitat Komodo di Flores
Akademisi UGM Usulkan Perluasan Habitat Komodo di Flores
LSM/Figur
Hukum Kesetaraan Kerja Perempuan Baru Diterapkan Separuhnya
Hukum Kesetaraan Kerja Perempuan Baru Diterapkan Separuhnya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau