Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Satu Dekade RI Gagal Capai Target Bauran Energi Terbarukan, Penasihat Presiden: Memang Kita Negara Berkembang

Kompas.com, 21 November 2025, 11:59 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia kembali gagal mencapai target bauran energi terbarukan.

Laporan Indonesia Energy Transition Outlook (IETO) 2026 menunjukkan, target 23 persen energi terbarukan yang ditetapkan pada 2014 belum pernah tercapai dalam sembilan tahun terakhir. Hingga pertengahan 2025, bauran energi bersih baru menyentuh sekitar 16 persen.

Institute for Essential Services Reform (IESR) memperingatkan bahwa ketergantungan pada energi fosil dapat berbalik menghambat pertumbuhan ekonomi.

IESR memproyeksikan, jika pola penggunaan energi fosil tetap dipertahankan, maka upaya mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 justru akan menaikkan emisi hingga 17 persen pada 2040. Kondisi ini membuat target net zero emission (NZE) 2060 semakin berat dan mahal.

Menurut Chief Executive Officer (CEO) IESR Fabby Tumiwa, Indonesia berada dalam posisi paradoks.

Di satu sisi, Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang melimpah. Namun di sisi lain, pemerintah masih enggan melepaskan ketergantungan dari PLTU, bertolak belakang dengan tren global.

Ia menggarisbawahi tiga hambatan struktural utama yang memperlambat transisi energi, yaitu kerangka regulasi yang tidak koheren, kebijakan fiskal yang masih memberi insentif pada energi fosil, serta fragmentasi institusi dan prioritas.

"Ketidakmampuan pemerintah mengatasi hambatan-hambatan membuat pengembangan energi terbarukan dan efisiensi energi terhambat, seiring memburuknya iklim investasi energi bersih,” ujar Fabby di Jakarta, Kamis (20/11/2025).

Fabby menilai transisi energi Indonesia mengalami kemandekan. Dominasi energi fosil semakin menguat, sementara komitmen energi terbarukan masih sebatas retorika. Ia mencontohkan janji Presiden Prabowo Subianto untuk menghentikan energi fosil dalam 10–15 tahun dan mencapai 100 persen energi terbarukan.

Baca juga: IESR: Revisi Perpres 112 Tahun 2022 Ancam Target Transisi Energi

"Apa yang disampaikan berbeda dengan yang dilakukan. Inilah yang terjadi dengan transisi energi di Indonesia," tuturnya.

Pemerintah sendiri membagi transformasi energi ke dalam tiga tahap, dimulai dari dekarbonisasi. Menurut Penasihat Presiden Urusan Energi Purnomo Yusgiantoro, langkah awalnya adalah pengurangan emisi melalui teknologi ramah lingkungan.

Ia menjelaskan dinamika perdebatan soal penghapusan PLTU.

"Waktu itu beberapa orang itu terjadi perdebatan, penghapusan PLTU atau pensiun dini secara bertahap. Maka, oke (pemensiunan) PLTU secara bertahap dan di mix dengan biomassa, kemudian muncul tahap energi baru terbarukan. Itu semua dilakukan karena kami berada di negara berkembang," ucap Penasehat Presiden Urusan Energi, Purnomo Yusgiantoro.

Tahap berikutnya adalah desentralisasi energi terbarukan. Purnomo berharap program Koperasi Merah Putih dapat memperluas pemanfaatan energi bersih, termasuk di wilayah 3T melalui sistem peer to peer. Tahap terakhir adalah digitalisasi energi. Namun, ia menegaskan transisi tidak bisa berlangsung instan.

"Energi fosil tidak serta-merta dihilangkan, tapi perlahan-lahan dihilangkan, lalu digantikan oleh energi terbarukan, karena tidak bisa cepat begitu saja," ujarnya.

Soal target 23 persen energi terbarukan yang masih jauh dari capaian, Purnomo meminta pemakluman.

"Tidak apa-apa, memang kita negara berkembang, jadi tidak mudah. Ya, karena urusan teknologi, urusan keekonomian, urusan pemerintahan, urusan insentif, ya, urusan infrastruktur itu memang kita mundurkan," ucapnya.

Baca juga: IESR Desak Reformasi Pengadaan EBT, Lancarkan Transisi Energi yang Tersendat

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tiru Kesuksesan Sawit, Prabowo Minta Kementan Hilirisasi 7 Komoditas Ini
Tiru Kesuksesan Sawit, Prabowo Minta Kementan Hilirisasi 7 Komoditas Ini
Pemerintah
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
LSM/Figur
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
LSM/Figur
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
LSM/Figur
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Pemerintah
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Swasta
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Pemerintah
Krisis Iklim Bikin Industri Asuransi Asia Pasifik Cemas
Krisis Iklim Bikin Industri Asuransi Asia Pasifik Cemas
LSM/Figur
Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan
Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan
Swasta
Kapan Musim Kemarau 2026 di Indonesia? Ini Kata BMKG
Kapan Musim Kemarau 2026 di Indonesia? Ini Kata BMKG
Pemerintah
Artefak Bersejarah di Bawah Laut Terancam Krisis Iklim, Warisan Budaya Terancam Lenyap
Artefak Bersejarah di Bawah Laut Terancam Krisis Iklim, Warisan Budaya Terancam Lenyap
LSM/Figur
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
LSM/Figur
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Pemerintah
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Swasta
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau