KOMPAS.com - Laporan UNDP Human Climate Horizons bekerja sama dengan para ahli di Climate Impact Lab menunjukkan seiring Bumi memanas, hasil panen di berbagai benua menurun.
Tim studi memperkirakan setiap kenaikan suhu bumi sebesar 3 derajat Celcius mengurangi pasokan pangan global sekitar 120 kalori per orang per hari.
“Jika iklim menghangat 3 derajat, itu pada dasarnya seperti semua orang di planet ini tidak sarapan,” kata penulis senior Solomon Hsiang, seorang profesor ilmu sosial lingkungan di Stanford Doerr School of Sustainability.
Saat ini, lebih dari 800 juta orang sudah mengalami periode tanpa cukup makanan, bahkan sebelum dampak terburuk dari perubahan iklim sepenuhnya terjadi.
Baca juga: Setengah Emisi dari Pangan Bisa Dipangkas Lewat Praktik Berkelanjutan
Penurunan hasil panen memperbesar tekanan tersebut dengan konsekuensi lebih luas seperti hilangnya pendapatan, stabilitas, dan kesehatan.
"Hasil panen pertanian penting untuk ketahanan pangan, tetapi juga menopang mata pencaharian dan membuka jalan bagi diversifikasi dan kemakmuran ekonomi. Ancaman terhadap hasil panen pertanian merupakan ancaman bagi pembangunan manusia saat ini dan di masa depan,” ungkap Pedro Conceição, direktur Kantor Laporan Pembangunan Manusia UNDP, dikutip dari Earth, Sabtu (8/11/2025).
Jika emisi terus meningkat, penurunan panen global bisa mencapai 24 persen. Pola ini berlaku di negara-negara kaya maupun miskin. Namun jika dunia berpacu menuju emisi nol bersih, penurunan hasil panen global diproyeksikan turun sekitar 11 persen.
Analisis juga mengungkapkan banyak negara miskin di dunia yang menghadapi kerugian pertanian yang besar.
Pada akhir abad ini, pemanasan global dapat memangkas median hasil panen nasional sekitar 25 hingga 30 persen, yang paling parah berdampak pada Afrika sub-Sahara dan sebagian Asia.
Singkong yang sangat penting bagi asupan kalori jutaan rumah tangga berpenghasilan rendah juga menjadi salah satu tanaman rentan sehingga menimbulkan kekhawatiran besar.
Sistem pangan di kawasan ini juga memiliki bantalan keuangan lebih kecil dan infrastruktur yang lebih lemah. Kombinasi itu membuat mereka sangat rentan ketika guncangan hasil panen melanda, meningkatkan risiko krisis yang lebih luas.
Baca juga: Intervensi Pangan Berkelanjutan Perlu Libatkan Anak dan Remaja
Ekspor juga tak luput dari permasalahan ini. Di bawah pemanasan global, Amerika Serikat dan negara-negara penghasil gandum dan kedelai lainnya mengalami beberapa penurunan produksi terbesar yang diproyeksikan hingga 40 persen.
Penurunan tersebut dapat menyebabkan volatilitas baru ke dalam harga global, arus perdagangan, dan stabilitas politik.
Kesimpulannya pun jelas bahwa mitigasi dan adaptasi sama-sama penting. Pengurangan emisi yang signifikan secara drastis mengurangi skala kerugian.
Sementara itu investasi yang terarah termasuk sistem benih, varietas tahan panas dan kekeringan, irigasi, dan pembiayaan petani dapat semakin memperlemah dampak dari penurunan panen global.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya