Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Diminta Revisi Peta Kawasan Hutan yang Sebabkan Konflik Agraria

Kompas.com, 29 November 2025, 14:21 WIB
Afdhalul Ikhsan,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

“Kalau sudah dikuasai dan dikelola masyarakat sesuai hukum agraria, kenapa mesti disita atau dialihkan ke pihak lain?” ucapnya.

Ia juga menyoroti konflik serupa banyak terjadi di Kabupaten Bogor. Hampir seluruh desa di wilayah ini disebut masuk klaim kawasan hutan, termasuk kasus Desa Sukawangi, Kecamatan Sukamakmur, yang sempat ramai beberapa waktu lalu.

Desa Sukawangi diklaim berada dalam kawasan hutan meski telah lama dihuni dan dibudidayakan masyarakat. Akibatnya, ada sekitar 700 hektare lahan terdampak.

"Apa gunanya sih kita ngotot itu sebagai kawasan hutan kalau sudah dikelola masyarakat dengan baik dan legal,” ujarnya.

Menurut Prof Budi, ketidaksesuaian peta kawasan hutan dengan kondisi riil masyarakat diperparah oleh keterbatasan ruang budidaya. Ia memaparkan bahwa dari total luas daratan Indonesia sekitar 190 juta hektare, kawasan hutan mencapai 124 juta hektare, sementara Areal Penggunaan Lain (APL) hanya 67 juta hektare.

Baca juga: Bappenas Ingatkan Dampak Ekspansi Sawit yang Terlalu Cepat dan Kesampingkan Keberlanjutan

“Angka 67 juta itu dari tahun 70–80-an, waktu itu penduduk kita 120 juta. Hari ini jumlah penduduk kita 287 juta. Masihkah relevan mempertahankan dua pertiga daratan sebagai kawasan hutan?," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa konflik agraria bersifat sangat sensitif dan berpotensi berkelanjutan jika tidak diselesaikan secara struktural. Sehingga, pemerintah harus segera menyusun kebijakan afirmatif berbasis verifikasi lapangan dan dialog dengan masyarakat.

Penataan agraria harus dilakukan hati-hati, inklusif, dan dengan memperhatikan hak-hak masyarakat lokal.

“Kita semua harus membangun situasi bagaimana kita bisa menyelesaikan ini dengan sebaik-baiknya. Segera membuat solusi afirmatif dengan memperhatikan kepastian, keadilan, dan kemanfaatan. Kalau tidak, persoalan ini akan terus muncul,” pungkasnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Memuat pilihan harga...
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau