Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3 Skenario ATR/BPN Selesaikan Lahan Masyarakat Diklaim Kawasan Hutan

Kompas.com, 19 Desember 2025, 19:35 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) akan menyelesaikan konflik lahan-lahan masyarakat yang diklaim sebagai kawasan hutan berdasarkan tiga skenario.

Pertama, konflik agraria dengan sertifikat tanah telah terbit, tapi kemudian diklaim sebagai kawasan hutan. Bila terjadi skenario ini dan jika sertifikat tanah telah terbit, Kementerian ATR/BPN akan memenangkannya.

Baca juga:

Kedua, konflik agraria dengan kawasan hutan sudah ditetapkan dan sertifikat tanah muncul belakangan. 

Bila terjadi skenario ini dan jika data klaim kawasan hutan solid dan benar, Kementerian ATR/BPN akan membatalkan sertifikat tanah.

Ketiga, konflik agraria belum bersertifikat, yang sudah dihuni masyarakat sebelum diklaim kawasan hutan. Dalam skenario ini, keputusan akan diambil berdasarkan uji kelayakan dan mempertimbangkan aspek ekologi dan kepentingan masyarakat.

Kalau tidak menimbulkan konflik sosial atau mengganggu ekosistem, kemungkinan keputusan politik dan rekomendasinya melepaskan status kawasan hutannya.

Baca juga:

Bagaimana dengan Taman Nasional Tesso Nilo?

Berisiko dikembalikan menjadi taman nasional 

Foto Taman Nasional Tesso Nilo dari Tahun 2025.Tangkapan layar Google Earth Foto Taman Nasional Tesso Nilo dari Tahun 2025.

Kalau masyarakat mengganggu ekosistem dan "menduduki" lahan dengan tidak melalui proses yang benar, risikonya akan dikembalikan menjadi kawasan hutan.

Hal tersebut bisa dilihat dari kasus Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau, yang mana banyak orang mengetahui bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan hutan dan tetap mengalihfungsikan lahannya menjadi perkebunan kelapa sawit.

Bahkan, kawasan hutan di Taman Nasional Tesso Nilo hanya tersisa 14.000 hektar dari luas definitif sekitar 83.000 hektar.

"Nah, ini Tesso Nilo, tapi apa pun yang terjadi, kami lanjut kepada seperti itu, kawasan ekologi nasional dan mempunyai PR batas-batasnya tentang hutan, maka itu akan dikembalikan menjadi taman nasional, habitat satwa, gajah-gajah Sumatera itu," ujar Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid di Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Ekspansi perkebunan kelapa sawit di TN Tesso Nilo

Terjadi akibat pembiaran terus-menerus

Anak gajah sumatera yang baru saja lahir bersama induknya bernama Yulia di Taman Nasional Way Kambas Lampung, Jumat (5/12/2025).Dok. ANTARA/HO-Kemenhut Anak gajah sumatera yang baru saja lahir bersama induknya bernama Yulia di Taman Nasional Way Kambas Lampung, Jumat (5/12/2025).

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Sawit Watch, Achmad Surambo mengatakan, ekspansi perkebunan kelapa sawit baik di dalam maupun di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo dapat terjadi akibat pembiaran secara terus-menerus. 

Surambo menganggap pengusiran masyarakat lokal yang tinggal dalam atau sekitar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo hanya akan sekadar memindahkan permasalahan tanpa adanya upaya penyelesaian.

Menurut Surambo, jalan penyelesaian permasalahan tersebut hanya dengan mengajak masyarakat lokal berdialog melalui pendekatan hak asasi manusia (HAM).

Dengan demikian, perlu mengajak memosisikan gajah sumatera dan harimau sumatera sebagai spesies kunci yang penting.

Ia berharap, masyarakat lokal dapat bisa hidup berdampingan dengan gajah sumatera dan harimau sumatera.

Oleh karena itu, perlu pula penataan ruang di sekitar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, termasuk untuk mengakomodasi koridor atau wilayah jelajah gajah sumatera dan wilayah jelajah harimau sumatera.

"Penting sekarang menata ruang, membuat komitmen-komitmen dengan masyarakat. Jangan (di)lihat hanya Taman Nasional. Jangan sampai orang melihat ya karena yang lemah itu masyarakat, sehingga mohon maaf, digusur-gusur itu," tutur Surambo kepada Kompas.com, Selasa (25/11/2025).

Baca juga: 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau