Selain itu, ada dua jenis burung teridentifikasi yang masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Kedua burung tersebut yaitu betet biasa (Psittacula alexandri) berstatus Near Threatened/NT atau hampir terancam punah, serta burung kerak kerbau (Acridotheres javanicus) berstatus Vulnerable/VU atau rentan terhadap kepunahan.
“Amat penting dilakukan pendataan potensi biodiversitas seperti jenis-jenis burung, amfibi dan reptil sebagai bahan monitoring dan evaluasi untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan di taman tersebut” ujar Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna dalam keterangan tertulis.
Menurut Dolly, keberadaan satwa-satwa liar itu dapat mendukung terjadinya keseimbangan ekosistem di Tebet Eco Park.
Keberadaan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan, seperti Tebet Eco Park, kata dia, juga bisa menjadi laboratorium alam, tempat menimba ilmu bagi pelajar, terutama yang menggeluti bidang biologi.
Kegiatan pendataan dan identifikasi keanekaragaman hayati tersebut dihadiri 70 siswa dari 30 SMA/sederajat di Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya