Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Food Estate di Papua Jangan Sampai Ganggu Ekosistem

Kompas.com, 23 Desember 2025, 14:27 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Program food estate di Merauke, Papua Selatan, adalah bagian dari ekstensifikasi atau perluasan lahan pertanian untuk ketahanan pangan nasional.

Progam ini disebut menyasar hutan di Papua karena lahan-lahan produktif yang tersisa di Indonesia hanya dataran-dataran tinggi dengan status hutan lindung dan kawasan konservasi.

Baca juga:

"Food estate itu silakan saja dibuka di mana saja, asalkan ekosistemnya tidak terganggu ya karena rata-rata ekosistem (terganggu) dengan pembukaan lahan, terutama di masyarakat Papua yang dominan makanan sagu," ujar Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Asep Mulyono dalam webinar, Jumat (19/12/2025).

Program food estate disebut bakal mengganggu ekosistem karena tanaman pangan yang ditanam tidak sesuai dengan makanan pokok masyarakat Papua.

Di sisi lain, sebenarnya ada pendekatan intensifikasi atau peningkatan produktivitas lahan pertanian yang sudah tersedia. Apalagi, produktivitas lahan pertanian sudah dapat ditingkatkan dengan teknologi dan bibit unggul. 

"Untuk meningkatkan produktivitas, sekarang banyak teknologi, bibit-bibit yang tahan terhadap kekeringan, tahan dengan cuaca, tahan dengan kekurangan air, itu bisa menunjang (produktivitas), selain (perluasan) lahan," tutur Asep.

Baca juga:

Food estate di Papua disarankan pakai pendekatan argoforestri

Program food estate tak boleh dilakukan di kawasan hulu

Petani saat menggarap lahannya pada lokasi cetak sawah yang berada di Desa Bentuk Jaya, Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, Jumat (27/9/2024).KOMPAS.COM/AKHMAD DHANI Petani saat menggarap lahannya pada lokasi cetak sawah yang berada di Desa Bentuk Jaya, Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, Jumat (27/9/2024).

Sementara itu, Senior Lecturer Facultry of Sustainable Agriculture Universiti Malaysia Sabah, Muhamad Askari menyarankan pendekatan agroforestri jika memang tujuan program food estate untuk ketahanan pangan.

Namun, program food estate tidak boleh dilaksanakan di kawasan hulu.

"Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana supaya membuat rencana (food estate) yang lebih baik, jangan sampai tanpa perencanaan yang baik, jadi musibah," ucapnya.

Dibandingkan program pemerintah berskala besar, seperti food estate, Askari lebih menyarankan memperkuat pertanian berbasis keluarga demi ketahanan pangan nasional.

Tak bisa gantikan fungsi hutan

Program food estate di Papua menuai kritik karena dinilai mengancam hutan dan ekosistem. Ini penjelasan pakar.PIXABAY/RALPH Program food estate di Papua menuai kritik karena dinilai mengancam hutan dan ekosistem. Ini penjelasan pakar.

Kawasan hulu adalah titik air sungai bermula yang terletak di pegunungan atau perbukitan idealnya memang dipertahankan sebagai hutan lindung.

Kalau kawasan hulu dialihfungsikan menjadi lahan pertanian, fungsi hidrologi akan ikut menghilang. 

"Jadi, untuk di kawasan hulu, pasti hutan lindung itu mau tidak mau, kalau bisa jangan diganggu. Mengapa? Kalau ditukar ke kawasan pertanian pun, enggak akan bisa mengambil peranan seperti hutan yang sebelumnya, begitu. Itu yang risikonya paling, artinya kalau kita mau reforestasi atau aforestasi hutan lindung memang sangat diprioritaskan ya," jelas Askari.

Baca juga: Masyarakat Adat Enggros Papua Mulai Budi Daya Ikan Nila di Air Laut

Kawasan petanian, seperti perkebunan kelapa sawit, tidak dapat menggantikan fungsi siklus hidrologi dari hutan di dalam kawasan hulu.

Misalnya, pohon-pohon di hutan, termasuk tanaman penutup tanah, dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air dan memperlambat aliran di atas permukaan untuk mencegah banjir.

Untuk kawasan menengah dan hilir, sebaiknya dikelola melalui sistem agroforestri yang mengintegrasikan wilayah hutan atau pepohonan dengan praktik pertanian berkelanjutan.

Jika kawasan menengah dan hilir sudah ditanami kelapa sawit, kata dia, harus dikelola sesuai praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP). 

Program food estate di Papua menuai kritik karena dinilai mengancam hutan dan ekosistem. Ini penjelasan pakar.canva.com Program food estate di Papua menuai kritik karena dinilai mengancam hutan dan ekosistem. Ini penjelasan pakar.

Namun, pembukaan lahan (land clearing) untuk perkebunan kelapa sawit tetap akan menghilangkan tutupan hutan. Saat usia tanaman kelapa sawit lebih dari lima tahun, kanopinya akan mencegah sinar matahari dan tumbuhan di bawahnya akan mati dengan sendirinya.

"(Perlu) mencari spesies yang toleran dengan kurangnya cahaya untuk ditanam di permukaan tanah (di sekitar) sawit yang sudah kehilangan legium aslinya (tanaman legum cover crop atau tanaman penutup tanah dari jenis legum yang dibudidayakan di perkebunan kelapa sawit)," tutur Askari.

Padahal, tanaman penutup tanah penting untuk mengurangi limpasan air karena memperlambat aliran permukaan dan meningkatkan infiltrasi.

Baca juga: PSN Merauke Dikritik Picu Deforestasi, Pemerintah Bilang Siap Reforestasi

Program food estate di Papua menuai kritik karena dinilai mengancam hutan dan ekosistem. Ini penjelasan pakar.canva.com Program food estate di Papua menuai kritik karena dinilai mengancam hutan dan ekosistem. Ini penjelasan pakar.

Sebelumnya, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economic & Finance (INDEF), Rizal Taufikurahman menilai, kebijakan sektor pertanian dengan pendekatan top down, yang dimulai dari instruksi langsung oleh presiden atau pemerintah pusat tanpa banyak melibatkan partisipasi masyarakat di daerah, pelaksanaannya cenderung tidak selaras dengan tujuan awal. 

Menurut Rizal, proyek-proyek yang bersifat top down, seperti korporasi petani atau food estate, pelaksanaannya kerap tidak selaras dengan arah kebijakannya.

"Pendekatan-pendekatan seperti ini sifatnya administratif, mestinya didorong ke dalam pendekatan bottom up (dimulai dari aspirasi di tingkat akar rumput) untuk institutional empowerment (pemberdayaan kelembagaan) ya," ucap Rizal dalam webinar beberapa hari lalu.

"Karena kalau kita bicara kelembagaan yang bersifat semu kesannya, bukan hasil atau kebutuhan konsolidasi ekonomi leveling di bawah, tetapi berbasis pada kepentingan proyek yang sifatnya top down, maka sering kali implementasi dan instrumennya menjadi tidak pas sehingga tadinya itu dianggap sebagai insentif bagi petani, tapi ternyata tidak ter-deliver (tersampaikan)," tambah dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
BUMN
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal
LSM/Figur
65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
LSM/Figur
Pemerintah Bakal Bangun 5 PSEL Juni 2026, Olah 7.000 Ton Limbah Jadi Listrik
Pemerintah Bakal Bangun 5 PSEL Juni 2026, Olah 7.000 Ton Limbah Jadi Listrik
Pemerintah
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Pemerintah
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Pemerintah
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Swasta
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
LSM/Figur
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
LSM/Figur
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Swasta
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
LSM/Figur
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
LSM/Figur
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Pemerintah
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Swasta
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau