Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

8 Juta Anak Indonesia Memiliki Darah Mengandung Timbal Melebihi Batas WHO

Kompas.com, 16 November 2025, 10:45 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) tahun 2021 mengungkapkan, 8 juta anak Indonesia diperkirakan memiliki kadar timbal dalam darah di atas 5 mikrogram per desiliter. Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Wahyu Pudji Nugraheni, mengatakan angka itu melebihi ambang batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Hasil kajian literatur review penyakit atau gangguan yang disebabkan atau diperparah paparan timbal pada anak ada tujuh yang kami berhasil kumpulkan. Pertama, penurunan kemampuan kognitif atau kehilangan IQ, neurodevelopmental impairment," ujar Pudji dalam webinar, Kamis (13/11/2025).

Dampak kedua, gangguan perkembangan dan keterlambatan perkembangan. Kemudian, gangguan perilaku, masalah perhatian, stunting dan hambatan pertumbuhan, anemia atau gangguan hematologi, kerusakan ginjal, gangguan fungsi ginjal, nephrotoxicitas, hingga risiko kardiovaskuler jangka panjang, termasuk hipertensi di masa dewasa.

Baca juga: Tingkat Konsentrasi Timbal di Udara Berdampak pada Kematian Bayi

Berdasarkan analisis data Global Burden of Disease (GBD) 2023, beban penyakit akibat timbal terus meningkat sejak 1990 hingga 2023.

"Hal ini menandakan bahwa beban penyakit akibat paparan timbal cenderung memburuk dalam tiga dekade terakhir," tutur dia.

BRIN menggunakan pendekatan Disability Adjusted Life Years (DALYs) untuk mengestimasi beban penyakit akibat paparan timbal. Menurut Pudji, di Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi kedua tertinggi setelah Myanmar terkait DALYs akibat paparan timbal.

Angkanya meningkat tajam sejak awal 2000-an, menunjukkan bahwa paparan timbal pada anak di dalam negeri menjadi isu kesehatan masyarakat yang makin serius. Kendati bukan merupakan penyebab utama, timbal turut meningkatkan risiko jantung iskemik maupun penyakit yang berkaitan dengan saraf.

"Sepanjang 1990 hingga 2023, penyakit jantung iskemik dan stroke tetap menempati peringkat pertama dan kedua sebagai penyakit dengan beban tertinggi akibat papanan timbal," jelas Pudji.

Baca juga: Mayoritas Penduduk Negara Berpenghasilan Menengah Rasakan Dampak Krisis Iklim

"Hal ini menunjukkan bahwa timbal berkontribusi besar terhadap peningkatan risiko gangguan pembuluh darah dan jantung melalui mekanisme peningkatan tekanan darah, stres oksidatif, dan kerusakan endotel pembuluh darah," imbuh dia.

Beban penyakit akibat timbal juga menyebabkan pola peningkatan pada kelompok usia lanjut. Dampak paparan jangka panjang mulai terlihat signifikan sejak usia 40 tahun, dan mencapai puncaknya pada kelompok usia 95 tahun ke atas.

"Dampak paparan timbal bersifat kumulatif dan progresif dimana efek toksik jangka panjang semakin memperparah kondisi kesehatan lansia yang sudah rentan," tutur Pudji.

Secara global, paparan timbal diperkirakan menyebabkan 1 juta kematian per tahun dengan beban terbesar berada di negara berkembang. Dampak jangka panjang pada anal berupa penurunan IQ dan gangguan perilaku, bersifat irreversibel atau tak bisa kemballi normal, dan mempengaruhi produktivitas.

Studi internasional memperkirakan kerugian ekonomi akibat paparan timbal dapat mencapai 1-3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara berkembang.

"Di Indonesia, penelitian tentang beban ekonomi spesifik akibat paparan timbal pada anak masih sangat berbatas. Penelitian ini diperlukan untuk memberikan evidence-based policy support dalam upaya perlindungan anak dari paparan timbal," ungkap Pudji.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
LSM/Figur
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Pemerintah
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
LSM/Figur
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pemerintah
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
Pemerintah
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
LSM/Figur
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau