Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keanekaragaman Hayati Tebet Eco Park, 20 Jenis Burung hingga Reptil Teridentifikasi

Kompas.com, 22 Desember 2025, 09:30 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tebet Eco Park di Jakarta Selatan disebut menjadi tempat yang cocok untuk kegiatan edukasi pentingnya menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati di kawasan perkotaan.

Adapun taman ini merupakan taman kota terpadu dengan berbagai fasilitas yang mendukung fungsi ekologi, rekreasi, sosial, dan edukasi usai direvitaisasi pada tahun 2021 lalu.

Baca juga:

Setelah menggabungkan taman kota bagian utara dan selatan, Taman Tebet Eco Park memiliki ruang terbuka hijau seluas 7,3 hektar yang berpotensi menjadi habitat berbagai jenis fauna burung, amfibi, dan reptil.

Burung, amfibi, reptil dijumpai di Tebet Eco Park

Berdasarkan Dokumen Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Provinsi DKI Jakarta Tahun 2025-2029, sedikitnya 25 jenis burung, dua amfibi, dan tiga reptil yang dijumpai di Taman Tebet Eco Park.

Namun, data-data tersebut perlu dimutakhirkan untuk mengetahui apakah terjadi perubahan populasi masing-masing jenis satwa itu.

Apalagi jenis fauna burung, amfibi, dan reptil menghadapi berbagai ancaman seiring semakin pesatnya pembangunan di perkotaan. 

Ancaman tersebut, di antaranya kehilangan habitat, perburuan dan perdagangan ilegal, pencemaran lingkungan, krisis iklim, dan kerusakan ekosistem.

Jenis fauna burung, amfibi, dan reptil berperan penting bagi keberlangsungan suatu ekosistem di perkotaan.

Misalnya, burung mempunyai peran sebagai pembatu dalam penyebaran biji (seeds dispersal). Sementara itu, amfibi dan reptil berperan sebagai pengendali hama alami, seperti serangga hama atau tikus.

Di sisi lain, jenis fauna burung, amfibi, dan reptil dapat menjadi bioindikator yang mencerminkan baik atau tidaknya kualitas lingkungan.

Baca juga:

Mendata dan mengidentifikasi satwa di Tebet Eco Park

Ada burung yang dilindungi

Suasana Tebet Eco Park, Jakarta Selatan pada Rabu (22/10/2025). Tebet Eco Park menyimpan keanekaragaman hayati perkotaan. Pendataan terbaru menemukan puluhan jenis burung, amfibi, dan reptil. Apa saja?Kompas.com/Krisda Tiofani Suasana Tebet Eco Park, Jakarta Selatan pada Rabu (22/10/2025). Tebet Eco Park menyimpan keanekaragaman hayati perkotaan. Pendataan terbaru menemukan puluhan jenis burung, amfibi, dan reptil. Apa saja?

Belantara Foundation bersama Gaia Indonesia, Himpunan Mahasiswa Biologi Helianthus FMIPA, dan Wapalapa Universitas Pakuan mendata dan mengidentifikasi keanekaragaman hayati di Kawasan Tebet Eco Park pada Sabtu (20/12/2025).

Kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan kapasitas generasi muda dalam mendata dan mengidentifikasi keanakaragaman hayati, khususnya jenis fauna burung, amfibi, dan reptil di perkotaan.

Berdasarkan hasil pengamatan pada pukul 07.00 WIB sampai 10.00 WIB, ditemukan 20 jenis burung, satu amfibi, dan delapan reptil.

Terdapat pula satu jenis burung dengan kategori dilindungi yang berhasil teridentifikasi yaitu burung betet biasa (Psittacula alexandri). Jenis burung tersebut masuk kategori dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Tebet Eco Park, Jakarta Selatan, diserbu pengunjung untuk menghabiskan waktu saat libur Natal, Rabu (25/12/2024).  Tebet Eco Park menyimpan keanekaragaman hayati perkotaan. Pendataan terbaru menemukan puluhan jenis burung, amfibi, dan reptil. Apa saja?Kompas.com/ Ruby Rachmadina Tebet Eco Park, Jakarta Selatan, diserbu pengunjung untuk menghabiskan waktu saat libur Natal, Rabu (25/12/2024). Tebet Eco Park menyimpan keanekaragaman hayati perkotaan. Pendataan terbaru menemukan puluhan jenis burung, amfibi, dan reptil. Apa saja?

Selain itu, ada dua jenis burung teridentifikasi yang masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). 

Kedua burung tersebut yaitu betet biasa (Psittacula alexandri) berstatus Near Threatened/NT atau hampir terancam punah, serta burung kerak kerbau (Acridotheres javanicus) berstatus Vulnerable/VU atau rentan terhadap kepunahan.

“Amat penting dilakukan pendataan potensi biodiversitas seperti jenis-jenis burung, amfibi dan reptil sebagai bahan monitoring dan evaluasi untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan di taman tersebut” ujar Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna dalam keterangan tertulis.

Menurut Dolly, keberadaan satwa-satwa liar itu dapat mendukung terjadinya keseimbangan ekosistem di Tebet Eco Park.

Keberadaan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan, seperti Tebet Eco Park, kata dia, juga bisa menjadi laboratorium alam, tempat menimba ilmu bagi pelajar, terutama yang menggeluti bidang biologi.

Kegiatan pendataan dan identifikasi keanekaragaman hayati tersebut dihadiri 70 siswa dari 30 SMA/sederajat di Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau