Penulis
KOMPAS.com - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyampaikan, pemulihan habitat di Taman Nasional Tesso Nilo di Kabupaten Pelalawan, Riau, ini akan terus berjalan.
Pada tahap awal, restorasi ditetapkan di area seluas 31.000 hektar, yang nantinya meluas menjadi 80.000 hektar, guna menjaga kehidupan satwa liar, termasuk gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus).
Baca juga:
"Proses restorasi Taman Nasional Tesso Nilo terus dilakukan. Kita terus bekerja untuk memastikan Domang dan kawan-kawan rumahnya tidak diganggu dan mereka bisa hidup di alam bebas," kata Menhut Raja Juli, dilansir dari Antara, Senin (1/12/2025).
Adapun Domang adalah gajah kecil di Taman Nasional Tesso Nilo yang menjadi viral di media sosial beberapa waktu lalu.
"Insyaallah sesegera mungkin sudah dimulai, Pak Wamen (Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki) kemarin sudah tiga minggu yang lalu sudah memulai proses restorasi kawasan Tesso Nilo, rencananya 511 hektar. Kemarin saya juga Insyaallah sudah ada komitmen tujuh ribuan lagi yang akan ditanam," tutur Menhut Raja Juli.
"Insyaallah di 31.000 ini dulu nih yang kita restorasi jadi fokus utama, nanti pelan-pelan bisa ke 80.000-an taman nasional seperti yang ada di SK (Surat Keputusan) terakhir," tambah dia.
Namun, apakah luas area tersebut cukup untuk gajah agar bisa hidup aman dan nyaman?
Baca juga:
Anak gajah sumatera, Lela saat bersama induknya, Puja, di PLG Sebanga, Kabupaten Bengkalis, Riau, pada Juli 2025 lalu.Sebagai informasi, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (1/7/2025), laporan Satgas Penertiban Kawasan Hutan mencatat, luas kawasan hutan Taman Nasional Tesso Nilo mengalami penyempitan.
Pada tahun 2014, luasnya mencapai 81.793 hektar. Namun, saat ini hanya tersisa sekitar 12.561 hektar atau 15 persen saja.
Hal tersebut menunjukkan, sekitar 69.000 hektar hutan di kawasan tersebut sudah hilang, serta 40.000 hektar di antaranya berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.
Sementara itu, populasi gajah liar yang tersisa di Taman Nasional Tesso Nilo sekitar 150 ekor, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (25/11/2025).
Meskipun disebut tidak drastis, populasi gajah tetap mengalami penurunan dari tahun 2004 yang berjumlah sekitar 200 ekor.
Terdapat dua kantong gajah sumatera di Taman Nasional Tesso Nilo, tepatnya Tesso Utara yang menjadi lokasi satu kelompok gajah berjumlah sekitar 30 ekor, dan Tesso Tenggara yang menjadi lokasi total 120 ekor gajah yang terbagi dalam tiga sampai empat kelompok.
Penurunan populasi gajah ini, salah satunya disebabkan oleh alih fungsi hutan menjadi perkebunan.
Bicara tentang gajah, terdapat istilah home range atau wilayah jelajah gajah. Luasnya berbeda-beda tergantung kondisi lingkungan di mana satwa tersebut berada, termasuk dari segi ketersediaan air dan pakan.
Sebagai perkiraan kasar, home range kawanan gajah asia sekitar 100 sampai 1.000 kilometer persegi (sekitar 10.000 sampai 100.000 hektar), menurut studi tentang konflik manusia-gajah (human-elephant conflicts atau HET), dilansir dari PeerJ.
Home range ini penting untuk gajah, tidak hanya sebagai area mencari makan dan air, tapi juga untuk berinteraksi, mencari pasangan, dan beristirahat.
Restorasi Taman Nasional Tesso Nilo pada tahap awal sekitar 31.000 hektar memang penting, tapi kemungkinan masih perlu diperluas lagi dan diperlukan riset lebih dalam lagi untuk memastikan keberlanjutan populasi gajah dalam jangka panjang.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya