Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Sejumlah Kecil Plastik Mematikan Bagi Hewan Laut

Kompas.com, 24 November 2025, 10:20 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Plastik menjadi ancaman mematikan bagi kehidupan laut. Bahkan sejumlah kecil plastik yang berukuran 12 hingga 15 gram saja dapat membunuh burung laut.

Perkiraan tersebut berasal dari analisis baru yang menggabungkan lebih dari 10.000 autopsi hewan untuk memastikan hubungan langsung antara plastik yang tertelan dan kematian satwa liar.

Penelitian ini dipimpin oleh Erin Murphy, seorang ahli ekologi kelautan di Ocean Conservancy (OC) yang mengkhususkan diri dalam bagaimana plastik membahayakan satwa liar.

Studi tersebut berfokus pada makroplastik seperti balon, botol, dan alat tangkap ikan. Hewan sering salah mengira benda-benda ini sebagai mangsa atau menelannya bersama makanan.

Melansir Earth, Sabtu (22/11/2025) untuk setiap bangkai, para peneliti melakukan nekropsi, pemeriksaan internal hewan yang mati yang menunjukkan adanya luka dan benda asing.

Baca juga: Industri Pelayaran Komitmen Atasi Krisis Polusi Plastik di Lautan

Tim tersebut dengan hati-hati membuka sistem pencernaan, menghitung setiap potongan plastik, dan mencatat di mana tepi tajam, belitan, atau penyumbatan sejajar dengan jaringan yang rusak.

Di semua spesies, sekitar satu dari lima hewan memiliki plastik di sistem pencernaannya pada saat kematian.

Sampel mencakup 57 spesies burung laut, ketujuh spesies penyu laut, dan 31 spesies mamalia laut, mulai dari lumba-lumba kecil hingga paus besar.

Persentase plastik tertinggi ditemukan pada penyu laut, diikuti oleh burung laut, dan terendah pada mamalia laut, menunjukkan bahwa paparannya tidak merata.

Cedera biasanya terjadi di saluran pencernaan. Benda-benda besar dapat menyumbat lengkungan sempit, menusuk jaringan halus, atau memelintir bagian usus sedemikian rupa sehingga aliran darah dan pencernaan terhenti.

Di luar studi ini, para ilmuwan telah mencatat konsumsi plastik pada hampir 1.300 spesies laut, termasuk setiap famili burung laut dan mamalia laut, serta semua penyu laut.

Pola bahaya yang konsisten ini menunjukkan bahwa plastik merupakan pemicu stres lingkungan yang luas, alih-alih masalah yang terbatas pada beberapa spesies.

Tim tersebut melihat bahwa tidak semua plastik sama berbahayanya begitu mereka mencapai usus hewan. Pola dalam data menunjukkan bahwa setiap kelompok hewan menghadapi risiko dari jenis plastik berbeda.

Untuk burung laut, hanya enam potong karet yang masing-masing lebih kecil dari kacang polong sudah cukup untuk memberikan peluang kematian sekitar 90 persen.

Sementara penyu laut dewasa berada dalam risiko kematian yang hampir pasti (90 persen) jika mereka menelan beberapa ratus potongan plastik tipis mirip kantong.

Baca juga: Ancaman Abadi Sampah Plastik, Bertahan di Permukaan Laut Lebih dari 100 Tahun

Di antara mamalia laut, tali pancing, jaring, dan tali tambang sangat berbahaya. Dalam model tersebut, menelan kurang dari tiga puluh potong puing semacam ini sudah cukup untuk membuat paus besar sekalipun berisiko tinggi mati.

Hampir separuh dari hewan yang telah memakan plastik merupakan spesies yang masuk daftar IUCN Red List , dengan risiko kepunahan yang tinggi sehingga makin mendekatkan mereka menuju kepunahan.

Menurut Chelsea Rochman, seorang ahli ekologi di University of Toronto (UT), penelitian ini memberikan landasan penting bagi para pengambil keputusan untuk memahami ambang batas risiko.

Rochman dan banyak pihak lainnya berpendapat bahwa menetapkan batasan yang jelas terhadap produksi dan limbah plastik adalah langkah selanjutnya jika temuan ini ditanggapi dengan serius.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Babak Baru Kasus Anak Gajah Mati di TN Tesso Nilo, Polisi Tangkap Tersangka
Babak Baru Kasus Anak Gajah Mati di TN Tesso Nilo, Polisi Tangkap Tersangka
Pemerintah
Mengapa Banyak Karyawan Resign Setelah Dapat THR Lebaran?
Mengapa Banyak Karyawan Resign Setelah Dapat THR Lebaran?
LSM/Figur
Bahan Kimia Abadi PFAS Terdeteksi dalam Makanan Anjing dan Kucing
Bahan Kimia Abadi PFAS Terdeteksi dalam Makanan Anjing dan Kucing
LSM/Figur
AC Bisa Tambah Pemanasan Global di Bumi 0,05 Derajat, Mengapa?
AC Bisa Tambah Pemanasan Global di Bumi 0,05 Derajat, Mengapa?
LSM/Figur
Saat Petani Nilam di Aceh mulai “Bankable”, Ini Peran Data dalam Inklusi Keuangan
Saat Petani Nilam di Aceh mulai “Bankable”, Ini Peran Data dalam Inklusi Keuangan
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Air Limbah Ternyata Jauh Lebih Besar
Emisi Gas Rumah Kaca dari Air Limbah Ternyata Jauh Lebih Besar
LSM/Figur
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Harga Minyak Global Naik, Bagaimana Harga BBM di Indonesia?
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Harga Minyak Global Naik, Bagaimana Harga BBM di Indonesia?
LSM/Figur
Peneliti BRIN Ingatkan Ancaman Pada Ekosistem Padang Lamun akibat Reklamasi
Peneliti BRIN Ingatkan Ancaman Pada Ekosistem Padang Lamun akibat Reklamasi
Pemerintah
United Tractors Berdayakan Masyarakat Lereng Gunung Arjuno lewat Program Desa UniTy
United Tractors Berdayakan Masyarakat Lereng Gunung Arjuno lewat Program Desa UniTy
Swasta
Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang
Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang
LSM/Figur
Bagai Pedang Bermata Dua, Permintaan AC Naik Meski Perburuk Krisis Iklim
Bagai Pedang Bermata Dua, Permintaan AC Naik Meski Perburuk Krisis Iklim
LSM/Figur
Bukan Gaji, Pekerja di Indonesia 'Happy' karena Rekan dan Budaya Perusahaan
Bukan Gaji, Pekerja di Indonesia "Happy" karena Rekan dan Budaya Perusahaan
LSM/Figur
WWF Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Jurusan, Ini Syaratnya
WWF Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Jurusan, Ini Syaratnya
LSM/Figur
Kementerian LH Panggil Pemkab Bekasi Minta Tanggung Jawab soal Pengelolaan Sampah
Kementerian LH Panggil Pemkab Bekasi Minta Tanggung Jawab soal Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Skill Apa yang Wajib Dikuasai Pekerja pada Era AI?
Skill Apa yang Wajib Dikuasai Pekerja pada Era AI?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau