Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

TPST 74 Ton di IKN Disiapkan untuk Antisipasi Pertumbuhan Populasi

Kompas.com, 1 Januari 2026, 19:08 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) berkapasitas 74 ton per hari disiapkan untuk mendukung pertumbuhan hunian dan populasi di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Ibu Kota Nusantara (KIPP IKN). Lokasinya di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. 

"TPST 1 KIPP telah disiapkan untuk mendukung pertumbuhan hunian dan populasi di IKN," kata Manajer PT Bina Karya untuk Operation & Maintenance (OM) TPST 1, Harun, dilansir dari Antara, Kamis (1/1/2026). 

Baca juga:

Harun menambahkan, kapasitas TPST yang mencapai 74 ton juga diproyeksikan menjadi rujukan pengelolaan sampah berbasis energi di tingkat nasional.

TPST berkapasitas 74 ton di IKN

Dirancang sebagai fasilitas pengelolaan sampah terpadu

Otorita IKN menyiapkan TPST 74 ton per hari untuk mendukung pertumbuhan hunian dan populasi di KIPP IKN.UNSPLASH/JOHN CAMERON Otorita IKN menyiapkan TPST 74 ton per hari untuk mendukung pertumbuhan hunian dan populasi di KIPP IKN.

TPST 1 KIPP dirancang sebagai fasilitas pengelolaan sampah terpadu. Sistemnya menggabungkan proses pemilahan, pengurangan kadar air, serta pengolahan berbasis teknologi termal.

Fasilitas ini diproyeksikan menjadi percontohan nasional dalam pengelolaan sampah modern yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Dalam operasionalnya, pengelolaan sampah dilakukan melalui dua bangunan utama. Bangunan tersebut adalah bangunan pengelolaan atau BP 1 dan BP 2.

Di dalamnya terdapat sistem pengolahan fisika dan pengolahan termal. Seluruh proses dirancang untuk memastikan sampah dapat diolah secara optimal sebelum masuk ke tahap konversi energi.

Harun menjelaskan bahwa kapasitas desain awal TPST 1 KIPP mampu mendukung pengolahan hingga dua kali 30 ton sampah per hari.

Kapasitas ini dicapai melalui inovasi teknologi daur ulang sampah menjadi energi atau waste to energy. Teknologi tersebut menjadi kunci dalam mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan manfaat tambahan berupa energi.

Seiring bertambahnya hunian dan populasi di IKN, TPST 1 KIPP dinilai siap menghadapi kebutuhan pengelolaan sampah yang terus meningkat.

Sistem waste to energy yang diterapkan diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan sampah ramah lingkungan. Model ini juga diharapkan dapat diterapkan di berbagai kota besar di Indonesia.

Pengelolaan fasilitas TPST 1 KIPP mengacu pada Keputusan Kepala Otorita IKN.

Dalam keputusan tersebut, Direktorat Pengelolaan Gedung, Kawasan, dan Perkotaan (PGKP) memiliki tugas melakukan pengelolaan, supervisi, serta pengendalian operasional fasilitas.

Sementara itu, PT Bina Karya menjalankan fungsi sebagai pelaksana teknis.

Baca juga:

TPST 1 KIPP IKN dirancang melibatkan penduduk sekitar

Otorita IKN menyiapkan TPST 74 ton per hari untuk mendukung pertumbuhan hunian dan populasi di KIPP IKN.PIXABAY/STEFAN SCHWEIHOFER Otorita IKN menyiapkan TPST 74 ton per hari untuk mendukung pertumbuhan hunian dan populasi di KIPP IKN.

Project Officer Direktorat PGKP untuk Operation & Maintenance TPST 1, Alifriyanto, menyampaikan bahwa pengoperasian TPST membawa dampak luas untuk kawasan IKN.

Dampak tersebut dinilai tidak hanya dirasakan di sektor lingkungan. Keberadaan TPST juga berkontribusi terhadap keberlanjutan kesejahteraan masyarakat sekitar.

TPST 1 KIPP IKN dirancang dengan melibatkan penduduk di sekitar kawasan IKN sebagai tenaga kerja. Masyarakat sekitar disebut memperoleh manfaat langsung dari pembangunan dan pengoperasian fasilitas tersebut.

Selain itu, fasilitas TPST juga diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat secara bertahap. Perubahan ini terutama terkait dengan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.

"Inovasi teknologi daur ulang sampah menjadi energi komitmen IKN mendukung keberlanjutan lingkungan, mengubah sampah menjadi sumber energi bagi kehidupan masyarakat dan menghadirkan layanan dasar yang andal, ramah lingkungan, serta berkelanjutan di IKN," jelas Alifriyanto.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
LSM/Figur
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau