KOMPAS.com - Tebet Eco Park di Jakarta Selatan disebut menjadi tempat yang cocok untuk kegiatan edukasi pentingnya menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati di kawasan perkotaan.
Adapun taman ini merupakan taman kota terpadu dengan berbagai fasilitas yang mendukung fungsi ekologi, rekreasi, sosial, dan edukasi usai direvitaisasi pada tahun 2021 lalu.
Baca juga:
Setelah menggabungkan taman kota bagian utara dan selatan, Taman Tebet Eco Park memiliki ruang terbuka hijau seluas 7,3 hektar yang berpotensi menjadi habitat berbagai jenis fauna burung, amfibi, dan reptil.
Berdasarkan Dokumen Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Provinsi DKI Jakarta Tahun 2025-2029, sedikitnya 25 jenis burung, dua amfibi, dan tiga reptil yang dijumpai di Taman Tebet Eco Park.
Namun, data-data tersebut perlu dimutakhirkan untuk mengetahui apakah terjadi perubahan populasi masing-masing jenis satwa itu.
Apalagi jenis fauna burung, amfibi, dan reptil menghadapi berbagai ancaman seiring semakin pesatnya pembangunan di perkotaan.
Ancaman tersebut, di antaranya kehilangan habitat, perburuan dan perdagangan ilegal, pencemaran lingkungan, krisis iklim, dan kerusakan ekosistem.
Jenis fauna burung, amfibi, dan reptil berperan penting bagi keberlangsungan suatu ekosistem di perkotaan.
Misalnya, burung mempunyai peran sebagai pembatu dalam penyebaran biji (seeds dispersal). Sementara itu, amfibi dan reptil berperan sebagai pengendali hama alami, seperti serangga hama atau tikus.
Di sisi lain, jenis fauna burung, amfibi, dan reptil dapat menjadi bioindikator yang mencerminkan baik atau tidaknya kualitas lingkungan.
Baca juga:
Suasana Tebet Eco Park, Jakarta Selatan pada Rabu (22/10/2025). Tebet Eco Park menyimpan keanekaragaman hayati perkotaan. Pendataan terbaru menemukan puluhan jenis burung, amfibi, dan reptil. Apa saja?Belantara Foundation bersama Gaia Indonesia, Himpunan Mahasiswa Biologi Helianthus FMIPA, dan Wapalapa Universitas Pakuan mendata dan mengidentifikasi keanekaragaman hayati di Kawasan Tebet Eco Park pada Sabtu (20/12/2025).
Kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan kapasitas generasi muda dalam mendata dan mengidentifikasi keanakaragaman hayati, khususnya jenis fauna burung, amfibi, dan reptil di perkotaan.
Berdasarkan hasil pengamatan pada pukul 07.00 WIB sampai 10.00 WIB, ditemukan 20 jenis burung, satu amfibi, dan delapan reptil.
Terdapat pula satu jenis burung dengan kategori dilindungi yang berhasil teridentifikasi yaitu burung betet biasa (Psittacula alexandri). Jenis burung tersebut masuk kategori dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.
Tebet Eco Park, Jakarta Selatan, diserbu pengunjung untuk menghabiskan waktu saat libur Natal, Rabu (25/12/2024). Tebet Eco Park menyimpan keanekaragaman hayati perkotaan. Pendataan terbaru menemukan puluhan jenis burung, amfibi, dan reptil. Apa saja?Selain itu, ada dua jenis burung teridentifikasi yang masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Kedua burung tersebut yaitu betet biasa (Psittacula alexandri) berstatus Near Threatened/NT atau hampir terancam punah, serta burung kerak kerbau (Acridotheres javanicus) berstatus Vulnerable/VU atau rentan terhadap kepunahan.
“Amat penting dilakukan pendataan potensi biodiversitas seperti jenis-jenis burung, amfibi dan reptil sebagai bahan monitoring dan evaluasi untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan di taman tersebut” ujar Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna dalam keterangan tertulis.
Menurut Dolly, keberadaan satwa-satwa liar itu dapat mendukung terjadinya keseimbangan ekosistem di Tebet Eco Park.
Keberadaan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan, seperti Tebet Eco Park, kata dia, juga bisa menjadi laboratorium alam, tempat menimba ilmu bagi pelajar, terutama yang menggeluti bidang biologi.
Kegiatan pendataan dan identifikasi keanekaragaman hayati tersebut dihadiri 70 siswa dari 30 SMA/sederajat di Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya