Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Guru Besar IPB Soroti Pembalakan liar di Balik Bencana Banjir Sumatera

Kompas.com, 25 Desember 2025, 12:58 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Guru Besar sekaligus Kepala Pusat Studi Bencana (PSB) IPB University, Bambang Hero Saharjo menyoroti pembalakan liar yang menjadi pemicu banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat akhir November 2025 lalu.

Berdasarkan data, tampak kawasan hutan dibuka, menyebabka air hujan langsung mengalir deras ke area di bawahnya tanpa penahan alami. Hal ini dibuktikan dengan temuan gelondongan kayu berbagai ukuran yang ikut terseret banjir salah satuny di enam lokasi Sumatera Utara.

"Terdapat gelondongan kayu ya yang terdampar dan memenuhi sungai, anak sungai, dan pantai yang terdiri dari berbagai jenis kayu yang berkulit dan tidak berkulit," ujar Bambang dalam webinar LRI Talk 3, Rabu (24/12/2025).

Baca juga: Banjir Aceh Disebut Jadi Dampak Deforestasi, Tutupan Hutan Sudah Kritis Sejak 15 Tahun Lalu

"Ada yang tersangkut terangkut dengan akarnya. ada yang sudah terpotong dengan ukuran tertentu bahkan ada yang sudah diberi nomor pada lokasi bekas tebangannya," imbuh dia.

Di samping itu, Bambang mencatat kawasan hutan dan areal penggunaan ain (APL) lebih terbuka karena tajuk sudah tidak tertutup, serta saling bersambung satu sama lain. Dia menyebutkan bahwa kondisi serupa ditemukan secara sporadis pada bidang miring, di mana masih terdapat pohon yang masih berdiri.

"Yang ketiga adalah tampak jejak kayu terbawa arus yang kencang dari daerah yang relatif miring," tutur Bambang.

Dari kondisi tersebut, Bambang lantas mempertanyakan mengapa tajuk pohon tampak terbuka pada kawasan yang berhutan, terdapat wilayah berpohon di daerah dengan kemirikan lereng curam dengan area sekitar telah terbuka.

Selain itu, terdapat pohon bekas tebangan seperti bekas kergaji dengan mesin pemotong, pohon yang terangkut dengan akar-akarnya, dan mempertanyakan penemuan kayu bernomor.

Baca juga: Menteri LH Sebut 4,9 Juta Hektar Lahan di Aceh Rusak akibat Banjir

"Dapat dipastikan di balik bencana banjir dan longsor atau ada juga yang menyebutkannya sebagai bencana hidrometeorologi, maka terdapat kegiatan manusia yang berada di baliknya. Apakah kegiatan tersebut sengaja dilakukan ataupun akibat kelalaian," ucap Bambang.

Akibat aktivitas ilegal ditambah hujan deras di tiga provinsi Sumatera, terjadilah bencana yang memakan korban jiwa. Ratusan warga juga masih dinyatakan hilang. Tak hanya itu, infrastuktur dan permukiman ikut hancur karena banjir dan tanah longsor.

"Bukan berarti bahwa yang berada di balik terjadinya kejadian tersebut dapat dibiarkan hidup bebas. Namun, mereka harus tetap bertanggung jawab dan tidak bisa berlindung di balik kejahatan tersebut," jelas dia.

Kejadian Serupa

Bambang mengaku, sempat menangani kasus pembalakan liar di Taman Nasional Gunung Leuser, Sumatera Utara. Hutan lindung yang sebelumnya tertutup pohon mulai terbuka karena penebangan ilegal.

Para penebang, menyeleksi setiap kayu dengan diameter yang besar berukuran sekitar 80 sentimeter dan panjang tertentu.

"Berhari-hari mereka melakukan kegiatan penebangan. Setelah mereka melakukan penbangan, mendapatkan kayu dan sebagainya, mereka mulai mengatur," sebut dia.

Kayu-kayu yang dianggap tak bernilai ditinggal begitu saja. Kasus lainnya di Bukit Suligi, Rokan Hulu, Riau, di mana dia menemukan pembukaan hutan lindung secara ilegal. Kala itu, terjadi kebakaran besar di lokasi tersebut.

Bambang menekankan bahwa masifnya pembukaan lahan untuk pemukiman, pertanian, dan perekomonian melepaskan cadangan karbon ke atmosfer. Sehingga konsentrasi karbon dioksida terus meningkat dan menjadikan bumi bertambah panas akibat pemanasan global.

"PBB mendefinisikan ancaman hidrometeorologi sebagai sebuah proses atau fenomena darat atmosferik, hidrologis atau oceanapis yang pada dasarnya dapat menyebabkan kehilangan nyawa, luka-luka atau dampak kesehatan lainnya. Kerusakan properti, kehilangan mata pencarian dan pelayanan, gangguan sosial ekonomi atau kerusakan lingkungan," beber Bambang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau