KOMPAS.com - Panel surya terapung muncul sebagai solusi energi bersih yang menjanjikan. Tetapi sebuah studi baru yang diterbitkan di Limnologica menemukan bahwa dampak lingkungan dari panel surya terapung masih dipertanyakan.
Dampak lingkungannya, menurut studi bervariasi tergantung di mana sistem tersebut diterapkan.
"Tiap waduk akan merespons secara berbeda berdasarkan faktor-faktor seperti kedalaman, dinamika sirkulasi, dan spesies ikan. Tidak ada formula yang cocok untuk semua dalam merancang sistem karena ini masalah ekologi," terang Evan Bredeweg, penulis utama studi.
Simulasi menunjukkan bahwa sistem panel surya terapung memang memiliki efek pendinginan pada air waduk. Namun, efek ini tidak sepenuhnya positif bagi ekosistem.
Hasil ini didapat setelah peneliti dari Oregon State University dan U.S. Geological Survey memodelkan dampak sistem fotovoltaik surya terapung pada 11 waduk di enam negara bagian Amerika Serikat.
Baca juga: Bawang Merah Jadi Bahan Berkelanjutan untuk Proteksi Panel Surya
Melansir Phys, Selasa (18/11/2025), panel surya terapung menawarkan beberapa keuntungan. Efek pendinginan air dapat meningkatkan efisiensi panel sekitar 5–15 persen.
Sistem ini juga dapat diintegrasikan dengan infrastruktur hidroelektrik dan transmisi yang ada. Sistem ini juga dapat membantu mengurangi penguapan, yang sangat berharga di iklim yang lebih hangat dan kering.
Namun, di balik manfaatnya ada pertanyaan mengenai dampaknya terhadap ekosistem perairan.
"Memahami risiko lingkungan dan variabilitas respons ekologis terhadap penerapan fotovoltaik terapung sangat penting untuk memberikan informasi kepada badan pengatur dan memandu pengembangan energi berkelanjutan," kata Bredeweg.
Studi baru ini menggunakan teknik pemodelan canggih untuk menilai implikasi pemasangan panel surya terapung di seluruh waduk.
Baca juga: Pabrik Panel Surya Terbesar di Indonesia Bakal Produksi 1,4 Juta Lembar Per Tahun
Para peneliti memeriksa waduk di Oregon, Ohio, Washington, Idaho, Tennessee, dan Arkansas, menganalisis periode dua bulan di musim panas dan musim dingin.
Mereka menemukan bahwa perubahan suhu dan dinamika oksigen yang disebabkan oleh panel surya terapung dapat memengaruhi ketersediaan habitat bagi spesies ikan air hangat dan air dingin.
Misalnya, suhu air yang lebih dingin di musim panas umumnya menguntungkan spesies air dingin, meskipun efek ini paling terasa ketika cakupan panel melebihi 50 persen.
Para peneliti mencatat perlunya penelitian berkelanjutan dan pemantauan jangka panjang untuk memastikan sistem fotovoltaik terapung mendukung tujuan energi bersih tanpa mengorbankan ekosistem perairan.
"Sejarah telah menunjukkan bahwa modifikasi skala besar pada ekosistem air tawar, seperti bendungan hidroelektrik, dapat menimbulkan konsekuensi yang tak terduga dan berkepanjangan," tambah Bredeweg.
Baca juga: Greenpeace: Komitmen Iklim Anggota G20 Tak Ambisius
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya