Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Arsyad Surya Pradana
Guru

Pembelajar dan Pemerhati Republik Indonesia

Bukan Murka Alam: Melacak Jejak Ecological Tech Crime di Balik Tenggelamnya Sumatra

Kompas.com, 5 Desember 2025, 20:48 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

BANJIR bandang dan tanah longsor yang meluluhlantakkan wilayah Sumatra minggu-minggu ini bukanlah takdir, melainkan sebuah pesan yang mengerikan bahwa kita sedang kalah perang. Bukan perang melawan alam, melainkan perang melawan sebuah bentuk kejahatan baru yang luput dari radar hukum kita: Ecological Tech Crime (Kejahatan Teknologi Ekologis)

Narasi klasik bahwa bencana ini semata akibat "Siklon Tropis Senyar" adalah penyederhanaan yang berbahaya. Hujan mungkin adalah pemicunya, namun kehancurannya diamplifikasi oleh teknologi.

Lihatlah Taman Nasional Tesso Nilo di Riau. Kawasan yang seharusnya menjadi penyangga hidrologis ini telah "dirampok" hingga tersisa kurang dari 20% tutupan hutan aslinya. Perubahan bentang alam sedrastis ini tidak terjadi secara manual. Pelaku menggunakan alat berat (ekskavator), chainsaw modern, dan pemetaan GPS untuk menyulap hutan hujan menjadi perkebunan sawit ilegal dalam skala masif dan waktu singkat.

Teknologi di sini bertindak sebagai akselerator kiamat ekologis. Mesin-mesin ini mempercepat laju air larian (run-off) ke sungai hingga berkali-kali lipat lebih cepat dibanding kemampuan tanah menyerap air. Akibatnya, saat hujan turun, air tidak lagi meresap, melainkan menerjang pemukiman sebagai banjir bandang.

Penebangan presisi di hutan Batang Toru adalah bukti lain bahwa kerusakan alam kini telah terindustrialisasi bukan lagi penebangan tradisional oleh warga.

Namun, tragedi ini juga menyingkap "dosa" lainnya, yaitu pembiaran negara. Di era di mana satelit dapat memantau deforestasi secara real-time, ketidaktahuan pemerintah adalah sebuah kemustahilan. Ini adalah bagian dari State-Facilitated Corporate Crime kejahatan korporasi yang difasilitasi oleh diamnya negara.

Tidak mungkin deforestasi sebanyak 257.384 hektar pada 2023 yang melingkupi 31 taman nasional, 45 cagar alam, dan 26 suaka margasatwa tidak terlihat. Pemerintah saja yang tutup mata akan keberadaannya.

Jika hukum Indonesia saat ini tumpul menghadapi fenomena ini, kita tidak perlu bingung mencari solusinya. Dunia internasional telah menyediakan preseden hukum yang bisa dan harus segera kita adopsi.

Baca juga: WALHI Tantang Menhut Raja Juli Tegas Usai Main Domino dengan Eks Tersangka Pembalak Liar

Pertama, Kriminalisasi Manipulasi Data

Kita sering mendengar alasan "secara administrasi izinnya lengkap" atau "menurut laporan konsultan, area itu aman." Alibi semacam ini runtuh jika kita melihat penanganan kasus jebolnya Bendungan Brumadinho di Brazil (2019). Bencana yang menewaskan 270 orang itu terjadi karena auditor keamanan memanipulasi data sensor digital agar bendungan terlihat stabil di atas kertas.

Brazil merespons dengan tegas. Mereka tidak menyebutnya "musibah", melainkan pembunuhan. Pengadilan menjatuhkan denda US$ 7 miliar kepada korporasi (Vale) dan memidana auditor yang memalsukan data tersebut.

Relevansinya untuk Sumatra sangat telak. Banyak izin tambang dan properti di zona merah bencana kita terbit berdasarkan dokumen AMDAL dan peta tata ruang digital yang dimanipulasi (Digital Zoning Fraud). Indonesia harus mengadopsi standar hukum Brazil: Jadikan manipulasi data lingkungan sebagai tindak pidana berat. Konsultan atau pejabat yang "menyulap" data zona merah menjadi hijau dalam sistem perizinan harus diadili setara dengan pelaku perusakan fisik.

Baca juga: Kata Menhut Raja Juli soal Main Domino Bareng Tersangka Pembalak Liar

Kedua, Transparansi Tanpa Kompromi.

Selain Brazil, kita bisa menengok Uni Eropa yang baru saja menerapkan EU Deforestation Regulation (EUDR). Aturan ini mewajibkan setiap komoditas memiliki data geolokasi (koordinat GPS) yang presisi. Jika sebuah perusahaan tidak bisa membuktikan secara digital bahwa sawit atau kayunya bukan berasal dari hutan lindung, produknya ilegal.

Bayangkan jika standar ini diterapkan di Sumatra. Pemerintah seharusnya mewajibkan "Digital Traceability" bagi seluruh alat berat yang beroperasi. Setiap ekskavator wajib memiliki GPS aktif yang terhubung ke server penegak hukum. Jika alat itu bergerak ke koordinat hutan lindung, sistem akan memberi peringatan, dan jika diabaikan, pemiliknya dipidana.

Teknologinya sudah ada. Yang tidak ada adalah kemauan politik (political will) untuk menerapkannya, karena transparansi adalah musuh bagi mafia sumber daya alam.

Baca juga: Aktivis Ingatkan Penggundulan Hutan di Jambi untuk Tambang Ilegal: Bencana Bisa Lebih Besar dari Sumut

Ketiga, Menuntut Tanggung Jawab Mutlak (Strict Liability)

Dalam hukum lingkungan modern, kita mengenal asas Strict Liability atau Tanggung Jawab Mutlak atau merupakan pertanggungjawaban tanpa kesalahan atau dikenal dengan istilah liability without fault. Artinya, jika terjadi bencana di wilayah konsesi perusahaan, jaksa tidak perlu lagi pusing membuktikan "niat jahat" atau kelalaian direksi.

Fakta bahwa (1) perusahaan beroperasi di sana, dan (2) bencana terjadi menyebabkan kerugian, sudah cukup untuk memaksa perusahaan membayar ganti rugi penuh dan pemulihan ekologis.

Asas ini sudah ada di UU PPLH kita (Pasal 88), namun penerapannya masih sangat minim dan seringkali kalah di pengadilan oleh dalih "bencana alam".

Kita harus mendesak Mahkamah Agung untuk menerbitkan pedoman bahwa dalam kasus bencana hidrometeorologi di wilayah konsesi, beban pembuktian harus dibalik (reverse burden of proof): Perusahaanlah yang harus membuktikan bahwa mereka tidak bersalah, bukan sebaliknya.

Terakhir, Puing-puing rumah di pesisir Sumatra dan lumpur yang menimbun jalanan adalah "Tempat Kejadian Perkara" (TKP). Ini adalah bukti kegagalan kita mengendalikan sisi gelap teknologi ekstraktif. Indonesia tidak perlu menciptakan roda baru. Instrumen hukum dari Brazil, Eropa, hingga Amerika (Lacey Act) sudah tersedia sebagai rujukan.

Pilihan kini ada di tangan pemerintah: Terus bersembunyi di balik narasi "takdir Tuhan", atau mulai mengadopsi hukum progresif untuk menyeret para penjahat teknologi ekologis ini ke pengadilan. Sumatra butuh keadilan, bukan sekadar bantuan sembako.

Baca juga: Pemerintah Bakal Telusuri Pembalak Liar yang Bikin Banjir Sumatera

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Pemerintah
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
Pemerintah
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
LSM/Figur
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
LSM/Figur
Asia ESG Summit Dorong Akuntabilitas Perusahaan di Dunia Nyata
Asia ESG Summit Dorong Akuntabilitas Perusahaan di Dunia Nyata
Swasta
Menteri LH Baru: Pemerintah Berhutang pada Gen Z
Menteri LH Baru: Pemerintah Berhutang pada Gen Z
Pemerintah
Ada Kesenjangan Kesadaran Hadapi Krisis Iklim antara Laki-laki dan Perempuan
Ada Kesenjangan Kesadaran Hadapi Krisis Iklim antara Laki-laki dan Perempuan
LSM/Figur
Meta Nyalakan Pusat Data di Malam Hari dengan Energi Surya dari Luar Angkasa
Meta Nyalakan Pusat Data di Malam Hari dengan Energi Surya dari Luar Angkasa
Pemerintah
Atasi Tantangan Pembangunan Nasional, PFI Dorong Perkuat Peran Filantropi
Atasi Tantangan Pembangunan Nasional, PFI Dorong Perkuat Peran Filantropi
Pemerintah
Perlu Riset Interdisipliner untuk Temukan Solusi Adaptasi Iklim
Perlu Riset Interdisipliner untuk Temukan Solusi Adaptasi Iklim
LSM/Figur
Peringatan Hari K3 dan May Day, Buruh Soroti Potensi Penyakit akibat Asbes
Peringatan Hari K3 dan May Day, Buruh Soroti Potensi Penyakit akibat Asbes
Swasta
FIF Group Kukuhkan 37 Guru SMK se-Indonesia sebagai Duta Literasi Keuangan
FIF Group Kukuhkan 37 Guru SMK se-Indonesia sebagai Duta Literasi Keuangan
Pemerintah
Teknologi AI-IoT Bantu Mitigasi Banjir Rob di Pantura Jateng, Peran Perempuan Jadi Kunci
Teknologi AI-IoT Bantu Mitigasi Banjir Rob di Pantura Jateng, Peran Perempuan Jadi Kunci
LSM/Figur
Inggris Masukkan Sektor Aviasi dan Maritim ke Anggaran Karbon
Inggris Masukkan Sektor Aviasi dan Maritim ke Anggaran Karbon
Pemerintah
Kisah Petani Tambak Bisa Produksi Garam, Rumput Laut, Air Minum, dan Listrik Sekaligus
Kisah Petani Tambak Bisa Produksi Garam, Rumput Laut, Air Minum, dan Listrik Sekaligus
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau