Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Ingin Bangun PLTN, tapi Geopolitik Jadi Pertimbangan Utama

Kompas.com, 21 November 2025, 18:31 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia hingga kini belum memanfaatkan energi nuklir sebagai sumber pembangkit listrik, meski peluangnya sudah masuk dalam rencana besar energi nasional.

Pemerintah mulai melirik potensi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) setelah memasukkannya dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) melalui Keputusan Menteri ESDM 8/2025. Saat ini, sejumlah aspek masih dikaji, mulai dari lokasi PLTN, analisis untung-rugi, hingga negara mitra potensial.

"Tempatnya sedang kami evaluasi. Kami mesti hati-hati," ujar Penasihat Presiden Urusan Energi, Purnomo Yusgiantoro, di Jakarta, Kamis (20/11/2025).

Menurut Purnomo, penerimaan publik menjadi salah satu faktor paling krusial. Ia mencontohkan rencana pembangunan PLTN di Gunung Muria, Jepara, yang batal karena penolakan warga setempat.

"Jadi, enggak gampang. Public acceptance itu penting sekali," tutur Purnomo.

Analisis Untung-Rugi dan Pertimbangan Geopolitik

Pemerintah menghitung untung-rugi pembangunan PLTN melalui analisis manfaat dan biaya (benefit-cost analysis), termasuk memasukkan keuntungan tidak kasat mata (intangible) yang mempengaruhi keberlanjutan proyek.

Selain faktor teknis dan ekonomi, memilih negara mitra juga memerlukan pertimbangan geopolitik yang matang.

Baca juga: PLTN Pulau Gelasa dan Ujian Tata Kelola Risiko

"Arahan presiden (terkait energi nuklir) itu sifatnya strategis. Ya, waktu kami diminta, kami juga jelaskan. Ini kriterianya dan lain sebagainya. Tapi, ujung-ujungnya apa? Geopolitik. Jadi, pilihan itu kaitannya dengan geopolitik," ucapnya.

Purnomo menyampaikan bahwa timnya telah menyerahkan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai tujuh negara potensial untuk kerja sama PLTN, yaitu Rusia, Amerika Serikat, Jepang, China, Jerman, dan Korea Selatan.

"Jadi, kata kuncinya dari tujuh negara itu, geopolitiknya bagaimana? Apakah mau pakai BRICS atau enggak? Geopolitik ini kami enggak bisa mengatur," ujarnya.

Nuklir dalam Peta Transisi Energi Indonesia

Purnomo menegaskan bahwa Indonesia berupaya memanfaatkan transisi energi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Selama masa transisi, eksplorasi dan produksi energi fosil tetap berjalan dengan syarat menggunakan teknologi ramah lingkungan.

Di saat bersamaan, pemerintah terus mendorong pengembangan energi nonfosil seperti air, surya, angin, panas bumi, bioenergi, hidrogen, dan nuklir.

"Kemudian non fosil ya, air, surya, angin, panas bumi terus digalakkan ya, baik energi, hidrogen, nuklir dan lain sebagainya, karena dia mempunyai multiplier effect," tutur Purnomo.

Baca juga: PLTN Jadi Opsi Strategis Transisi Energi, Pendanaan Jadi Tantangan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KKP Perketat Pengawasan 25 Spesies Ikan dan Penyu, Cegah Penyelundupan
KKP Perketat Pengawasan 25 Spesies Ikan dan Penyu, Cegah Penyelundupan
Pemerintah
CDP Umumkan 877 Perusahaan Raih Skor A Tahun 2025, Kinerja Lingkungan Meningkat
CDP Umumkan 877 Perusahaan Raih Skor A Tahun 2025, Kinerja Lingkungan Meningkat
Swasta
Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya
Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya
Pemerintah
Survei Ungkap Pasar Karbon Sukarela Diprediksi Tumbuh Pesat
Survei Ungkap Pasar Karbon Sukarela Diprediksi Tumbuh Pesat
Swasta
Pengelolaan Sampah di Indonesia Buruk, Wamendagri Ingatkan Ancaman Kesehatan dan Krisis Iklim
Pengelolaan Sampah di Indonesia Buruk, Wamendagri Ingatkan Ancaman Kesehatan dan Krisis Iklim
Pemerintah
99 Ton Ikan Salem Ilegal Gagal Masuk Indonesia, Kerugiannya Bisa Capai Rp 4,8 Miliar
99 Ton Ikan Salem Ilegal Gagal Masuk Indonesia, Kerugiannya Bisa Capai Rp 4,8 Miliar
Pemerintah
Darurat Sampah, Pemkot Tangsel Salahkan Pedagang Kaki Lima
Darurat Sampah, Pemkot Tangsel Salahkan Pedagang Kaki Lima
Pemerintah
Sri Mulyani Masuk Dewan Gates Foundation Milik Bill Gates, Ini Jejaknya di Indonesia
Sri Mulyani Masuk Dewan Gates Foundation Milik Bill Gates, Ini Jejaknya di Indonesia
Pemerintah
Sekjen PBB: Investasi Energi Bersih Global tembus 2,2 Triliun Dollar AS
Sekjen PBB: Investasi Energi Bersih Global tembus 2,2 Triliun Dollar AS
Pemerintah
Kemandirian BUMN Jadi Fondasi Strategis Menuju ESG dan Negara Kesejahteraan
Kemandirian BUMN Jadi Fondasi Strategis Menuju ESG dan Negara Kesejahteraan
LSM/Figur
IEA: Keluarnya AS Tak Pengaruhi Komitmen Transisi Energi di Asean
IEA: Keluarnya AS Tak Pengaruhi Komitmen Transisi Energi di Asean
Pemerintah
Kubah Es Raksasa di Greenland Berpotensi Mencair Lagi, Ini Penjelasan Pakar
Kubah Es Raksasa di Greenland Berpotensi Mencair Lagi, Ini Penjelasan Pakar
LSM/Figur
Empat Negara Asia Ini Layak Jadi Referensi Implementasi Program WTE
Empat Negara Asia Ini Layak Jadi Referensi Implementasi Program WTE
LSM/Figur
Pertamina Hulu Mahakam Rehabilitasi 345 Hektar DAS Manggar dan Sungai Wain Kalimantan Timur
Pertamina Hulu Mahakam Rehabilitasi 345 Hektar DAS Manggar dan Sungai Wain Kalimantan Timur
Pemerintah
5 Model Adaptasi untuk Hadapi Krisis Iklim, Ekowisata hingga Asuransi
5 Model Adaptasi untuk Hadapi Krisis Iklim, Ekowisata hingga Asuransi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau