Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PSN Papua, Menteri ATR Nusron Wahid Singgung Swasembada Pangan Butuh Perluasan Lahan

Kompas.com, 20 Desember 2025, 10:35 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid mengatakan, pihak-pihak yang menolak rencana swasembada pemerintah di Papua bermaksud mendukung impor pangan.

"Dan bangsa itu akan bertahan, jika salah satunya ketahanan pangannya tercukupi. Jika menolak ketahanan pangan, berarti bisa mendukung impor," ujar Nusron di Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Baca juga: 

Nusron menambahkan, pemerintah akan mengajak berdialog pihak-pihak yang menolak cetak sawah melalui Program Strategis Nasional (PSN) di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

“Kalau memang ada yang menolak, ya nanti tugas pemerintah melakukan dialog yang sama yang menolak," ucap dia.

Menteri ATR/BPN Nusron Wahid jelaskan urgensi swasembada 

Pertambahan jumlah penduduk perlu diiringi ekstensifikasi lahan pertanian

Menteri ATR Nusron Wahid menyampaikan, pihak-pihak yang menolak rencana swasembada pemerintah di Papua bermaksud mendukung impor pangan.Freepik/zirconicusso Menteri ATR Nusron Wahid menyampaikan, pihak-pihak yang menolak rencana swasembada pemerintah di Papua bermaksud mendukung impor pangan.

Menurut Nusron, kenaikan jumlah penduduk Indonesia perlu diiringi dengan ekstensifikasi atau perluasan lahan pertanian guna memasok kebutuhan pangan. Hal itu khususnya perluasan lahan sawah karena beras menjadi makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia.

"Terus kita, kalau enggak nyetak sawah nanti, makan apa kita? Terus kalau tidak nanti kalau makan, kan kita selama ini makanan pokok kita beras. Nah, kalau kemudian enggak ada sawahnya, kan (beras) dicetak di sawah," tutur Nusron.

Ia menekankan urgensi swasembada sebagai program prioritas bangsa Indonesia. Jika produksi beras tidak tercukupi seiring kenaikan jumlah penduduk Indonesia, impor akan menjadi pilihan, yang pada akhirnya dapat menimbulkan kritik.

"Kalau sawahnya enggak cukup, manusianya nambah, mau enggak mau berarti produksi berasnya enggak cukup. Kalau tidak cukup berarti impor. Kalau nanti impor, wartawan kritik lagi, bahwa impor kita tinggi. Nah, terus kita disuruh, disuruh ngapain? Disuruh impor terus gitu," ujar Nusron.

Baca juga:

Asta Cita butuh lahan

Menteri ATR Nusron Wahid menyampaikan, pihak-pihak yang menolak rencana swasembada pemerintah di Papua bermaksud mendukung impor pangan.DOK. Kementan Menteri ATR Nusron Wahid menyampaikan, pihak-pihak yang menolak rencana swasembada pemerintah di Papua bermaksud mendukung impor pangan.

Sebagai program prioritas Presiden Prabowo Subianto, Asta Cita mengamanatkan swasembada pangan dan energi sebagai pilar penting ketahanan nasional.

Program swasembada pangan dan energi tersebut membutuhkan lahan. Namun, lahan persawahan di Indonesia telah tergerus pembangunan perumahan dan industri, yang menyebabkannya secara eksisting tidak sanggup memenuhi kebutuhan pangan nasional.

"Lahan (untuk produksi beras) pasti di sawah karena pangan tidak mungkin ditanam di atas ruang angkasa, betul kan? Nah, karena itu sawah harus dipertahankan," tutur Nusron.

Selain itu, model swasembada bioenergi memerlukan lahan pertanian berskala luas untuk ditanami sawit, singkong, jagung, dan kedelai. 

"Kalau kita ingin swasembada energi, mengandalkan minyak fosil dan gas sudah tidak mungkin. Karena apa? Kandungannya sudah berkurang. Karena itu, Bapak Presiden ekspansi ke dalam bioenergi," ucap dia.

Baca juga: PSN di Merauke Picu Invasi Sosio-Ekologis, Hutan dan Budaya Terancam

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Franky Samperante mengatakan, masyarakat setempat tidak pernah dilibatkan dalam konsultasi atau mendapatkan informasi memadai terkait PSN (Proyek Strategis Nasiona) di Merauke.

Franky menilai, pemerintah tidak menjalankan prinsip persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan (FPIC).

"Lokasi-lokasi yang menjadi proyek cetak sawah baru dan proyek perkebunan tebu adalah tanah-tanah wilayah adat yang dimiliki oleh masyarakat adat Malind Anim, yang sudah sejak lama tinggal disitu. Jadi, bisa dipastikan genocide (genosida) akan terjadi di tempat-tempat ini. Bukan hanya lewat proyek-proyek pembangunan, tapi kedatangan banyak orang ke situ dengan berbagai macam latar belakang budaya, sosial, dan ekonomi," tutur Franky dalam webinar, Kamis (9/10/2025).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Proyek Energi Surya dan Angin Melambat Tahun 2025
Proyek Energi Surya dan Angin Melambat Tahun 2025
LSM/Figur
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
LSM/Figur
 IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
Pemerintah
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
LSM/Figur
Wujudkan 'Green Mining', PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
Wujudkan "Green Mining", PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
BUMN
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Swasta
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
LSM/Figur
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
LSM/Figur
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Pemerintah
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
LSM/Figur
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
Pemerintah
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
LSM/Figur
Produktivitas Kelapa Sawit Indonesia Kalah dari Malaysia, Mengapa?
Produktivitas Kelapa Sawit Indonesia Kalah dari Malaysia, Mengapa?
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 16 Februari 2026
BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 16 Februari 2026
Pemerintah
Terbukti Picu Kematian Pesut Mahakam, Operasional Perushaan Dihentikan
Terbukti Picu Kematian Pesut Mahakam, Operasional Perushaan Dihentikan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau